Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Fasilitas minyak mentah milik Aramco, di dekat daerah al-Khurj, luar ibu kota Riyadh,  Arab Saudi. ( Foto: AFP / FAYEZ NURELDINE )

Fasilitas minyak mentah milik Aramco, di dekat daerah al-Khurj, luar ibu kota Riyadh, Arab Saudi. ( Foto: AFP / FAYEZ NURELDINE )

Investor Domestik Incar Saham Aramco

Grace Eldora, Rabu, 6 November 2019 | 11:02 WIB

RIYADH, investor.id – Para investor Arab Saudi berlomba-lomba mengumpulkan uang tunai, mulai dari mencari pinjaman hingga menjual aset pribadi. Dananya akan mereka gunakan untuk berinvestasi di saham Aramco.

Para investor domestik di Saudi berusaha memiliki saham raksasa minyak tersebut, walau belum banyak mengumumkan detail rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Setelah bertahun-tahun menunda dan memulai di waktu yang salah, perusahaan milik negara tersebut akan melepas saham di bursa efek Riyadh. Belum diketahui berapa banyak jumlahnya, begitu pula tanggal dan nilai kapitalisasi perusahaan.

Terlepas dari itu, hingga kini investor ritel di Saudi masih berharap dapat memiliki bagian saham perusahaan dunia yang paling menguntungkan dan dipandang sebagai permata mahkota kerajaan. Di samping bergema seruan untuk menyukseskan IPO tersebut.

"Beberapa (orang Saudi) sudah mulai menjual saham lain dalam persiapan untuk membeli (saham) Aramco. Orang-orang melihatnya sebagai investasi yang sehat. (Tetapi) saya sadar ini adalah investasi jangka panjang yang bagus dimiliki dalam portofolio dan bukan semacam tiket lotre," kata Ibrahim Ahmed, analis industri energi Saudi, yang juga mempertimbangkan untuk menginvestasikan tabungannya.

IPO tersebut disebut oleh perusahaan sebagai tonggak bersejarah. Di sisi lain membuat Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memiliki rencana ambisius untuk mendiversifikasi sumber pendapatan negara dari minyak bumi. Dana segara akan dibutuhkan oleh Saudi untuk mendanai proyek-proyek besar dan industri-industri non-perminyakan.

Pemerintah Saudi dilaporkan telah mendesak keluarga bisnis dan institusi Saudi yang kaya untuk berinvestasi dalam IPO Aramco. Banyak kaum nasionalis menyebutnya sebagai tugas patriotik. Fahad Hashemi, manajer portofolio di Middle East Financial Investment Co yang berbasis di Riyadh mengatakan kepada AFP, perusahaannya memiliki niat kuat untuk berpartisipasi meskipun informasi terkait IPO dinilai kurang.

Saudi telah berupaya meringankan pembatasan pinjaman bagi warga biasa untuk membeli saham di Aramco. Walau strategi ini yang dianggap berisiko oleh kalangan pengamat. CEO Ithraa Capital Idul Shamri mengatakan, beberapa orang Saudi sampai ada yang mau menjual rumah atau berutang untuk membeli saham Aramco.

"Ini jelas merupakan masalah serius yang akan dicatat dalam sejarah Arab Saudi. Banyak orang membicarakannya. Tetapi sejauh mana partisipasi rakyat? Kami memperketat penggunaan uang," ujar Shamri kepada Bloomberg News.

Investasi Unik

Perwakilan Aramco mengatakan, harga penawaran akhir dan jumlah saham yang akan dijual ditentukan pada akhir penawaran awal (book-building). Pada dokumen 21 halaman yang dirilis oleh perusahaan, perusahaan menyebut IPO sebagai proposisi investasi unik.

CEO Aramco Amin Nasser mengatakan, perusahaan berkomitmen menawarkan pemegang saham penciptaan nilai jangka panjang.

Media lokal melaporkan, perempuan atau janda yang bercerai dengan anak di bawah umur akan memenuhi syarat menerima pembagian saham bonus untuk mempromosikan partisipasi oleh semua bagian masyarakat Saudi. Tetapi di tengah sedikit informasi yang dibagikan, sulit menentukan hasil IPO.

Tidak jelas apakah Aramco akan mendapatkan angka US$ 2 triliun seperti diharapkan oleh Pangeran Mohammed. Firma riset investasi Bernstein memperkirakan, kisaran nilai wajar untuk Aramco adalah antara US$ 1,2 dan US$ 1,5 triliun.

Ada juga laporan perusahaan berjuang mendapatkan investor institusional di tengah prospek bearish untuk sektor energi, terlepas dari pertanyaan tentang transparansi dan tata kelola perusahaan. Perusahaan pengelola dana kekayaan negara Norwegia, yang terbesar di dunia, menyatakan tidak berencana berinvestasi di Aramco.

Investor juga khawatir tentang risiko geopolitik yang membebani saham. Berita IPO datang hanya beberapa pekan setelah jantung fasilitas Aramco hancur karena serangan, sehingga produksinya turun hingga 50% di tengah peningkatan ketegangan dengan pemerintah Iran.

Namun perusahaan yang menjadi sumber pendapatan besar negaara telah melambungkan kerajaan menjadi ekonomi terbesar di antara negara-negara Arab, menarik investor ritel lokal.

"Saya pikir ada permintaan lokal yang signifikan di kalangan investor ritel, meskipun bisnis keluarga besar mungkin lebih skeptis. Aramco akan menjadi perusahaan blue chip penghasil dividen yang cukup andal," jelas Steffen Hertog, profesor di London School of Economics.

Laba bersih 2018 perusahaan mencapai US$ 111,1 miliar lebih tinggi daripada laba gabungan Apple, Google, dan Exxon Mobil.

"Kami senang dan terpesona dengan IPO. Kami selalu memandang perusahaan sebagai perusahaan semi-nasional. Untuk melihatnya mengapung di bursa saham adalah era baru bagi kami," ujar analis Ahmed. (afp/eld)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA