Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Energi dan Industri Uni Emirat Arab (UEA) Suhail al-Mazrouei (kiri) sedang berbincang dengan Chairman Dewan Energi Dunia (World Energy Council/WEC) David Kim sebelum memulai konferensi pers di Abu Dhabi, UEA pada 8 September 2019.  (Foto: AFP/Karim Sahib)

Menteri Energi dan Industri Uni Emirat Arab (UEA) Suhail al-Mazrouei (kiri) sedang berbincang dengan Chairman Dewan Energi Dunia (World Energy Council/WEC) David Kim sebelum memulai konferensi pers di Abu Dhabi, UEA pada 8 September 2019. (Foto: AFP/Karim Sahib)

Kongres Energi Dunia

Negara-negara Teluk Masih Ingin Pertahankan Energi Fosil

Happy Amanda Amalia, Kamis, 12 September 2019 | 09:54 WIB

ABU DHABI, investor.id – Para eksekutif perusahaan dan pejabat dari negara-negara di kawasan Teluk – yang sangat bergantung pada pendapatan dari minyak mentah – berkeras bahwa bahan bakar fosil masih tetap dipertahankan di masa depan, sedikitnya selama beberapa dekade mendatang. Di sisi lain, mereka sebenarnya menyadari transisi menuju energi terbarukan merupakan hal yang penting, termasuk mendesaknya kesatuan untuk memerangi perubahan iklim.

 

Masalah transisi bahan bakar fosil menuju energi bersih tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam Konferensi Energi Dunia (WEC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), dan menjadi kunci dari pertemuan industri besar.

Para pembicara di WEC juga membahas berbagai isu seperti peran nuklir, gas hidrogen, dan sumber energi non-konvensional lainnya sebagai pengganti bahan bakar fosil yang saat ini mencakup lebih dari tiga perempat konsumsi energi dunia.

Perdebatan isu itu menjadi pusat perhatian dalam WEC pekan ini, karena banyak pejabat yang menyerukan agar mempercepat proses perpindahan ke sumber daya bersih dan meminimalisir emisi karbon.

Namun, para delegasi dari negara-negara penghasil minyak – khususnya di kawasan Teluk – berpendapat, meskipun harus mendukung transisi ke sumber energi bersih, tetapi mereka tidak akan dapat memenuhi lonjakan permintaan dalam waktu dekat.

“Selama beberapa dekade mendatang, dunia masih akan mengandalkan minyak dan gas sebagai sumber energi mayoritas. Diperlukan investasi sekitar US$ 11 triliun dalam minyak dan gas untuk memenuhi permintaan yang diproyeksikan saat ini, selama dua dekade berikutnya,” ujar bos Abu Dhabi Oil Co Jaber Sultan di hadapan peserta WEC ,yang dihadiri oleh perwakilan dari 150 negara dan lebih dari 400 CEO.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan lalu, energi dari sumber daya terbarukan yang semakin kompetitif telah meningkat empat kali lipat secara global hanya dalam satu dekade. Tetapi, permintaan energi yang tak pernah terpuaskan, terutama dari negara-negara berkembang telah memperlihatkan kenaikan 10% emisi dari sektor energi.

“Semua transisi energi termasuk hal ini bakal memakan waktu puluhan tahun, ditambah dengan banyaknya tantangan di sepanjang jalan,” kata CEO Aramco Amin Nasser, di WEC.

Nasser mengungkapkan, jika Arab Saudi mendukung kontribusi alternatif yang terus tumbuh, namun banyak kritik kebijakan yang diadopsi banyak pemerintah tidak mempertimbangkan “sifat dasar bisnis jangka panjang kami dan perlunya transisi yang tertib.”

Ketergantungan

Di sisi lain, minyak yang masih menjadi sumber kehidupan bagi negara-negara di kawasan Teluk telah menyumbang setidaknya 70% dari pendapatan nasional di seluruh wilayah yang telah ditopang oleh keuntungan besar selama puluhan tahun dari aliran “emas hitam”.

Menurut catatan, negara-negara di kawasan Teluk telah menginvestasikan puluhan miliar dolar dalam proyek energi bersih, terutama dalam tenaga surya dan nuklir.

Bahkan Dubai telah meluncurkan proyek tenaga matahari terbesar di dunia dengan banderol harga US$ 13,6 miliar. Proyek yang mulai beroperasi pada 2030 itu disebut-sebut memiliki kapasitas yang mampu memenuhi seperempat dari kebutuhan emirat yang haus energi saat ini.

Tetapi kalangan kritikus mengatakan, masalah ketergantungan pada minyak adalah sesuatu yang sulit untuk dilepaskan, terutama ketika pasokan tetap berlimpah dan investasi masif dalam infrastruktur untuk beralih ke energi terbarukan itu pun cukup menakutkan.

“Pergeseran global dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan layak secara ekonomi, teknis, dan teknologi. Yang tidak ada adalah kemauan politik!” pungkas Julien Jreissati dari Greenpeace di Timur Tengah.

Dia menyampaikan, sementara Uni Emirat Arab telah melaksanakan rencananya, Arab Saudi yang selalu membuat pengumuman besar mengenai ambisi energi terbarukan masih ketinggalan karena proyek dan target mereka masih di atas kertas.

“Tidak ada keraguan bahwa dunia akan meninggalkan minyak. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah kapan ini akan terjadi?” tambah dia.

Terlepas kemajuan teknologi penting yang dibuat dalam 10 tahun terakhir, sumber energi terbarukan tercatat masih sekitar 18% dan nuklir hanya menambah 6% dari bauran energi dunia.

Dalam 10 tahun terakhir, penerapan energi dari tenaga angin dan matahari mengalami kenaikan pesar karena biaya produksi anjlok ke level mendekati minyak dan gas.

Tetapi menurut Dewan Energi Dunia, peserta WEC di Abu Dhabi, UEA melihat seruan percepatan inovasi dan teknologi untuk mempercepat transisi adalah sebuah 'gangguan', mengingat dunia bersiap menghadapi permintaan energi global puncak antara 2020 dan 2025. (afp)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN