Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Energi dan Industri Uni Emirat Arab (UEA) Suhail al-Mazrouei (kiri) sedang berbincang dengan Chairman Dewan Energi Dunia (World Energy Council/WEC) David Kim sebelum memulai konferensi pers di Abu Dhabi, UEA pada 8 September 2019.  (Foto: AFP/Karim Sahib)

Menteri Energi dan Industri Uni Emirat Arab (UEA) Suhail al-Mazrouei (kiri) sedang berbincang dengan Chairman Dewan Energi Dunia (World Energy Council/WEC) David Kim sebelum memulai konferensi pers di Abu Dhabi, UEA pada 8 September 2019. (Foto: AFP/Karim Sahib)

Pekan Ini, OPEC Pertimbangkan Penurunan Baru Produksi Minyak

Grace Eldora, Senin, 9 September 2019 | 08:32 WIB

DUBAI, investor.id – Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) akan mempertimbangkan penurunan kapasitas produksi minyak baru pada pertemuan Kamis (12/9). Tetapi kalangan analis ragu bahwa negara-negara tersebut dapat berhasil mendongkrak harga minyak mentah yang tertekan akibat perang perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok.

Baik OPEC dan negara-negara non-anggota OPEC ingin menghentikan penurunan harga yang terus berlanjut, meskipun ada pengurangan produksi dari kesepakatan sebelumnya serta sanksi-sanksi AS yang telah menekan pasokan dari Iran dan Venezuela.

Menurut para analis, Komite Pemantauan Bersama Bersama kelompok OPEC +, yang memantau pencapaian kesepakatan pengurangan pasokan pada tahun lalu, memiliki opsi terbatas ketika mengadakan pertemuan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 12 September 2019.

Namun, langkah pasti yang akan diambil OPEC + adalah memperdalam pengurangan. Meskipun untuk sementara dapat membantu harga, tapi pengurangan tersebut memunculkan risiko kerugian lebih lanjut dari pangsa pasar. Demikian disampaikan para analis.

“OPEC sudah biasa memanfaatkan pemangkasan produksi untuk menopang harga. Namun ada harga yang harus dibayar dengan memangkas pangsa pasar minyak mentah global OPEC dari puncak 35% pada 2012 menjadi 30% pada Juli 2019,” ujar M. R. Raghu, kepala penelitian dari Kuwait Financial Center (Markaz) kepada AFP.

Sedangkan Menteri Energi Uni Emirat Arab Suheil al-Mazrouei memperingatkan pada Minggu (8/9), bahwa dengan berlangsungnya pertikaian dagang AS-Tiongkok yang membayangi perekonomian dunia maka rencana pengurangan produksi minyak tambahan mungkin bukan cara terbaik untuk menaikkan harga yang merosot.

“Pemangkasan produksi yang lebih dalam bukan keputusan yang kita ambil dengan mudah,” kata Mazrouei menjelang Kongres Energi Dunia empat hari yang dimulai pada Senin (9/9) di Abu Dhabi, di mana pertemuan penting para menteri minyak juga akan diadakan pada Kamis.

Dalam konferensi pers, Mazrouei mengatakan produsen minyak dipengaruhi oleh kekhawatiran lain, selain dari penawaran dan permintaan. “Apa pun yang dilihat kelompok itu akan menyeimbangkan pasar, kami berkomitmen untuk membahasnya dan mudah-mudahan pergi dan melakukan apa pun yang diperlukan. Tapi saya tidak akan menyarankan untuk memotong untuk memotong setiap kali kita memiliki masalah pada ketegangan perdagangan,” jelas dia.

Seperti diketahui, 24 negara anggota kelompok OPEC + yang didominasi oleh Arab Saudi dan raksasa produsen minyak non-OPEC, Rusia, telah sepakat untuk menurunkan produksi pada Desember 2018.

Kesepakatan pengurangan produksi minyak itu dicapai, mengingat perekonomian global yang goyah dan booming minyak jenis shale AS untuk menciptakan kelebihan pasokan global.

Tercatat, kesepakaan pemangkasan pasokan minyak sebelumnya, sebagian besar berhasil dalam memperkuat harga.

Tetapi kali ini, pasar terus merosot – bahkan setelah OPEC + sepakat pada Juni untuk memperpanjang kesepakatan pengurangan sebelumnya sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) selama sembilan bulan.

Perang Dagang

Ada pun faktor baru yang menjadi alasan untuk penurunan harga minyak adalah perang dagang antara dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, yang mana kebijakan penerapan tarifnya telah menimbulkan kekhawatiran resesi global yang bakal merusak permintaan minyak.

Ekonom Saudi Fadhl al-Bouenain menyampaikan pasar minyak telah menjadi sangat sensitif terhadap perang perdagangan AS-Tiongkok.

“Apa yang terjadi pada harga minyak berada di luar kendali OPEC dan tentu saja lebih kuat dari kemampuannya. Oleh karena itu, saya pikir OPEC + tidak akan menggunakan pengurangan produksi baru karena itu akan semakin menumpulkan pangsa pasar kelompok yang sudah menyusut,” kata Bouenain kepada AFP. (afp/pya)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN