Musim Laporan Keuangan 2025, Ujian Fundamental Emiten Energi
JAKARTA, investor.id - Memasuki musim rilis laporan keuangan tahun buku 2025, perhatian pelaku pasar tertuju pada sektor energi. Setelah dua tahun terakhir diwarnai ekspansi agresif dan akuisisi aset hijau, periode ini dinilai menjadi momentum pembuktian fundamental bagi para emiten.
Ekonom dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee, menilai kinerja sektor energi saat ini beragam. “Kalau saya perhatikan, sektor energi kinerjanya agak mixed. Ada yang bagus, ada yang tidak. Sangat tergantung pada perusahaannya. Tapi secara umum masih cukup baik,” ujarnya dikutip Jumat (6/3/2026).
Menurut Hans, secara prospek jangka panjang sektor energi tetap menarik, terutama karena meningkatnya kebutuhan listrik global. Ia menyoroti lonjakan konsumsi energi akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga:
Laba Emiten Prajogo Melonjak 197%“Dunia sedang kekurangan energi. Investasi AI besar sekali, dan kebutuhan listrik AI itu bisa dua sampai lima kali lebih besar dibandingkan aktivitas pencarian biasa. Artinya, kebutuhan energi ke depan akan semakin besar,” katanya.
Terkait energi baru terbarukan (EBT), Hans menilai prospeknya tetap baik dalam jangka panjang karena dorongan global melawan perubahan iklim. Ia mengingatkan bahwa risiko pemanasan global memiliki probabilitas dan dampak yang tinggi, termasuk peningkatan frekuensi bencana. Menurut dia, transisi energi memang diperlukan dan merupakan langkah yang positif.
“Ya itu memang perlu, karena bagus, perlu. Di Indonesia juga kan sempat ada dorongan dukungan dengan tax hijau. Salah satunya mendorong perusahaan-perusahaan energi fosil, batu bara, supaya transform ke energi terbarukan,” katanya.
Menurutnya, perusahaan energi yang bertransformasi ke EBT tetap menarik untuk dicermati, namun investor perlu melihat kinerja secara lebih mendalam.
“Secara penelitian memang ada indikasi perusahaan yang bertransformasi ke EBT kinerjanya lebih baik. Tapi belum tentu karena transformasinya. Bisa jadi karena memang perusahaannya sudah bagus sehingga mampu melakukan transformasi,” ujarnya.
Menjelang rilis laporan keuangan FY2025, Hans menilai kinerja emiten dengan portofolio hijau akan tetap bervariasi. “Kinerjanya beragam, tapi secara umum masih baik,” katanya.
Diketahui, sejumlah emiten di Indonesia yang sebelumnya agresif melakukan diversifikasi ke sektor non-batubara kini memasuki fase konsolidasi. Misalnya PT Indika Energy Tbk (INDY) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) - dahulu PT Adaro Energy Indonesia Tbk - yang mendorong diversifikasi menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.
Langkah transformasi juga terlihat pada PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), yang memperluas portofolio ke pengelolaan limbah dan energi terbarukan, dan kini berfokus pada integrasi serta penguatan kinerja operasional.
Pelaku pasar memperkirakan 2026 akan menjadi fase seleksi alam bagi emiten energi. Perusahaan dengan struktur biaya efisien, leverage terkendali, serta arus kas yang stabil dinilai akan lebih resilien menghadapi dinamika global.
Musim laporan keuangan tahun buku 2025 pun dinilai bukan sekadar agenda rutin, melainkan ujian nyata apakah strategi ekspansi dan transformasi energi benar-benar berbuah pada fundamental yang lebih kuat.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





