Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tenaga kesehatan mengenakan pakaian alat pelindung diri (APD), sedang merawat pasien positif Covid-19 di dalam ruang perjamuan yang untuk sementara diubah menjadi pusat perawatan, di New Delhi, India, pada 28 April 2021. ( Foto: PRAKASH SINGH / AFP )

Tenaga kesehatan mengenakan pakaian alat pelindung diri (APD), sedang merawat pasien positif Covid-19 di dalam ruang perjamuan yang untuk sementara diubah menjadi pusat perawatan, di New Delhi, India, pada 28 April 2021. ( Foto: PRAKASH SINGH / AFP )

WHO: Varian India Ditemukan di Setidaknya 17 Negara

Kamis, 29 April 2021 | 07:00 WIB
Grace Eldora (grace.eldora@beritasatumedia.com)

JENEWA, investor.id - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa varian Covid-19 yang dikhawatirkan berkontribusi pada lonjakan kasus baru infeksi di India telah ditemukan di setidaknya 17 negara di dunia.

Badan kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menjelaskan, varian B.1.617 yang pertama kali ditemukan di India itu hingga Selasa (27/4) telah terdeteksi di setidaknya 17 negara. Hal itu berdasarkan lebih dari 1.200 urutan data yang diunggah ke basis data akses terbuka GISAID dari 17 negara tersebut.

"Sebagian besar urutan diunggah dari India, Inggris, AS dan Singapura," kata WHO dalam pembaruan epidemiologis mingguannya tentang pandemi Covid-19, Selasa (27/4), yang dikutip AFP.

WHO baru-baru ini mendaftarkan B.1.617, yang menghitung beberapa sub-garis keturunan dengan mutasi dan karakteristik virus yang sedikit berbeda, sebagai varian dalam sorotan. Dan kemudian sekarang WHO mulai menyebutnya sebagai varian yang mencemaskan.

Pelabelan tersebut akan menunjukkan bahwa varian virus tersebut lebih berbahaya daripada versi asli virus. Misalnya menjadi lebih mudah menular, mematikan, atau mampu menghindari perlindungan yang diberikan oleh vaksin.

India menghadapi lonjakan kasus baru dan kematian dalam pandemi. Kekhawatiran meningkat bahwa variannya bisa jadi berkontribusi pada malapetaka yang sedang berlangsung.

“Pemodelan awal berdasarkan urutan yang dikirimkan ke GISAID menunjukkan B.1.617 memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi daripada varian lain yang beredar di India, dan menunjukkan potensi peningkatan penularan," tambah WHO.

Badan PBB ini juga menekankan, varian lain yang beredar pada saat yang sama juga menunjukkan peningkatan penularan. Kombinasi keduanya mungkin memainkan peran dalam kebangkitan saat ini di India.

"Memang, penelitian telah menyoroti penyebaran gelombang kedua jauh lebih cepat daripada yang pertama," kata WHO.

Meskipun demikian, pihaknya menyoroti faktor penggerak lain yang dapat berkontribusi terhadap lonjakan tersebut. Termasuk longgarnya kepatuhan atas tindakan kesehatan masyarakat serta pertemuan massal di India.

"Penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memahami kontribusi relatif dari faktor-faktor ini," imbuhnya.

Badan PBB itu juga menekankan, studi yang lebih kuat telah dilakukan untuk karakteristik B.1.617 dan varian lainnya. Di antaranya, studi tentang dampak terhadap penularan, tingkat keparahan, dan risiko infeksi ulang dinilai sangat dibutuhkan secara mendesak.

Tembus 200.000

Sementara itu, jumlah kematian akibat virus corona di India melampaui 200.000 jiwa pada Rabu (28/4) dengan lebih dari 3.000 kematian dilaporkan dalam 24 jam untuk pertama kalinya, data resmi menunjukkan.

Sebanyak 201.187 orang kini telah meninggal, 3.293 di antaranya pada hari terakhir, menurut data Kementerian Kesehatan India. Meski demikian, banyak ahli menduga jumlah sebenarnya lebih tinggi.

India sekarang telah melaporkan 18 juta infeksi, meningkat 360.000 dalam 24 jam, yang merupakan rekor baru global. Bulan ini saja negara tersebut menambahkan hampir enam juta kasus baru. Per Selasa, angka tersebut telah mendorong lonjakan kasus global menjadi 147,7 juta.

Virus itu kini telah menewaskan lebih dari 3,1 juta orang di seluruh dunia. Ledakan jumlah kasus telah membebani rumah sakit dengan kekurangan tempat tidur, obat-obatan, dan oksigen.

Krisis ini sangat parah di New Delhi, dengan orang meninggal di luar rumah sakit yang tidak mampu menampung pasien. Di rumah sakit, tiga pasien sering terpaksa berbagi satu tempat tidur. Sementara klinik-klinik kehabisan oksigen.

India sejauh ini telah memberikan 150 juta suntikan vaksin. Mulai Sabtu (1/5), program tersebut akan diperluas hingga termasuk semua orang dewasa, yang berarti 600 juta lebih orang akan memenuhi syarat.

Namun, banyak negara memperingatkan India tidak memiliki stok vaksin yang mencukupi. Sedangkan para ahli meminta pemerintah memprioritaskan kelompok rentan dan daerah yang terkena dampak parah.

 

Editor : Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN