Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mantan perdana menteri Australia John Howard. ( Foto: Ryan Pierse / Getty Images )

Mantan perdana menteri Australia John Howard. ( Foto: Ryan Pierse / Getty Images )

Australia dan Tiongkok Harus Temukan Kesamaan

Kamis, 17 September 2020 | 07:46 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

SINGAPURA, investor.id – Mantan perdana menteri John Howard mengatakan bahwa Australia dan Tiongkok harus menemukan kesamaan di antara perbedaan. Ini dikarenakan hubungan ekonomi antara kedua negara adalah suatu hal yang penting.

“Hubungan ekonomi antara Australia dan Tiongkok sangat penting. Adanya ketegangan dalam hubungan itu harus diperhatikan,” ujar Howard, yang menjabat sebagai perdana menteri Australia sejak 1996 hingga 2007, pada Rabu (16/9) di sela-sela Singapore Summit.

Seperti diberitakan sebelumnya, hubungan antara kedua negara itu sedang diwarnai ketegangan setelah Tiongkok meluncurkan penyelidikan atas beberapa impor minuman anggur dari Australia pada bulan lalu, yang diikuti oleh tindakan terhadap impor komiditas lainnya.

“Saya tentu tidak memikirkan dengan cara apa pun Australia harus menyerah pada pada hubungannya dengan Tiongkok. Mereka sangat penting bagi kami. Ekspor komoditas kami, seperti bijih besi, batu bara dan sejenisnya sangat penting bagi perekonomian Australia,” kata Howard, yang dikutip oleh CNBC.

Selain itu, Tiongkok merupakan salah satu mitra dagang utama Australia, yang memiliki kekuatan ekonomi Asia untuk membeli sebagian besar produk komoditas yang diproduksi di kawasan Australia (Down Under).

Sebagai informasi, kecenderungan menurun dalam hubungan Tiongkok-Australia dipicu oleh seruan Pemerintah Canberra untuk melakukan penyelidikan internasional mengenai asal-usul virus corona, yang pertama kali dilaporkan di kota Wuhan, Tiongkok.

Howard sendiri tidak mengungkit mengenai seruan penyelidikan, melainkan menekankan perlunya Australia untuk mengambil pendekatan yang seimbang dalam berhubungan dengan Tiongkok – bahkan ketika ketegangan antara Amerika Serikat (AS) – sekutu terdekat Canberra – dan Tiongkok tengah membara.

“Saya tidak berpikir bahwa kita harus membiarkan diri kita ditentukan oleh siapa yang harus didukung antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Kita bisa menjalin hubungan baik dengan kedua negara itu, meski berbeda jenisnya, karena masyarakat kita berbeda. Saya melihat hubungan bilateral Australia dan Tiongkok sebagai sesuatu yang harus kita perhatikan dan pelihara sesuai dengan kepentingan kita masing-masing. Tentunya dengan selalu mengingat bahwa kita adalah bagian dari kelompok negara Barat yang percaya pada beberapa nilai fundamental,” demikian penjelasan Howard.

Sebaliknya, lanjut Howard, Australia dan Tiongkok perlu menemukan beberapa konsensus terlepas dari sejarah dan sistem politik mereka yang berbeda. “Sangat penting di masa-masa sulit ini, terutama dengan latar belakang pandemi, untuk mengambil pendekatan yang seimbang, mencoba dan menemukan area kesepakatan bersama,” tambah dia.

Mengenai masalah seputar komoditas seperti anggur, Howard berkata untuk membiarkan prosesnya berjalan dan jangan terlalu mendramatisasi beberapa perbedaan yang muncul.

Fakta Kehidupan Rezim Tiongkok

Menurut Howard, meskipun Tiongkok mengambil sikap yang lebih tegas secara internasional sejak Presiden Xi Jinping menjabat, sistem politik internalnya tidak banyak berubah – hanya saja sekarang diberlakukan dengan lebih ketat daripada di masa lalu.

“Tiongkok, sejak 1949 telah menjadi negara otoriter yang dijalankan oleh Partai Komunis Tiongkok, dan itu adalah fakta kehidupan, kita harus bekerja di dalamnya. Anda tidak dapat mengharapkan negara yang memiliki sistem politik yang berbeda secara fundamental untuk setuju mengubah sistem itu, Anda harus hidup dengan itu. Tentu saja tanpa mengakui, landasan apa pun pada hal-hal yang penting bagi nilai-nilai kita sendiri,” kata Howard.

Jadi, alih-alih membuat frustrasi hubungan ekonomi antara kedua negara, Australia perlu bekerja untuk mempertahankan nilai-nilai fundamentalnya sambil menjaga hubungan ekonomi yang saling menguntungkan dengan Tiongkok.

“Ini lebih dari sekadar akal sehat, ini masalah kebijakan jangka panjang yang masuk akal,” ujar Howard.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN