Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang wanita sedang menggunakan platform e-commerce pada 29 September 2020, di tengah pandemi virus corona Covid-19 yang melanda Mexico City.  ( Foto: PEDRO PARDO / AFP )

Seorang wanita sedang menggunakan platform e-commerce pada 29 September 2020, di tengah pandemi virus corona Covid-19 yang melanda Mexico City. ( Foto: PEDRO PARDO / AFP )

PBB: Pandemi Covid Dongkrak Keuntungan 'E-Commerce' Tahun Lalu

Senin, 3 Mei 2021 | 13:31 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

JENEWA, investor.id – Menurut temuan dari studi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang dirilis pada Senin (3/5) bahwa pandemi virus corona Covid-19 telah mendongkrak keuntungan industri e-commerce tahun lalu. Tetapi perolehan keuntungan tidak terduga ini tidak dinikmati secara merata di seluruh bagian.

“Meskipun bakal membutuhkan waktu untuk mendapatkan gambaran lengkap mengenai dampak Covid-19 pada e-commerce, sejumlah perkembangan menunjukkan peningkatan yang kuat dalam e-commerce 2020,” demikian laporan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (Conference on Trade and Development/UNCTAD).

Studi UNCTAD mempelajari data berurutan dari tujuh negara, yakni Australia, Inggris, Kanada, Tiongkok, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS); yang mewakili sekitar dua pertiga perdagangan online.

Sebagai informasi, catatan penjualan online naik 59% di Australia; 46,7% di Inggris; 32,4% di Amerika Serikat dan 14,6% di Tiongkok.

“Sementara itu, jumlah omset tahun lalu naik 22,4%  menjadi US$ 2,5 triliun atau meningkat sekitar 15% di periode 2018-2019,” tutur UNCTAD.

Sebaliknya, Torbjorn Fredriksson – sebagai penulis laporan – menyampaikan bahwa tingkat penjualan eceran (retail) secara keseluruhan turun satu persen. “Statistik ini menunjukkan semakin pentingnya aktivitas online,” ujar dia kepada AFP.

Sementara itu, Kepala bidang Teknologi dan Logistik UNCTAD, Shamika Sirimanne menegaskan perlunya negara, terutama negara berkembang, untuk menggunakan data tersebut saat mereka membangun kembali dari pandemi.

“Pelaku yang menonjol adalah Jumia, raksasa ritel online Afrika, yang volume transaksinya melonjak lebih dari 50% dalam enam bulan pertama 2020 dibandingkan semester pertama 2019,” tambah Fredriksson.


 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : AFP

BAGIKAN