Harga Emas Berkilau Lagi di Tengah Penantian Risalah The Fed dan Ketegangan Global
BENGALURU, investor.id – Harga emas dunia bergerak menguat pada perdagangan Rabu (18/2/2026) setelah sempat menyentuh level terendah dalam sepekan pada sesi sebelumnya. Investor kini dalam posisi wait and see menanti rilis risalah rapat kebijakan moneter (FOMC Minutes) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga tahun ini.
Harga emas di pasar spot terpantau naik 1,1% ke level US$ 4.929,69 per ons, memulihkan sebagian kerugian setelah sempat anjlok lebih dari 2% pada Selasa (17/2/2026). Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman April turut menguat 0,9% ke level US$ 4.949,20.
Pasar saat ini memprediksi The Federal Reserve (The Fed) baru akan mulai memangkas suku bunga pada Juni 2026. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), emas biasanya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Pergerakan harga emas tahun ini diprediksi akan tetap fluktuatif namun kuat. "Secara garis besar, rentang harga emas tahun ini akan berada di kisaran US$ 4.700 hingga US$ 5.100," ujar Jigar Trivedi selaku analis riset senior di IndusInd Securities seperti dikutip Reuters, Rabu.
Baca Juga:
Harga Emas Siap Terbang Menembus AwanSinyal dari pejabat The Fed sendiri masih terbelah. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan kemungkinan beberapa kali pemangkasan jika inflasi terus turun menuju target 2%. Namun, Gubernur The Fed Michael Barr memperingatkan pemangkasan mungkin masih jauh mengingat risiko inflasi yang masih membayangi ekonomi AS.
Pengaruh Geopolitik: Iran dan Ukraina
Selain faktor moneter, ketidakpastian geopolitik turut menjaga daya tarik emas sebagai aset aman (safe haven).
- Isu Nuklir Iran: Meski Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai "prinsip panduan" perundingan nuklir, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan kesepakatan final belum akan tercapai dalam waktu dekat.
- Konflik Ukraina: Di Jenewa, negosiator Ukraina dan Rusia baru saja menyelesaikan hari pertama pembicaraan damai yang dimediasi AS. Presiden Donald Trump dilaporkan terus mendesak Ukraina agar segera mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat tahun tersebut.
Sementara itu, logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan beragam. Perak terpantau turun 2,2% ke 75,05 dolar AS, sedangkan Platinum dan Palladium kompak menguat masing-masing 2% dan 1,9%.
Secara historis, emas selalu dianggap sebagai instrumen pelindung nilai (hedging) utama terhadap ketidakpastian ekonomi dan ketegangan politik global.
Hubungan terbalik antara suku bunga dan harga emas menjadi fokus utama investor; ketika suku bunga dipangkas, daya tarik mata uang seperti Dolar AS biasanya melemah, membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah dan menarik bagi pemegang mata uang lain.
Pada awal 2026 ini, harga emas berada pada level yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mencerminkan besarnya risiko sistemik yang dihadapi dunia. Selain dinamika kebijakan moneter AS, peran emas sebagai instrumen safe haven kian krusial di tengah upaya mediasi konflik besar seperti Rusia-Ukraina dan negosiasi nuklir Iran.
Bagi para investor, emas bukan sekadar komoditas, melainkan jaring pengaman ketika pasar saham dan mata uang mengalami volatilitas tinggi akibat pergeseran peta kekuatan politik dunia.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






