Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi Inflasi

Ilustrasi Inflasi

Inflasi Kembali Hantui Zimbabwe

PYA, Senin, 22 April 2019 | 09:35 WIB

HARARE – Mimpi buruk inflasi di era mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe kembali menghantui penggantinya, Emmerson Mnangagwa.

Hal tersebut ditandai dengan berbagai peringatan baik secara mental maupun fisik yang akan dialami warga Zimbabwe, setelah harga roti naik dua kali lipat pada pekan lalu, dari 1,80 menjadi 3,50 dolar Zimbabwe. Bahkan harga satu kotak mentega melonjak dari 8,50 menjadi 17 dolar Zimbabwe.

Padahal, sebelumnya Mnangagwa telah berjanji untuk menghidupkan kembali perekonomian negaranya yang hampir mati menyusul tergulingnya Mugabe pada 2017 – setelah 37 tahun berkuasa.

Tetapi usai bank sentral meluncurkan kebijakan moneter baru pada Februari, dengan memperkenalkan mata uang lokal baru, harga-harga barang dan jasa pun langsung meroket luar biasa dalam satu dekade. Perbedaan antara nilai tukar resmi dan pararel melebar dengan cepat sehingga memicu kenaikan harga hingga 300%.

Dalam peringatan Hari Kemerdekaan Zimbabwe ke-39, Mnangagwa mengeluarkan kecaman atas babak baru kenaikan harga.

“Pemerintah khawatir dengan kenaikan harga baru-baru ini yang tidak terkendali dan sewenangwenang, yang telah menyebabkan penderitaan tak terhitung bagi rakyat. Ini tidak manusiawi, tidak etis, tidak patriotik, dan bertentangan dengan dialog ekonomi yang didukung oleh republik kedua,” ujar dia dalam pidato yang disampaikan, Kamis (18/4), kepada kerumuman yang hadir di stadion olahraga, di Harare, Zimbabwe.

Sementara itu, John Robertson – salah seorang ekonom independen berpengalaman – memperingatkan soal jumlah korban kekacauan ekonomi yang menimpa warga Zimbabwe.

“Standar tingkat kehidupan akan turun. Ini akan memengaruhi kesehatan mereka, baik secara mental maupun fisik, dan mengurangi produktivitas,” kata Robertson kepada AFP.

Sedangkan, Ketua Kongres Serikat Buruh Zimbabwe Japhet Moyo, menceritakan kisah pertemuannya dengan salah seorang pria yang melihat harga obat untuk penyakit kronisnya meningkat drastis dalam dua bulan, di mana sekarang hampir semua gajinya digunakan untuk membeli obat yang dibutuhkan. Menurut Moyo, pada Februari, pria tersebut membeli persediaan obat selama sebulan dengan harga 95 dolar Zimbabwe. Tetapi pada bulan ini dia harus memberi dengan harga 300 dolar Zimbabwe, padahal gaji bulanannya adalah 320 dolar Zimbabwe.

“Saya ber tanya kepadanya bagaimana dia bisa memenuhi pengeluaran bulanannya dengan sisa gaji yang dimiliki dan dia menjawab dengan menangis,” tutur dia kepada AFP.

Moyo pun mengungkapkan kemarahan pada pemerintah karena memasang wajah berani dan memberi kesan bahwa ekonomi sedang rebound, padahal kenyataan yang terjadi di lapangan berjalan berlawanan arah. (afp)

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN