Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor memperhatikan layar yang menunjukkan pergerakan pasar saham di sebuah perusahaan sekuritas di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Senin (3/2/2020). Bursa saham Tiongkok dibuka melemah lebih dari 7 persen pada awal sesi perdagangan. Kondisi ini disebabkan imbauan pemerintah yang memperpanjang masa libur karena wabah virus korona, yang membuat kegiatan operasionalsejumlah industri terhenti. STR / AFP

Investor memperhatikan layar yang menunjukkan pergerakan pasar saham di sebuah perusahaan sekuritas di Hangzhou, provinsi Zhejiang, Tiongkok, Senin (3/2/2020). Bursa saham Tiongkok dibuka melemah lebih dari 7 persen pada awal sesi perdagangan. Kondisi ini disebabkan imbauan pemerintah yang memperpanjang masa libur karena wabah virus korona, yang membuat kegiatan operasionalsejumlah industri terhenti. STR / AFP

Virus Korona Menggerus Kepercayaan Pasar

Happy Amanda Amalia/Iwan Subarkah Nurdiawan, Selasa, 11 Februari 2020 | 08:00 WIB

LONDON, investor.id – Pasar saham di Asia dan Eropa sebagian besar tumbang pada perdagangan Senin (10/2). Para investor terus diliputi kekhawatiran akan dampak penyebaran virus korona baru di Tiongkok terhadap perekonomian global.

“Kekhawatiran terhadap virus korona membebani (sentimen). Krisis kesehatan yang semakin dalam ini menggerus kepercayaan pasar. Di London, saham-saham yang terkoneksi ke Tiongkok menjadi tertekan. Tambang, energi, dan saham-saham perjalanan semuanya memerah,” ujar David Madden, analis CMC Markets Inggris, seperti dikutip AFP.

Hingga berakhirnya sesi pagi waktu setempat, indeks London turun 0,2%, Paris melemah 0,4%, dan Frankfurt tergelincir 0,3%.

Virus korona baru telah menewaskan lebih dari 900 orang di daratan Tiongkok. Juga sudah menginfeksi lebih dari 40.000 orang. Serta menyebar ke lebih dari 24 negara. Penyebarannya sudah beberapa pekan ini ditetapkan sebagai darurat kesehatan global.

Penyebaran virus ini juga telah menghambat rantai pasokan. Dari makanan, peralatan rumah tangga, mobil, hingga suku cadang elektronik.

Di Asia, indeks Nikkei 225 ditutup turun 0,6%. Hang Seng ditutup turun 0,6%, setelah sempat naik 1,1%. Tapi Shanghai rebound setelah turun pada pembukaan dan ditutup menguat 0,5%.

Sementara itu di bursa-bursa lain, seperti Sydney dilaporkan melemah 0,1%, Seoul turun 0,5%, dan Singapura mencatat penurunan lebih rendah yakni 0,7%. Bursa saham di Taipei, Jakarta, dan Mumbai juga dilaporkan anjlok.

Para investor di seluruh dunia mengamati krisis kesehatan di Tiongkok secara prihatin, mengingat negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu tengah berjuang memerangi virus korona jenis baru, yang muncul pada akhir tahun lalu di pusat kota Wuhan, provinsi Hubei.

Ada pun dampak wabah yang dirasakan di dalam negeri tercermin dalam laporan inflasi Tiongkok yang dirilis Senin (10/2). Laporan tersebut menunjukkan kenaikan harga konsumen berada di level tertinggi dalam lebih dari delapan tahun, dan harga pangan melonjak lebih dari 20%.

Kenaikkan itu pun ikut mengganggu rantai pasokan perusahaan global besar seperti pemasok Apple, Foxconn dan raksasa otomotif Toyota. Sementara itu, fasilitas produksi utama di seluruh Tiongkok masih ditutup sementara karena pihak berwenang memberlakukan penutupan akses ke kota-kota dan tindakan karantina.

Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, terdapat beberapa pertanda bahwa epidemi itu mulai stabil di Tiongkok, namun ketua WHO memperingatkan jika jumlah kasus di luar negeri bisa jadi ibarat “ujung gunung es”.

“Virus korona ini tampaknya berlangsung lebih lama, menginfeksi lebih banyak orang dan merugikan pertumbuhan lebih lama. Anda tidak akan bisa menutup semua dampak negatif di Kuartal I,” tutur Diana Mousina, ekonom di AMP Capital Investors, kepada Bloomberg TV.

Menilai Kerusakan

Para analis telah memperingatkan, dampak ekonomi akibat wabah virus korona di Tiongkok daratan dan di luarnya tampanya belum sepenuhnya dipahami.

"Jangan coba-coba memahami dengan mudah. Sebagian kompleks industri Tiongkok ditutup melebihi masa libur Tahun Baru Imlek dan kami sedang menuju ke salah satu periode pertumbuhan ekonomi Kuartal I terburuk yang pernah tercatat,” kata Stephen Innes, kepala strategi pasar di AxiCorp.

Penurunan saham-saham di Asia pada awal pekan ini terjadi setelah isyarat negatif yang diperlihatkan Wall Street pada Jumat (7/2) di mana tiga indeks saham acuan ditutup melemah, salah satunya adalah indeks Dow New York yang ditutup melemah 0,9% pada 29.102,51.

Aktivitas ekonomi yang tertekan di Tiongkok – sebagai importir dan konsumen minyak terbesar di dunia – ikut menekan pasar energi dan mengakibatkan harga minyak mentah anjlok.

Akibatnya, komite yang ditunjuk oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) merekomendasikan pengurangan produksi tambahan pada Sabtu (8/2) karena dampak negatif epidemi terhadap kegiatan ekonomi.

Kedua indeks minyak mentah acuan, yakni West Texas Intermediate (WTI) dan Brent Crude dilaporkan sama-sama mengalami penurunan 0,3% pada Senin dengan masing-masing harga jual US$ 50,15 per barel dan US$ 54,32 per barel.

“Perdagangan saham di bursa Asia dibuka jauh lebih rendah dan telah pulih dari beberapa kerugian awal itu. Namun, sulit untuk melihat keuntungan lebih lanjut terjadi dari sini dengan latar belakang virus korona. Hal itu kemungkinan akan menjadi tema pekan ini, di mana kerusakan ekonomi diakibatkan oleh wabah tersebut,” kata Jeffrey Halley, analis pasar senior untuk Asia-Pasifik di OANDA.

Sedangka di awal perdagangan Eropa, indeks FTSE 100 London melemah 0,3% pada 7.447,11; dan Paris merosot 0,3%, sementara itu nFrankfurt turun 0,2%. (afp/sn)


 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA