Sabtu, 4 April 2026

Chandra Asri (TPIA) Beberkan soal Force Majeure, Operasional Normal

Penulis : Erta Darwati
5 Mar 2026 | 16:36 WIB
BAGIKAN
Pabrik milik Chandra Asri (TPIA). (Foto: TPIA)
Pabrik milik Chandra Asri (TPIA). (Foto: TPIA)

JAKARTA, investor.id – PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) atau Chandra Asri Group mengumumkan force majeure kepada mitra usahanya, menyusul dinamika geopolitik global yang berpotensi memengaruhi jalur distribusi energi dan rantai pasok internasional, termasuk perkembangan situasi di kawasan Selat Hormuz.

Pemberitahuan force majeure oleh perusahaan penyedia solusi energi, kimia, dan infrastruktur terkemuka di Asia Tenggara ini merupakan langkah preventif yang secara administratif harus dilakukan sesuai ketentuan kontraktual. Ini sebagai bentuk mitigasi risiko kerugian dan transparansi atas kondisi eksternal di luar kendali perusahaan.

Direktur Sumber Daya Manusia & Urusan Korporasi Chandra Asri Group, Suryandi menjelaskan bahwa penyampaian force majeure merupakan prosedur umum dalam praktik bisnis global ketika terdapat potensi gangguan termasuk jalur logistik internasional.

Advertisement

Langkah tersebut diambil sebagai bentuk transparansi dan pencegahan timbulnya kerugian yang besar kepada mitra usaha serta pemangku kepentingan.

“Pemberitahuan force majeure tidak serta-merta mencerminkan penghentian operasional perusahaan, melainkan bagian dari mitigasi risiko atas dampak situasi eksternal yang semakin berkembang,” kata Suryandi dalam keterangan resmi, Kamis (5/3/2026).

Dia menambahkan bahwa hingga saat ini kegiatan operasional perusahaan masih berjalan sebagaimana mestinya. Chandra Asri terus memantau perkembangan situasi global secara cermat, serta melakukan evaluasi berkala terhadap potensi implikasi yang dapat menimbulkan gangguan operasional perusahaan secara langsung maupun tidak langsung.

Sebagai bagian dari pengelolaan risiko yang terukur, Chandra Asri menjalankan penyesuaian tingkat operasional (run rates) secara selektif sesuai dengan kondisi pasokan dan kebutuhan produksi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kesinambungan usaha serta stabilitas pasokan terhadap pelanggan.

Chandra Asri (TPIA) Beberkan soal Force Majeure, Operasional Normal
Pabrik Chandra Asri di Cilegon, Banten. (Chandra Asri)

Emiten berkode saham TPIA tersebut juga memiliki kerangka manajemen risiko dan sistem perencanaan operasional yang dirancang untuk merespons dinamika pasar secara adaptif. Upaya tersebut mencakup diversifikasi sumber bahan baku, pengelolaan inventori secara prudent, serta penguatan koordinasi dalam rantai pasok guna menjaga fleksibilitas operasional.

Komunikasi dan koordinasi dengan pelanggan, pemasok serta mitra logistik juga dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan keselarasan informasi, serta kesiapan dalam mengantisipasi kondisi yang dapat memengaruhi pelaksanaan kewajiban kontraktual.

Dalam situasi global yang dinamis ini, Chandra Asri (TPIA) berfokus pada kesinambungan operasional dan ketahanan bisnis, dengan tetap melakukan evaluasi berkala atas perkembangan yang terjadi.

Chandra Asri (TPIA) Beberkan soal Force Majeure, Operasional Normal
Aster Chemicals & Energy

Langkah Perlindungan

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan bahwa force majeure yang diumumkan oleh Chandra Asri (TPIA) sebagai respons atas gangguan pasokan bahan baku yang melewati Selat Hormuz.

Selain TPIA, beberapa perusahaan di dunia juga dikabarkan mengumumkan keadaan serupa, antara lain Qatar Energy, Aluminium Bahrain, dan Norsk Hydro.

Selat Hormuz – jalur sempit Teluk Persia yang dikendalikan Iran – merupakan jalur strategis yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia dan sebagian besar pengiriman feedstock petrokimia global.

Dalam praktik industri, deklarasi force majeure digunakan ketika perusahaan menghadapi kondisi eksternal yang menghambat pemenuhan kewajiban kontrak secara fisik, seperti gangguan logistik, embargo, atau perang.

Liza menegaskan, dengan status tersebut, TPIA dapat menunda atau mengurangi pengiriman produk tanpa penalti kontraktual hingga kondisi supply chain kembali normal. Langkah ini juga sebagai perlindungan bagi perseroan saat konflik terjadi.

Namun, jika konflik berlangsung lama, implikasinya tidak hanya logistik, tetapi juga menyentuh harga bahan baku, utilisasi pabrik, dan profitabilitas industri petrokimia global.

Menurut Liza, TPIA sebagai produsen olefin dan polyolefin terbesar di Indonesia sangat bergantung pada feedstock berbasis minyak dan gas yang diproses melalui steam cracker.

Chandra Asri (TPIA) Beberkan soal Force Majeure, Operasional Normal
Dengan kemampuan beroperasi lintas wilayah, kehadiran kapal Novah meningkatkan fleksibilitas serta kapasitas logistik CDI Group dalam mendukung kebutuhan industri kimia yang terus berkembang. (Chandra Asri Group)

Feedstock utama yang digunakan di industri petrokimia regional, antara lain naphtha – bahan baku utama steam cracker yang digunakan untuk memproduksi ethylene, propylene, dan turunannya seperti polyethylene dan polypropylene.

Sebagian besar pasokan naphtha Asia berasal dari kilang minyak di Timur Tengah, seperti di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, dan Qatar.

“Jika konflik mengganggu jalur kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, pengiriman naphtha dapat tertunda,” ujarnya.

Karena itu, dalam memitigasi, perusahaan petrokimia biasanya menyimpan stok (inventory buffer) feedstock beberapa minggu. Jika konflik berlangsung singkat selama 1-2 pekan, operasional bisa tetap berjalan normal.

Menurut Liza, dalam teori industri, terdapat beberapa opsi mitigasi. Pertama, diversifikasi feedstock. Beberapa cracker dapat beralih dari naphtha ke LPG atau kondensat. Namun, fleksibilitas ini terbatas karena konfigurasi pabrik, perbedaan yield produk, dan ketersediaan pasokan.

Kedua, diversifikasi supply region. Perusahaan dapat mencari naphtha dari Korea Selatan, Jepang, India, serta kilang regional Asia Tenggara. Namun, pasokan global tetap mengikuti harga crude oil, sehingga substitusi hanya membantu mengurangi risiko logistik, bukan harga.

Liza mengungkap beberapa faktor yang dapat meredam dampak, di antaranya diversifikasi bisnis energi setelah integrasi aset Aster Chemicals & Energy, liquidity buffer kuat, dan permintaan plastik domestik Indonesia yang relatif stabil.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 48 menit yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 1 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
National 2 jam yang lalu

Gelar Munas, Hipmi Perkuat Peran Pengusaha Muda Hadapi Tekanan Global

Hipmi gelar Munas 2026 untuk memperkuat kontribusi pengusaha muda dalam perekonomian nasional di tengah tantangan ekonomi global.
International 3 jam yang lalu

Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur

Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.
International 3 jam yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.
International 3 jam yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia