Investor Global Desak BEI Buka Informasi Kepemilikan Saham di Bawah 5%
JAKARTA, investor.id – Investor global meminta Pemerintah Indonesia menurunkan batas keterbukaan kepemilikan saham (disclosure threshold) dari saat ini 5% menjadi 1–2%. Langkah ini dinilai mendesak untuk memperkuat transparansi pasar dan mempersempit ruang gerak praktik manipulasi harga (price manipulation) di bursa domestik.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan dorongan tersebut muncul secara konsisten dalam pertemuan dengan sejumlah investor luar negeri selama dua hari terakhir. Menurutnya, para pemodal menginginkan standar transparansi Indonesia sejajar dengan pasar global, seperti India yang sudah menerapkan batas keterbukaan 1%.
“Di beberapa negara seperti India, keterbukaan itu sudah di level 1%. Investor ingin Indonesia menurunkan batas 5% menjadi 1–2% agar lebih sejalan dengan pasar lain. Dengan keterbukaan lebih awal, aksi penciptaan harga semu akan sangat sulit terjadi karena semua pergerakan investor besar langsung terdeteksi,” ujar Rosan dalam Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (1/2/2026).
Rosan menambahkan, meski investor mengapresiasi rencana kenaikan free float minimum ke 15%, aspek transparansi kepemilikan dianggap lebih krusial untuk mencegah pembentukan harga semu. Ia optimistis respons positif investor terhadap reformasi ini akan menstabilkan pasar mulai Senin esok.
Terkait strategi investasi, Rosan menjelaskan bahwa Danantara memiliki fleksibilitas untuk masuk ke aset publik melalui evaluasi independen. "Kalau pricing menarik, Danantara dapat masuk. Hampir di seluruh bursa dunia, sovereign wealth fund ikut menjadi bagian dari struktur pasar dengan porsi 15% hingga 30%," jelasnya.
Investasi tersebut bahkan berpotensi melibatkan kolaborasi dengan sovereign wealth fund dari luar negeri. Sejalan dengan itu, reformasi pasar juga menyasar pemisahan struktur kepemilikan dan keanggotaan bursa yang saat ini masih didominasi perusahaan sekuritas.
Langkah demutualisasi ini dinilai penting untuk meningkatkan tata kelola dan daya tarik bagi investor institusional global. "Desainnya memang dipisahkan agar struktur bursa lebih transparan dan sehat. Dengan begitu, investor global akan lebih percaya," tegas Rosan.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





