Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Christine Lagarde. Foto: IST

Christine Lagarde. Foto: IST

Pencalonan Lagarde sebagai Presiden ECB Tuai Kontroversi

PYA, Kamis, 4 Juli 2019 | 07:23 WIB

FRANKFURT AM MAIN, investor.id – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mungkin menjadi perempuan pertama yang dicalonkan untuk menjadi presiden Bank Sentral Eropa (ECB). Kalangan analis mempertanyakan independensi bank sentral tersebut ke depannya, lantaran ltar belakang politik dan minimnya pengalaman Lagarde di bank sentral.

Tapi pencalonan perempuan berkebangsaan Prancis berusia 63 tahun itu jadi mencolok lantaran para calon lain adalah teknokrat pria. Sesuai dengan penelisikan para pengamat ECB dalam beberapa bulan terakhir.

Lagarde merupakan mantan penasihat hukum korporasi dan menteri keuangan Prancis. Ia memiliki citra sempurna di mata publik serta memiliki kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Inggris.

Dengan mengambil alih kepemimpinan ECB selang satu dekade setelah krisis finansial global, bos IMF itu diharapkan dapat melanjutkan kebijakan uang murah dan suku bunga sangat rendah, yang selama ini digunakan Presiden ECB Mario Draghi guna merangsang laju pertumbuhan ekonomi zona euro.

“Ketika Lagarde tiba-tiba berhenti mengeluarkan rekomendasi-rekomendasi kepada para gubernur bank sentral dari kursinya di Washington, dia selalu mendukung kebijakan tidak konvensional ECB,” ujar Frederik Ducrozet, ahli strategi di Pictet Wealth Management.

Sejak krisis finansial dan utang Negara berikutnya yang menghantam zona euro, ECB telah memasuki wilayah yang belum dipetakan dalam pertempuran untuk membawa laju inflasi kembali kepada target di bawah 2%.

ECB pun berupaya meningkatkan aliran kredit melalui ekonomi guna mendukung aktivitas dan harga, sehingga bank sentral menetapkan tingkat suku bunga di posisi terendah dalam sejarah dan menyuntikkan 2,6 triliun euro (US$ 2,9 triliun) ke dalam sistem keuangan melalui skema pembelian obligasi atau quantitative easing (QE) antara 2015 dan 2018.

“Ke depannya, zona euro masih menderita akibat pertumbuhan yang lamban dan inflasi, yang berarti tanpa adanya perbaikan maka diperlukan stimulus tambahan,” kata Draghi pada bulan lalu.

Hal tersebut bisa berarti Lagarde bisa dengan cepat menurunkan tingkat suku bunga lebih jauh dan kembali meluncurkan pembelian QE.

Perselisihan Politik

Di sisi lain, intervensi besar-besaran ECB juga tidak luput dari kontroversi. Di Jerman, para politisi dan ekonom menuding bank sentral mencetak uang untuk menopang anggota Negara yang goyah dalam zona euro.

“Hal utama tentang penunjukkan Christine Lagarde adalah dia bukan Jens Weidmann – gubernur Bundesbank (bank sentral Jerman) – yang terkenal menentang QE. Lagarde secara konsisten mendukung pelonggaran kebijakan moneter secara umum, dan QE pada khususnya,” ujar Andrew Kenningham dari Capital Economics. (afp)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA