Harga Batu Bara Lanjut Menguat, Terdorong Lonjakan Harga Gas
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara lanjut menguat pada perdagangan Senin (21/8/2023). Terdorong lonjakan harga gas yang mencapai 10% day on day.
Pada Senin (21/8/2023), harga batu bara Newcastle untuk kontrak berjangka Agustus 2023 turun US$ 0,25 menjadi US$ 149,25 per ton. Sedangkan kontrak berjangka September 2023 menguat US$ 1,25 menjadi US$ 162 per ton. Sedangkan kontrak berjangka Oktober 2023 bertambah US$ 1,45 menjadi US$ 164,15 per ton.
Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak berjangka Agustus 2023 naik U$S 1,75 menjadi US$ 118,50. Sementara itu, kontrak berjangka September 2023 menguat US$ 6,65 menjadi US$ 125,65. Serta, kontrak berjangka Oktober 2023 meningkat U$S 5,60 menjadi US$ 126,50.
Dikutip dari BBC, prospek aksi mogok pekerja gas alam cair (LNG) di Australia telah mendorong kenaikan harga grosir gas di Eropa. Serikat pekerja Offshore Alliance memperingatkan bahwa pemogokan di fasilitas North West Shelf dapat dimulai paling cepat 2 September jika tidak ada kesepakatan tentang pembayaran yang tercapai.
Benchmark harga gas untuk UE dan Inggris naik sekitar 10% pada Senin (21/8/2023), menurut Bloomberg. Ada kekhawatiran bahwa aksi mogok di fasilitas North West Shelf milik Woodside Energy Group dapat menyebabkan gangguan pengiriman LNG dari Australia, yang merupakan pemasok utama global.
Pekerja di dua fasilitas LNG lepas pantai lainnya, Gorgon dan Wheatstone, yang dioperasikan oleh Chevron, juga memberikan suara untuk aksi mogok, dengan hasil yang diharapkan pada Kamis (24/8/2023). Ketiga pabrik tersebut menghasilkan sekitar 10% dari pasokan LNG dunia.
Sebelumnya, Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, hingga saat ini pemogokan kerja pekerja LNG di Australia masih belum menemukan kesepakatan. Sehingga akan berlanjut mengerek harga gas alam, dan juga akan berdampak pada harga batu bara. Karena situasi tersebut terjadi di tengah sinyal kenaikan permintaan negara-negara pengguna gas alam yang saat ini menghadapi efek gelombang panas.
Yoga menilai, melihat harga saat ini serta potensi kenaikan di sisi permintaan, maka sangat besar kemungkinan bagi harga batu bara untuk tetap berada di atas US$ 150 per ton dalam beberapa waktu ke depan. Permintaan batu bara di pekan depan masih akan tetap bullish. Dengan penggerak utama dari Tiongkok yang berkomitmen untuk memberikan stimulus tambahan pada sektor industri.
“Stimulus tersebut termasuk batu bara yang saat ini rata-rata produksi batu bara harian telah turun ke level terendah dalam Sembilan bulan,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur
Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran
Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.Tag Terpopuler
Terpopuler






