Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pejalan kaki berjalan melewati tanda NHS yang menunjukkan pedoman selama pandemi virus corona CovidD-19, di halte halte bus di West End London, Inggris pada 14 Oktober 2020. Foto: TOLGA AKMEN / AFP )

Pejalan kaki berjalan melewati tanda NHS yang menunjukkan pedoman selama pandemi virus corona CovidD-19, di halte halte bus di West End London, Inggris pada 14 Oktober 2020. Foto: TOLGA AKMEN / AFP )

PM Inggris: Karantina Nasional Lagi adalah Bencana

Kamis, 15 Oktober 2020 | 07:07 WIB
Iwan Subarkah Nurdiawan (subarkah_nurdiawan@investor.co.id)

LONDON, investor.id – Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson pada Rabu (14/10) mengatakan, Inggris akan mengalami bencana jika harus menerapkan lagi karantina nasional untuk menanggulangi penanggulangan lonjakan kasus baru virus corona Covid-19. Tapi, ia tidak mau menepis kemungkinan itu, sementara berkembang tuntutan agar ada penutupan sementara untuk menghentikan penyebaran Covid-19.

Ketua Partai Buruh Keir Starmer mendukung penutupan sementara kegiatan-kegiatan selama dua pekan. Langkah ini sebelumnya didukung oleh komisi penasihat ilmu pengetahuan pemerintah.

Pemerintah Irlandia Utara pada Rabu menambah tekanan kepada pemerintahan Johnson dengan mengumumkan rencana menutup klub malam dan restoran selama empat pekan. Juga memperketat kebijakan kerumuman serta memperpanjang libur sekolah tengah semester untuk meredam lonjakan kasus baru di sana.

Johnson dilaporkan mempertimbangkan langkah serupa di Inggris. Kalangan pakar mengatakan bahwa langkah itu bertepatan dengan libur tengah semester sekolahan mulai 23 Oktober 2020.

Pimpinan Partai Konservatif itu berupaya keras mencegah terulangnya malapetaka akibat Covid di Inggris pada Maret 2020. Tatkala penyakit ini menyerang seluruh negeri dengan hingga sekarang menyebabkan lebih dari 43.000 kematian atau yang terbanyak di Eropa.

Tapi, para anggota parlemen dari Konservatif tidak mau kebijakan yang akan semakin merusak perekonomian. Yang menurut Dana Moneter Internasional (IMF) akan kontraksi hampir 10% tahun ini.

“Kami akan lakukan apa pun untuk memerangi virus ini dan mengalahkannya,” ujar Johnson, dalam debat panas dengan Starmer di Dewan Perwakilan Inggris, seperti dilansir AFP.

Tapi ia menambahkan pendekatan terbaik adalah seperti yang diutarakannya pada Senin (12/10). Yakni Inggris dibagi ke dalam tiga tingkatan pembatasan. Bergantung pada seberapa berat penyebaran Covid di daerah setempat. Tingkatan terparah diterima oleh kota Liverpool, yang diprotes masyarakat dan para pengusaha di sana.

“Intinya adalah memanfaatkan kesempatan ini untuk menghindarkan penderitaan lagi dengan melakukan karantina nasional seperti yang disarankannya, dengan menjalankan solusi regional,” kata Johnson.

Jika dilaksanakan dengan benar, Johnson mengatakan bahwa rencana tersebut akan menurunkan tingkat penularan virus yang dapat menghindarkan malapetaka baru.

“Menghindarkan apa yang tak satu pun dari kita ingin mengalaminya, yakni bencana akibat karantina nasional. Kita tidak mau begitu,” lanjut Johnson.

Tapi, Starmer menuding PM terlambat dan mengabaikan ilmu pengetahuan. Ia mengingatkan bahwa waktunya sudah habis untuk mengambil keputusan yang berat. 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN