Sabtu, 4 April 2026

Kepercayaan Orang Lain adalah Kunci

Penulis : Gora Kunjana
11 Jul 2016 | 16:27 WIB
BAGIKAN

Usia yang telah mencapai setengah abad tak dipandang sebagai penghalang sukses oleh Henry Wibisono saat ia mulai membangun bisnis sendiri dengan bendera Spectrum Group pada tahun 2000.


Dan benar, hanya dalam jangka waktu kurang dari 15 tahun, grup ini telah memiliki lima anak usaha dan menjadi market leader bidang manufaktur produk rak toko dan pergudangan, perabot kantor, serta pintu tahan api melalui PT Spectrum Unitec.

Advertisement


“Di mana pun Anda berbelanja, kemungkinan rak yang digunakan adalah produk kami,” ujar dia dalam percakapan dengan wartawan Investor Daily Nasori di kantornya di kawasan Tangerang, pertengahan Juni silam.


Tak cuma di dalam negeri, produk-produk Spectrum Group telah menjangkau lebih dari 14 negara di Asia, Afrika, Australia, Amerika Selatan, dan Timur Tengah.


Kini, Spectrum Group juga terus mengembangkan bisnisnya dengan menambahkan lini bisnis solusi sistem pengarsipan dan manajemen konten perusahaan melalui anak usaha PT Spectrum FileForce. Itu belum termasuk jasa produksi perabotan kayu, rotan, dan kombinasi melalui PT Real Lustrum, serta solusi sistem penyimpanan, pergudangan, dan material-handling melalui PT Intermega Global.


Saat ditanya mengenai kunci sukses bisnisnya, pria kelahiran Semarang, 20 Mei 1949 ini menduga karena kepercayaan yang banyak diberikan orang kepadanya. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai hal ini, berikut petikan lengkap wawancara dengan bapak empat anak tersebut.


Bagaimana Anda memulai bisnis?

Saya akan bercerita mulai masa kecil saya. Karena yang ada saat ini tidak akan pernah tercapai tanpa masa kecil yang menjadi fondasinya. Masa kecil saya, dari SD, SMP, hingga SMA, saya habiskan di Semarang. Dari logat saya bisa ketahuan kalau saya berasal dari Semarang.


Bisa dikatakan, sebenarnya yang mendidik saya sejak kecil bukan hanya sekolah, tapi justru lebih banyak ayah dan ibu saya. Dari ayah, saya belajar soal semangat kerja. Dia seorang pekerja keras dengan ‘tenaga luar’. Kalau istilah silatnya gwakang. Kalau ibu lebih banyak memakai ‘tenaga dalam’, artinya pakai otaknya.


Karena harapan dan cita-cita orang tua, saya menjadi seperti saat ini. Saya masih ingat, ibu sering bicara ke saya, “Kamu belajar yang baik, entah caranya gimana, entah uangnya dari mana, pokoknya saya akan mengirim kamu ke luar negeri.” Dan ibu memang keras terkait pendidikan.


Anda langsung ke luar negeri setelah lulus SMA?

Saya lulus SMA pada 1967, saat masa peralihan politik. Waktu itu lulus bukannya Juni/Juli, tapi akhir tahun. Karena itu, saya menghabiskan waktu kelas dua SMA selama 1,5 tahun. Saya lulus SMA akhir 1967. Bulan Februari tahun berikutnya, ayah dan ibu saya memberi tiket pesawat ke Hamburg (Jerman), one way ticket (Jakarta-Praha-Hamburg), dan uang 5.000 DM (deutsche mark).


Dengan modal harapan orang tua, saya waktu itu pergi meninggalkan Indonesia seperti tidak akan kembali lagi. Dalam hati saya, untuk bisa dapat tiket dan uang 5.000 DM ini, pengorbanan orang tua saya pasti luar biasa. Maka dalam hati, saya bertekad tidak akan lagi memberatkan orang tua secara finansial. Jadi, begitu menginjak Jerman, dalam pikiran saya hanya tiga, sekolah, kerja cari duit, dan mencari beasiswa.


Waktu itu, saya masuk ke Kota Aachen dan mulai sekolah 1968. Aachen ini dikenal sebagai kota di Jerman yang sekolahnya bagus-bagus. Saya ambil jurusan elektro.


Upaya Anda agar tak memberatkan orang tua?

Untuk mendapatkan uang, waktu itu segala macam saya kerjakan. Saya pernah bekerja di supermarket, menjadi pembantu di perusahaan coklat bernama Lindt, dan pernah kerja di Bayer. Saya juga pernah bekerja sebagai operator truk gandeng. Dalam suhu 3° Celcius tapi harus pegang mesin sehingga tangan melepuh semua. Saya pun pernah menjadi penghapus papan tulis sekolah. Sekali menghapus mendapat 50 DM. Besar sekali buat saya. Ini yang membuat saya berdikari mulai dari nol.


Selanjutnya saya cari beasiswa. Saya tulis surat ke sejumlah perusahaan, di antaranya Mercedes Benz, VW, dan jawatan kereta api Jerman. Dari puluhan surat yang saya kirim, mungkin yang kembali cuma lima atau enam buah. Ada satu yayasan yang memberi jawaban dan mengatakan tidak bisa memberi beasiswa kepada siswa asing. Ada pula yang mengatakan saya bisa terima beasiswa setelah sarjana muda. Tapi akhirnya pada semester III saya dapat beasiswa.


Harapan bekerja dan mandiri tercapai. Singkat cerita, saya lulus kuliah tahun 1974 dan setelah itu masih sempat kerja di Jerman satu tahun sebagai konsultan junior untuk pembangunan universitas di Dortmund. Habis itu baru pulang ke Indonesia.


Kegiatan Anda setelah sampai di Tanah Air?

Mulai 1975 saya kembali ke Indonesia dan bekerja di sebuah perusahaan swasta hingga 1999. Suatu masa yang mungkin bagus waktu itu. Tapi akhirnya setelah 24 tahun berkarier di situ, saya mengalami kekecewaan. Para pemegang saham sudah tidak profesional. Jadi, saling iri dan sampai anak-istri yang bukan pemegang saham ikut-ikutan.


Pada waktu membangun biasanya tenang, tapi kalau sudah sukses banyak yang merecoki. Karena itu, kemudian saya berpikir, It’s time to go. Saya memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu, yang saya sendiri sebenarnya sangat terlibat karena saya berhasil memajukan perusahaan dan di situ saya berada di posisi top. Saya keluar dan memulai dari nol lagi. Jadi, saat berumur 50 tahun, saya kembali mulai dari nol.


Apa yang membuat Anda berani memulai dari nol saat umur tak lagi muda dengan sejumlah risiko?

Triger-nya karena saya merasa orang percaya kepada saya, sehingga pada 1999 saya naik pesawat terbang ke Sydney dan saya ulang tahun ke-50 di atas pesawat sendirian. Saya menghubungi kenalan di Sydney dan saya bilang saya akan mulai dari nol lagi. Terus dia bilang, kami akan mendukung Anda.


Selain itu, saya kontak beberapa teman lain. Saya merasa tidak bisa berjalan sendiri. Saya harus didukung oleh tim yang kuat. Tim baru ini jangan seumuran saya karena saya sudah 50 tahun. Timnya harus sepantaran anak-anak saya, sehingga kalau saya perintah mereka nurut. Ha, ha, ha… Waktu itu saya mengumpulkan beberapa orang yang umurnya relatif muda, 30 tahun, dan mereka percaya. Padahal mereka juga sudah punya karier. Mereka meninggalkan pekerjaannya untuk ikut saya. Padahal perusahaan saya belum ada dan kantornya di mana, kami belum tahu. Saya bersyukur, setelah 24 tahun berprofesi, saya berhasil memberikan rasa kepada orang-orang yang saya kenal bahwa saya bisa dipercaya. Kepercayaan orang lain adalah kunci.


Bagaimana bisnis Anda dimulai?

Mitra pertama kami adalah Dexion, perusahaan Australia. Perusahaan ini support saya yang tidak punya modal. Dexion memberi bantuan keuangan, tapi boleh dibayar kemudian setelah konsumen membayar. Tapi syukur, fasilitas pembayaran khusus ini hanya kami gunakan setahun atau dua tahun. Tahun ketiga, kami sudah membayar secara normal.


Kemudian, entah kenapa, ada orang Jerman yang saya kenal mau investasi ke Tiongkok. Dalam perjalanan pulang dari Tiongkok ke Jerman, dia mampir ke Indonesia. Saya bilang ke dia, saya sudah tidak di perusahaan lama. I am no body. Dia bilang, “Justru enak, Henry. Kita lebih gampng bekerja sama. Di membatalkan investasinya di Tiongkok, bertemu saya dan akhirnya pindah ke Indonesia. Perusahaan Jerman itu namanya Otto Kind.


Selanjutnya?

Tahun 2000 kami mulai berjualan yang artinya dari nol lagi. Saya bertemu temanteman yan baik, memang. Order pertama yang kami terima itu dari LippoShop. Saya baru mendirikan perusahaan, langsung dapat order dari LippoShop, berarti ini karena kami dipercaya. Order kedua saya dapat dari Pak Benny Lukman, pendiri Diamond, D’Best. Dia membatalkan ke pihak lain karena mau membantu saya.


Pada 2001 kami mulai punya pabrik dan berproduksi. Kami sewa gudang seluas 3.500 m2 yang diisi mesin-mesin dari Otto Kind. Pabrik ini kecil, tapi karena butuh nama kan tetap perlu bantuan promosi. Karena itu, kita minta tolong Ibu Rini Soemarno meresmikan pabrik kecil yang hanya 3.500 m2, sewa, dan mesinnya tua-tua. Dari situ mulai banyak perusahaan yang percaya kepada kami, seperti Tip-Top Supermarket, Sogo Supermarket, dan Carrefour. Kembali lagi, semua itu based-nya kepercayaan.


Kepercayaan tentu tidak muncul tiba-tiba. Apa yang membuat orang percaya kepada Anda?

Saya kerja lurus-lurus saja. Kalau mampu ya bilang mampu, kalau tidak mampu ya bilang tidak mampu. Saya juga berupaya menepati setiap janji yang saya omongkan. Mungkin karena selama ini saya berusaha lurus dan menepati apa yang sudah saya janjikan. Kalau gagal, ya saya katakan, “Maaf, saya nggak bisa.”


Apa yang Anda lakukan agar pengalaman negatif di tempat lama tidak terulang di perusahaan yang Anda rintis?

Kami mengedepankan profesionalisme. Jadi, sebagai pemegang saham ya sebagai pemegang saham, sebagai karyawan ya sebagai karyawan.


Pencapaian perusahaan saat ini sudah seperti yang diharapkan?

Ya, tentu saja saya mensyukuri berkat Tuhan bahwa yang dicapai ini sudah melebihi apa yang kami harapkan. Tapi bukan berarti kami berhenti berusaha. Apabila ini sudah tidak bisa dimaksimalkan, kami akan puas. Tapi kalau masih bisa dikembangkan lebih jauh lagi, kami akan berusaha untuk itu. Dan memang dobrakan dari tahun 2000 sampai 2008 itu luar biasa.


Tahun 2000 itu kami istilahnya hanya pedagang, beli barang jual barang. Tahun 2001 kami mulai dengan pabrik kecil, sebenarnya lebih pas disebut bengkel dengan lahan 3.500 m2. Tahun 2008 kami pindah di tanah milik sendiri, gedung milik sendiri, dan mesin sudah lunas. Kami terus mencari peluang dan sekarang total sudah ada lima company. Itu jauh melebihi harapan.


Obsesi yang masih tersimpan dalam pikiran Anda?

Setiap kali membuat bisnis, kami selalu ingin menjadi market leader. Sekarang sudah market leader di bagian industrial storage system. Istilahnya, kalau rak gudang ini di Indonesia, kami sudah market leader. Warehouse racking itu kami sudah market leader.


Yang kedua, kalau di bidang shop fitting, rakrak toko kami juga sudah market leader. Ke mana saja Anda belanja, kemungkinan itu rak produk kami. Dua itu sudah. Saat ini yang masih menjadi obsesi kami adalah sedang merintis usaha baru lagi, yaitu produksi pintu-pintu tahan api. Kami sebagai pemula, baru setahun dua tahun ini. Tapi kami sudah berada di lima besar. Kami juga sedang merintis usaha yang relatif baru, yaitu filing system. Jadi, masih ada dua obsesi, bagaimana bisa membuat filing system dan bisnis fire door ini menjadi market leader.


Gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?

Saya menyesuaikan dengan kebutuhan. Pada waktu saya keras, kerasnya bisa luar biasa. Tapi kalau begitu, saya mesti makan-makan dengan mereka (karyawan), sama-sama di warteg, saya akan bersamasama dengan mereka. Jadinya, saya mesti masuk bukan hanya secara formal, tapi juga informal.


Selain ayah-ibu, siapa figur yang mewarnai hidup Anda?

Kalau soal seperti ini saya kurang jago. Tapi mungkin kombinasi beberapa tokoh, gadogado. Saya lebih mengambil ke nilai-nilai. Ada beberapa buku yang langsung kena. Waktu itu yang paling terasa dan membuat saya bangkit kembali adalah buku yang diberikan rohaniawan saya, pastor yang saya kenal sejak SMA.


Dia tahu saya tengah memulai usaha dari nol. Dia memberi buku berjudul Turn Scars Into Stars! karya Robert H Schuller. Jadi, ubahlah bekas luka menjadi bintang. Itu kata-kata mutiara yang bisa saya ambil sebagai hikmah saat down. Itu membantu saya melihat ke depan. Nggak lihat ke belakang. Saya merasa jalan saya sudah benar dan saya berterima kasih kepada Tuhan.


Filosofi hidup Anda?

Mungkin kejujuran yang memang telah dibina oleh orang tua saya sejak kecil. Terus, rendah hati dan tidak boleh sombong. Tapi, cita-cita harus tinggi. Itu yang selalu dipesankan kepada saya. Soal kejujuran, saya cenderung hitam putih. Jadi, orang tahu, kalau saya ngomong A ya A, B ya B. Hitam ya hitam, putih ya putih. Tidak ada grey area.


Apa yang Anda tekankan kepada anak-cucu?

Mirip-mirip orang tua, karena saya tahunya dari orang tua. Jadi, nomor satu pendidikan. Saya memiliki tiga anak laki dan satu perempuan.


Peran keluarga dalam perjalanan karier Anda?

Istri adalah bettle half (belahan jiwa). Dia mengisi kekosongan dan kekurangan saya. Misalnya, kalau saya berkomunikasi dengan keluarga kan kaku, lha istri yang membuat ini halus. Kalau mau ada apa-apa, mengumpulkan keluarga misalnya, dia yang meng-arrange. Ini yang membuat saya kalau pergi ingin cepet-cepat pulang. Selain itu, sekarang cucu. Kalau ada cucu datang, itu kegembiraan tersendiri.


Ada waktu-waktu rutin untuk berkumpul?

Yang jelas, kalau ada yang ulang tahun, kami upayakan berkumpul. Saat Natal, kami juga berkumpul. Selain itu, istri sering meng-creat momen-momen khusus. Istri saya jago untuk itu. Kreatif, tidak standar. Misalnya pada hari-hari tertentu, cucu berada di rumah kami tanpa orang tua mereka. Karena kalau ada orang tuanya, kami kalah. Ha, ha, ha... Saya bilang ke anak-anak, kalau nggak tega, jangan dikirim.


Anak-anak Anda didorong untuk berbisnis?

Nggak, penekanan saya ke pendidikan saja. Saya menyiapkan pendidikan. Sekarang sudah selesai. Selanjutnya terserah mereka. Anak saya yang paling besar tidak bergabung di perusahaan, dia berkarier dari awal sebagai profesional. Sekarang sudah menjadi direktur di perusahaan tempat dia bekerja. Dia senangnya di situ, jiwanya tidak di sini. Tapi ada juga anak saya ikut membantu mengurus pengembangan perusahaan.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


International 11 menit yang lalu

Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur

Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.
International 13 menit yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.
International 36 menit yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
National 51 menit yang lalu

Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan

Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.
International 1 jam yang lalu

Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial

Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.
Business 1 jam yang lalu

KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun

Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia