Begini Prospek Harga Emas Pekan Depan
JAKARTA, investor.id – Harga emas diperkirakan masih bergerak volatil pada pekan depan, di tengah tarik-menarik sentimen konflik Iran dan ekspektasi kebijakan moneter global.
Mengutip Kitco News, harga emas mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut, meski sempat bergejolak tajam sepanjang pekan perdagangan yang lebih singkat.
Harga emas spot memulai pekan di kisaran US$ 4.400 per ons troi dan sempat menyentuh level tertinggi mendekati US$ 4.800 per ons troi.
Namun, pernyataan keras Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait konflik Iran memicu aksi jual, sehingga harga emas anjlok lebih dari US$ 100 per ons troi hanya dalam waktu singkat sebelum akhirnya stabil kembali di bawah US$ 4.700 per ons troi.
Survei mingguan Kitco menunjukkan pelaku pasar global masih terpecah. Kalangan analis di Wall Street cenderung bersikap hati-hati, sementara investor ritel (Main Street) mulai kembali optimistis seiring kinerja positif emas dalam sepekan terakhir.
Sebagian analis memperkirakan harga emas masih berpotensi menguat, namun sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika ketegangan mereda, emas berpotensi kembali reli. Sebaliknya, eskalasi konflik dapat memicu volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
Analis Forex.com James Stanley menilai tren jangka panjang emas masih bullish, sehingga koreksi dapat menjadi peluang masuk bagi investor. Senada, Presiden Asset Strategies International Rich Checkan memperkirakan minat beli emas akan meningkat menjelang akhir pekan panjang.
Namun, tidak sedikit analis yang memilih bersikap netral. Chief market strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski menilai pergerakan emas dalam waktu dekat akan sangat fluktuatif, dipengaruhi sentimen berita dari waktu ke waktu.
“Pergerakan harga bisa berubah drastis hanya karena rumor atau pernyataan terbaru terkait konflik,” ujarnya.
Dominasi Faktor Politik
Di sisi lain, Presiden Phoenix Futures and Options Kevin Grady menilai pergerakan emas saat ini lebih dipengaruhi faktor politik dibanding fundamental. Ia bahkan menyarankan investor untuk berhati-hati di tengah likuiditas pasar yang menipis selama libur panjang.
Menurut dia, arah harga emas sepenuhnya bergantung pada persepsi pasar terhadap perkembangan konflik Iran. “Begitu ada kejelasan, fundamental akan kembali menjadi penggerak utama, dan itu cenderung positif bagi emas,” katanya.
Secara teknikal, level US$4.700 per ons troi menjadi area resistensi terdekat, sementara support berada di kisaran US$4.600 hingga US$4.580. Jika tekanan berlanjut, harga emas berpotensi turun ke area US$4.450, bahkan mendekati US$4.300.
Sementara itu, target kenaikan jangka menengah masih berada di level psikologis US$5.000 per ons troi.
Untuk pekan depan, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, mulai dari ISM Services PMI, pesanan barang tahan lama, risalah rapat bank sentral, hingga data inflasi seperti indeks PCE dan CPI.
Data tersebut akan menjadi petunjuk arah suku bunga, yang selama ini menjadi salah satu faktor utama penentu pergerakan harga emas.
Di tengah ketidakpastian ini, analis menilai harga emas cenderung bergerak dalam rentang lebar, sambil menunggu kejelasan arah konflik dan kebijakan moneter global.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






