Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan) Kepala Negara untuk Keamanan Nasional Uni Emirat Arab (UEA) Hazza bin Zayed al-Nahyan sedang mendampingi Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman (tengah), dan Menteri Energi dan Industri UEA Suhail al-Mazrouei melakukan tur saat pembukaan Kongres Energi Dunia ke-24 atau

(kiri-kanan) Kepala Negara untuk Keamanan Nasional Uni Emirat Arab (UEA) Hazza bin Zayed al-Nahyan sedang mendampingi Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman (tengah), dan Menteri Energi dan Industri UEA Suhail al-Mazrouei melakukan tur saat pembukaan Kongres Energi Dunia ke-24 atau "24th World Energy Congress" (WEC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 9 September 2019. (Foto: AFP / KARIM SAHIB)

Saudi Dukung Pengurangan Produksi

Grace Eldora, Selasa, 10 September 2019 | 09:11 WIB

ABU DHABI, investor.id - Menteri Energi Arab Saudi yang baru dilantik Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan pada Senin (9/9), pengurangan produksi minyak akan menguntungkan semua negara pengekspor. Komentarnya mengindikasikan akan terus mendukung pemangkasan produksi, untuk mengatasi kelebihan pasokan di pasar global dan penurunan harga.

Komentar pertamanya sejak ditunjuk oleh ayahnya, Raja Salman, pada Minggu (8/9) itu juga mengisyaratkan tidak ada perubahan besar dalam pendekatan Arab Saudi. Negara kerajaan tersebut pemimpin OPEC secara de facto dan memompa sekitar sepertiga dari total produksi minyak harian OPEC.

"Pilar kebijakan minyak kami sudah ditentukan sebelumnya dan tidak akan berubah," katanya kepada TV Al Arabiya, Senin (9/9).

Sang Pangeran berada di Abu Dhabi untuk menghadiri Kongres Energi Dunia, yang akan diikuti dengan pertemuan Komite Pemantauan Bersama Menteri (JMMC) aliansi OPEC+ pada Kamis (12/9) untuk kesepakatan pengurangan pasokan yang dicapai tahun lalu.

Para menteri akan mempertimbangkan kebijakan baru pengurangan pasokan, meskipun kalangan analis ragu langkah seperti itu akan berhasil mendorong harga minyak mentah yang telah memburuk akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok.

Adapaun harga minyak mentah saat ini bergerak di sekitar level US$ 60 per barel. Berbeda dengan lebih dari US$ 75 pada periode yang sama tahun lalu, tetapi naik dari sekitar US$ 50 pada akhir Desember 2018.

Pangeran Abdulaziz mengatakan, perang dagang telah memicu kekhawatiran resesi global dan menimbulkan kabut atas pasar minyak. Namun, ia tampaknya mengayunkan dukungan untuk pembatasan lanjutan pasokan minyak untuk kembali menyeimbangkan pasar minyak mentah.

"Mengurangi produksi akan menguntungkan semua anggota OPEC," tuturnya kepada Al Arabiya di sela konferensi.

Penunjukan Pangeran Abdulaziz, saudara tiri dari Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman, menandai pertama kalinya seorang anggota keluarga kerajaan ditugaskan untuk menangani kementerian yang sangat penting tersebut.

Dia menggantikan pejabat veteran Khalid Al Falih, seiring Saudi mempercepat persiapan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham raksasa minyak milik negara, Aramco. IPO tersebut diperkirakan menjadi yang terbesar di dunia.

"Pangeran Abdulaziz sangat berpengalaman dan telah bertugas di industri energi selama beberapa dekade. Komentarnya hari ini menyarankan agar kita tidak mengharapkan perubahan kebijakan besar dari kerajaan, yang masih ingin melihat persediaan minyak jatuh," tukas analis UBS Group AG di Zurich Giovanni Staunovo kepada Bloomberg News.

Opsi Terbatas

Kartel pengekspor minyak OPEC dan para produsen independen utama ingin menghentikan penurunan harga, yang terus bertahan meskipun ada pengurangan produksi sebelumnya. Harga minyak tetap tertekan karena sanksi-sanksi AS telah menurunkan pasokan dari Iran serta Venezuela.

Kalangan analis mengatakan, badan pengawas JMMC memiliki opsi terbatas ketika bertemu di Abu Dhabi. Menteri Energi Uni Emirat Arab (UEA) Suheil Al Mazrouei mengatakan pada Minggu (8/9), OPEC akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk menyeimbangkan kembali pasar minyak mentah.

Namun ia mengakui masalah itu tidak sepenuhnya berada di tangan produsen utama dunia. Menurut dia, pasar tidak lagi diatur oleh penawaran dan permintaan, tetapi lebih dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan pemerintah AS dengan Tiongkok serta faktor geopolitik. (afp/eld)

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN