Arah Bisnis Logistik Pos Indonesia melalui AI
JAKARTA,investor.id-PT Pos Indonesia (Persero) berkomitmen untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi bisnis dengan memanfaatkan teknologi terkini demi meningkatkan kinerja bisnis perusahaan logistik.
Teranyar, perusahaan mengerahkan 1.000 robot yang terintegrasi dengan artificial intelligence (AI) demi mengoptimalkan operasional dan mendorong kolaborasi industri.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Manajemen Portofolio Pos Indonesia Prasabri Pesti mengatakan, sejak 2023, perusahaan sudah mengimplementasikan robotic sorting untuk proses pemilahan paket berdasarkan kelompok tujuan, disusul kemudian implementasi robot auto labelling.
Teknologi ini, kata dia, berfungsi menyortir barang secara otomatis ke kantong-kantong yang telah dikelompokkan berdasarkan tujuan hingga kurir pengantar.
“Barang diletakkan di atas sistem, lalu robot mencari kantong yang sesuai dengan alamat penerima berdasarkan wilayah mana," kata Prasabri saat buka puasa bersama Media di Gedung Kantor Pusat Pos Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Saat ini, teknologi robotic sorting telah diterapkan di kantor Pos Surabaya sebanyak 150 robot, Jakarta Timur dengan 400 robot, dan segera menyusul Yogyakarta. Dia menjelaskan sistem ini beroperasi 24 jam, yang mana penyortiran umumnya dilakukan malam hingga pagi hari, sehingga terdapat slot kosong antara pukul 10.00–15.00 bisa dimanfaatkan oleh operator kurir lain.
Selain robotic sorting, Perusahaan juga menerapkan auto labeling robot yang berfungsi menempelkan label resi pada amplop atau paket secara otomatis.
“Harapannya bukan hanya untuk Pos Indonesia, tapi memang untuk industri kurir Indonesia. Positioning Pos Indonesia ini akan menjadi backbone industri kurirnya Indonesia," ujar Prasabri.
Tak hanya itu, bahkan kedepannya, perusahaan berencana mengembangkan beberapa teknologi tambahan berbasis AI. Salah satu teknologi yang akan segera diterapkan adalah geofencing.
Dia menyebut, teknologi ini masih belum banyak digunakan di Indonesia. Fungsinya untuk memastikan kurir tidak dapat memperbarui status pengiriman sebagai terkirim sebelum benar-benar berada dalam radius sekitar 100 meter dari alamat penerima.
“Masalah fake status yaitu pembaruan status pengiriman sebelum paket benar-benar sampai merupakan salah satu tantangan terbesar dalam industri kurir global,” ungkap Prasabri.
Dia menambahkan, dengan geofencing, sistem akan membatasi pembaruan status sehingga hanya dapat dilakukan ketika posisi kurir telah sesuai dengan lokasi tujuan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi dan kepercayaan pelanggan.
Selain itu, Pos Indonesia juga akan menerapkan teknologi road optimization berbasis AI untuk mengoptimalkan rute pengiriman. Pos Indonesia memiliki sekitar 642 ribu rute aktif. Sebagai contoh, satu rute dapat mencakup perjalanan dari Madiun melewati Solo hingga Jakarta. Bahkan terdapat rute besar dari Aceh sampai Lombok.
Dengan jumlah rute sebanyak itu, optimalisasi menjadi sangat penting agar operasional lebih efektif dan efisien. Teknologi AI memungkinkan perhitungan serta penyesuaian rute secara lebih akurat.
Editor: Emanuel
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






