Sabtu, 4 April 2026

Harga Minyak Melonjak Tajam Gegara Trump

Penulis : Indah Handayani
3 Apr 2026 | 05:42 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi minyak
Ilustrasi minyak

HOUSTON, investor.id Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Kamis (2/4/2026), dipicu kekhawatiran gangguan pasokan global setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji akan meningkatkan serangan terhadap Iran.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah AS jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup melesat US$ 11,42 (11,41%) ke level US$ 111,54 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent melonjak US$ 7,87 (7,78%) menjadi US$ 109,03 per barel. Kenaikan ini menjadi lonjakan harian terbesar sejak 2020.

Meski melonjak, kedua acuan harga minyak tersebut masih berada di bawah level tertinggi sekitar US$ 120 per barel yang sempat tercapai di awal konflik.

Advertisement

Sentimen pasar dipicu pernyataan Trump yang menegaskan operasi militer terhadap Iran akan diperluas dalam beberapa pekan ke depan, tanpa memberikan kepastian kapan konflik akan berakhir maupun langkah pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.

“Kami akan menyerang mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan,” ujar Trump dalam pernyataan publiknya.

Iran dilaporkan tengah menyusun protokol bersama Oman untuk memantau lalu lintas di Selat Hormuz, setelah sebelumnya jalur tersebut praktis ditutup sebagai respons atas serangan AS dan sekutunya sejak 28 Februari. Penutupan jalur ini berdampak besar, mengingat sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati kawasan tersebut.

Pelaku pasar kini mencemaskan potensi kerusakan lebih lanjut pada infrastruktur energi Iran, yang dapat memperpanjang gangguan pasokan global. “Pertanyaan utama adalah apakah infrastruktur minyak Iran kini berada dalam risiko, dan berapa lama pemulihan distribusi bisa tertunda,” ujar Dennis Kissler dari BOK Financial.

Dalam perdagangan, harga WTI bahkan diperdagangkan sekitar US$ 3 di atas Brent, kondisi yang jarang terjadi. Hal ini dipengaruhi perbedaan kontrak pengiriman, di mana WTI untuk Mei dan Brent untuk Juni.

Di sisi lain, ekspektasi pasar menunjukkan bahwa jika Selat Hormuz kembali dibuka dalam beberapa minggu ke depan, premi risiko harga minyak berpotensi turun dengan cepat.

Presiden Federal Reserve Bank of Dallas, Lorie Logan, menilai dampak ekonomi dari konflik ini masih belum pasti. Namun, ia menyebut ekonomi AS memiliki bantalan yang cukup jika konflik tidak berlangsung lama.

Proyeksi Harga Minyak

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

Lima Jurus Menghadapi Periode Kritis Produksi Beras

Stok beras di atas 4 juta ton, masyarakat tidak perlu panik.
International 9 menit yang lalu

Jet Tempur F-15 AS Jatuh di Iran, Operasi Penyelamatan Pilot Jadi Rebutan

Jet F-15 AS jatuh di Iran, operasi penyelamatan pilot jadi rebutan kedua pihak. Eskalasi perang kian meluas hingga ancam pasokan energi.
Business 35 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 38 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 47 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 51 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia