Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bendera Uni Eropa dan sebuah Inggris yang dipegang oleh seorang demonstran saat menggelar aksi di depan Elizabeth Tower (Big Ben) dan Gedung Parlemen di London, Inggris, pada 25 Maret 2017. ( Foto: Daniel Leal-Olivas / AFP )

Bendera Uni Eropa dan sebuah Inggris yang dipegang oleh seorang demonstran saat menggelar aksi di depan Elizabeth Tower (Big Ben) dan Gedung Parlemen di London, Inggris, pada 25 Maret 2017. ( Foto: Daniel Leal-Olivas / AFP )

Aturan Sumber Asal Membingungkan Pebisnis Inggris

Senin, 11 Januari 2021 | 06:25 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Para pebisnis Inggris mendapati bahwa mereka sekarang harus membayar bea ekspor barang tujuan Uni Eropa (UE), sekalipun kesepakatan yang dicapai pemerintah Inggris dan UE akhir tahun lalu adalah perjanjian perdagangan bebas.

Perkembangan terbaru ini turut menganggu arus perdagangan, yang semakin besar memasuki awal tahun ini, setelah Inggris resmi berpisah dari UE pada 31 Desember 2020. Aturan itu sudah berakibat pada merosotnya arus kargo ke Irlandia.

Selain itu, arus perdagangan terganggu oleh pembatasan-pembatasan perbatasan terkait pengendalian Covid-19. Para pengemudi truk peti kemas harus menjalani tes Covid-19, seiring pemerintah berupaya keras meredam penyebaran varian baru virus tersebut.

Masalah utama yang dihadapi para pengusaha Inggris dari kesepakatan Brexit, yang berlaku sejak 1 Januari 2021, itu adalah yang disebut persyaratan sumber asal. Yang berlaku terhadap seluruh barang tujuan UE.

Aturan sumber asal, yang merupakan aspek kunci pada setiap perjanjian perdagangan besar, dapat menimbulkan biaya besar bagi para pengusaha.

Berdasarkan kesepakatan Brexit, setiap barang akan dikenai bea masuk jika barang itu tiba di Inggris dari luar negeri, lalu diekspor kembali ke UE.

Misalnya, jika peritel pakaian Inggris mengimpor tekstil buatan Tiongkok, harus membayar bea jika diekspor kembali ke negara anggota UE. Singkatnya, aturan itu menentukan apakah ekspor itu adalah barang buatan Inggris atau bukan.

“Jelas banyak pebisnis Inggris yang mengekspor barang ke UE akan terkena tarif. Para pebisnis sama sekali tidak tahu dengan bagian sumber asal dalam kesepakatan itu, yang membuat mereka sangat tidak kompetitif kalau mengekspor ke UE,” kata Michelle Dale, manajer senior akuntan UHY Hacker Young.

Pada saat yang sama, para pengusaha Inggris tidak disiapkan untuk menghadapi situasi itu. Karena butuh waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan rantai pasokan yang efektif, pemakaian pemasok non-UE adalah pilihan terbaik dari sisi biaya dan kualitas.

Sementara perjanjian Brexit memberikan bea nol persen jika setidaknya 50% komponen produk yang diekspor dibuat di Inggris. Hal ini berlaku untuk mayoritas ekspor Inggris, tapi tidak semua.

Sementara aturan ini sangat penting karena lebih dari separuh perdagangan Inggris adalah ke tujuan-tujuan di UE.

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN