Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perdana Menteri Irak Adel Abdel Mahdi yang mengundurkan diri pada 1 November 2019. ( Foto: AFP / Tobias SCHWARZ )

Perdana Menteri Irak Adel Abdel Mahdi yang mengundurkan diri pada 1 November 2019. ( Foto: AFP / Tobias SCHWARZ )

Parlemen Setujui Pengunduran Diri Perdana Menteri Irak

Grace Eldora, Senin, 2 Desember 2019 | 17:00 WIB

BAGHDAD, investor.id – Parlemen Irak pada Minggu (1/12) menyetujui pengunduran diri kabinet yang tengah berselisih dan Perdana Menteri Adel Abdel Mahdi. Langkah itu diambil setelah selang dua bulan aksi kerusuhan yang menewaskan lebih dari 420 orang. Ribuan orang yang tengah berduka pun turun ke jalan-jalan untuk menggelar protes nasional.

Parlemen membuka sidang pada Minggu sore waktu setempat, dan dalam beberapa menit telah menyetujui pengunduran diri Abdel Mahdi. Keputusan tersebut secara konstitusi akan langsung mengubah Abdel Mahdid dan seluruh kabinet menjadi “pemerintah sementara”.

Ketua parlemen melanjutkan, sekarang dirinya akan meminta Presiden Barham Saleh untuk menunjuk perdana menteri baru.

Sebelumnya, Perdana Menteri Abdel Mahdi mengatakan pada Jumat (29/11) akan mengajukan pengunduran dirinya ke parlemen menyusul terus bertambahnya jumlah korban tewas di kalangan pengunjuk rasa. Para pemrotes menuduh seluruh elit penguasa tidak kompeten, korup dan terikat pada kekuatan asing.

Aksi demonstrasi menyebar dari pusat kota di Baghdad dan sebagian besar warga Syiah selatan sampai utara, kota Mosul yang dihuni mayoritas Sunni, tempat ratusan siswa berpakaian hitam menyelenggarakan pawai duka bagi para aktivis yang jatuh.

Menurut sumber medis, bahkan tepat sebelum sidang dimulai, pengunjuk rasa lainnya kembali tewas karena ditembak di ibukota.

Gerakan protes itu adalah yang terbesar di Irak, sejak invasi yang dipimpin AS pada 2003 menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein dan menetapkan sistem demokrasi di negara yang kaya akan cadangan minyak tapi miskin.

Para demonstran telah melampiaskan kemarahan mereka pada negara tetangga Iran, yang terlihat memiliki pengaruh besar di Irak. Pekan lalu, para pemrotes juga membakar kantor konsulat Iran yang berada di Iran.

“Abdel Mahdi harus pergi, begitu juga parlemen dan partai-partai, dan Iran,” kata seorang demonstran muda di Lapangan Tahrir (Pembebasan) Baghdad – yang menjadi pusat gerakan protes yang dimulai pada awal Oktober.

Hukuman Mati Pertama

Dalam perkembangan lain, pengadilan Irak menjatuhkan hukuman mati kepada seorang polisi pada Minggu karena telah membunuh pengunjuk rasa. Ini adalah vonis pertama dalam dua bulan kerusuhan sipil yang mematikan.

“Pengadilan pidana menjatuhkan hukuman mati kepada seorang polisi berpangkat mayor dengan cara digantung, dan memenjarakan polisi berpangkat letnan kolonel selama tujuh tahun karena berperan dalam kematian tujuh pengunjuk rasa di bagian selatan kota pada 2 November,” demikian disampaikan sumber-sumber di pengadilan.

Sementara itu di Mosul, pengunjuk rasa tampak berjalan beriringan sebagai bentuk solidaritas bersama dengan aktivis-aktivis di tempat lain di negara ini.

“Itu yang paling bisa Mosul berikan kepada para martir Dhi Qar dan Najaf. Para pengunjuk rasa meminta hak-hak dasar mereka sehingga pemerintah seharusnya memberikan jawaban sejak awal,” pungkas Zahraa Ahmed, seorang mahasiswa kedokteran gigi.

Sebelumnya, sebagian besar wilayah yang dihuni mayoritas warga Sunni telah menahan diri melakukan protes. Mereka takut menentang pemerintah pusat, yang akan melabelinya sebagai “teroris” atau pendukung Saddam Hussein.

Selama tiga tahun, Mosul adalah jantung dari “kekhalifahan” kelompok Islamic State (IS) yang ultra-konservatif, dan sebagian besar masih berada di area reruntuhan hingga hari ini.

Sedangkan, mahasiswa lain di Mosul, Hussein Kheder yang membawa bendera Irak, mengatakan bahwa kini seluruh negeri berada di halaman yang sama secara politis. Dia menyampaikan kepada AFP bahwa sekarang pemerintah harus memperhatikan tuntutan para pemrotes.

Di Salaheddin, yang mayoritas ditinggali Sunni – yang menjadi lokasi unjuk rasa pertama kalinya - pihak berwenang telah menyatakan masa berkabung tiga hari untuk para korban, sejak Jumat (29/11).

Dan delapan provinsi mayoritas Syiah mengumumkan hari berkabung pada Minggu di mana kantor-kantor pemerintah akan tetap tutup. Lebih dari 20 orang tewas di kota suci Syiah Najaf, 40 orang di Nasiriyah dan tiga di ibukota Baghdad dalam aksi kekerasan tiga hari berturut-turut.

Seorang koresponden AFP, pada Minggu melaporkan suasana kondusif di Nasiriyah – tempat kelahiran Abdel Mahdi, yang berkuasa setahun yang lalu berdasarkan pada aliansi yang goyah antara pihak-pihak yang bersaing.

Dia sempat menolak seruan pemrotes untuk mundur selama dua bulan terakhir. Tetapi tindakan keras telah mengubah gelombang aksi pekan ini sehingga mendorong pemimpin spiritual Syiah Irak, Ayatollah Ali Sistani untuk menyerukan kepada parlemen agar membatalkan dukungannya kepada perdana menteri. Tidak menunggu lama, faksi-faksi politik mengindikasikan mereka akan mendukung mosi tidak percaya. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA