Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi: Korban COVID-19 di Inggris. Foto/ANTARA

Ilustrasi: Korban COVID-19 di Inggris. Foto/ANTARA

Minim Tes Covid Bisa Membahayakan Sistem Kesehatan

Rabu, 16 September 2020 | 07:25 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

LONDON, investor.id - Layanan kesehatan terancam ambruk karena minimnya akses ke pengetesan virus corona. Peringatan ini dilayangkan oleh para kepala rumah sakit di Inggris pada Selasa (15/9).

NHS Providers Inggris, yang mewakili kepala perwalian rumah sakit di lembaga yang dikelola negara tersebut, mengatakan ada masalah kapasitas saat ini dengan aturan terkait pengujian. CEO NHS Providers Chris Hopson mengatakan, pemerintah harus memprioritaskan para petugas kesehatan. Pasalnya, kekurangan tes telah menyebabkan banyak ketidakhadiran staf di kota-kota besar.

Pada saat yang sama, pasien juga berjuang untuk mendapatkan tes. Sehingga menambah penundaan di lembaga-lembaga di bawah NHS, yang memburuk sejak wabah ini dimulai.

“Kami sekarang mendapat kasus ketika pasien seharusnya dirawat, kami tidak bisa merawat mereka karena mereka tidak bisa mendapatkan akses ke tes. Jadi, bagi mereka itu masalah nyata," katanya kepada televisi Sky News dalam sebuah wawancara, Selasa (15/9), yang dikutip oleh AFP.

Hopson berbicara setelah radio LBC melaporkan pada Senin (14/9), tidak ada tes virus corona yang tersedia di 10 zona terburuk Covid di Inggris.

Pengungkapan tersebut mengikuti laporan akhir pekan dari timbunan 185.000 tes usap yang belum dikerjakan, dan sistem yang direnggangkan sehingga sampel dikirim ke laboratorium di Italia dan Jerman.

Pemerintah Inggris menyalahkan melonjaknya permintaan atas situasi tersebut dan menjanjikan peningkatan kapasitas, sementara orang-orang hanya didorong untuk melakukan tes jika mereka menunjukkan gejala.

Menteri Dalam Negeri Inggris Priti Patel membantah klaim kekurangan akut di hotspot penyebaran virus Inggris. Ia mengatakan, unit pengujian yang berpindah-pindah meningkatkan kapasitas di area yang dalam penguncian lokal.

"Jelas ada lebih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan dengan Kesehatan Masyarakat Inggris (PHE) dan badan kesehatan masyarakat yang sebenarnya di daerah lokal tertentu," katanya kepada radio BBC.

Inggris, yang telah menjadi negara terparah di Eropa yang mencatat hampir 42.000 korban jiwa, telah mencatat peningkatan kembali kasus virus dalam beberapa minggu terakhir.

Negara itu mencatat lebih dari 3.000 kasus baru dalam tiga hari berturut-turut selama akhir pekan lalu, untuk yang pertama kali sejak Mei.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson telah berjanji untuk melakukan operasi pengujian dan penelusuran pada Juni.

Belum Efektif

Namun di samping rezim pengujian yang goyah, sistem pelacakan masih gagal mencapai angka orang yang dibutuhkan orang untuk bekerja secara efektif. Sementara itu, aplikasi ponsel pintar yang banyak dipuji dapat membantu melacak orang belum diluncurkan di Inggris.

Pemerintah Skotlandia, yang menjalankan kesehatan dari administrasi yang dilimpahkan di Edinburgh, meluncurkan aplikasi pekan lalu menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh Apple dan Google.

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, kepada Parlemen, Selasa, mengakui permintaan untuk tes Covid meningkat dan situasinya tidak menguntungkan bagi sistem kesehatan.

“Saya tidak membantah tantangannya sangat besar dan karena layanannya cuma-cuma, tak dapat dielakkan lagi kalau permintaannya meningkat,” ujar Hancock.

Tapi ia menolak laporan bahwa antrean tes semakin panjang. Selain tidak bisa segera dites, orang-orang dengan gejala Covid juga harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya.

Antrean itu sebenarnya turun dan di bawah sehari kapasitas pemrosesan pengujian,” ujar Hancock.

 

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN