Maduro Batasi Keberadaan Diplomat AS
KARAKAS – Presiden Venezuela Nicolas Maduro akan membatasi kehadiran para diplomat Amerika Serikat (AS) di negaranya. Ia juga mewajibkan semua turis asal AS untuk mendapatkan visa sebelum masuk Venezuela.
Langkah terbaru Maduro itu menunjukkan, ketegangan makin tinggi dalam hubungan kedua negara. Maduro mengatakan, langkah-langkah yang diumumkan Sabtu (28/2) waktu setempat itu bertujuan mengontrol campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Venezuela.
Selama beberapa bulan terakhir Maduro gencar melancarkan tudingan kudeta dan rencana-rencana pembunuhan. Tak sedikit dari tudingan itu yang diduga didukung oleh AS. Di dalam negeri, Maduro dihadapkan pada krisis ekonomi dan kemerosotan dukungan rakyat.
“Untuk melindungi negara kita, saya memutuskan untuk menjalankan sistem wajib visa bagi seluruh orang AS yang masuk ke Venezuela,” ujar dia kepada para pendukungnya.
Kendati belum jelas kapan rencana itu akan dijalankan, Venezuela akan mengenakan biaya visa, sama dengan yang dikenakan oleh AS kepada warga Venezuela. Ketentuan tersebut juga akan menimpa para pengusaha yang hendak berinvestasi di Negara produsen minyak terbesar dunia itu.
Dalam pidato berapi-api di halaman Istana Kepresidenan Miraflores, Maduro menyebutkan terdapat 100 staf diplomatic AS di Karakas. Sedangkan di Washington, AS, hanya ada 17 diplomat Venezuela.
Ia mengutip prinsip Konvensi Wina tentang kesetaraan antarnegara saat menjelaskan pembatasan diplomat AS di Venezuela. Ia memerintahkan kementerian luar negeri (kemenlu) untuk mengurangi, menyesuaikan, dan membatasi jumlah para pejabat AS di kedutaannya di Karakas.
Deplu AS mengaku belum menerima komunikasi diplomatik terkait pengurangan personel kedutaan maupun soal wajib visa itu. Tapi, seorang pejabat senior pemerintah AS mengatakan, pemerintah Venezuela keliru dan tak berdasar dengan terus menuding AS terlibat dalam upayaupaya untuk menggoyang pemerintahan Maduro.
Dalam pidato itu, Maduro menyebutkan sejumlah tokoh politik AS yang dilarang masuk Venezuela. Alasannya, kata dia, pemerintah menganggap mereka adalah teroris. “Sekelompok pemimpin politik AS yang melanggar HAM dengan mengebom negara-negara seperti Suriah, Irak, dan Afghanistan, tidak akan bisa masuk Venezuela karena mereka adalah teroris,” tandas Maduro.
Dia menyebut nama mantan presiden AS George W Bush dan mantan wapresnya Dick Cheney, serta tiga anggota Kongres Hispanik-Amerika Bob Menendez, Ileana Ros-Lehtinen, dan Marco Rubio. Maduro juga mengatakan, keputusan tentang wajib visa itu menyusul penangkapan seorang pilot AS keturunan Latin di negara bagian Tachira. Dia diduga melancarkan kegiatan-kegiatan matamata.
Hubungan AS-Venezuela buruk sejak Maduro menggantikan mendiang Hugo Chavez pada 1999. Maduro kerap mengkritik kebijakan imperialis AS. Kedua negara saling menarik dubes pada 2010. Di bawah Maduro, Venezuela sudah mengusir sejumlah diplomat AS. (afp/sn)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

