Rabu, 15 April 2026

Harga Emas Bergejolak, HRTA Buka-bukaan soal Prospeknya

Penulis : Indah Handayani
10 Feb 2026 | 09:47 WIB
BAGIKAN
Emasku dari Hartadinata Abadi (HRTA)
Sumber; Ist
Emasku dari Hartadinata Abadi (HRTA) Sumber; Ist

JAKARTA, investor.id – Pergerakan harga emas global yang sempat melonjak tajam lalu terkoreksi dalam beberapa hari terakhir dinilai tidak mengubah prospek jangka menengah logam mulia tersebut. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) menilai volatilitas harga justru menegaskan peran emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Harga emas dunia mencatat rekor tertinggi sepanjang masa pada 29 Januari 2026 di level US$ 5.594 per ons troi, melonjak dari posisi US$ 4.372 per ons troi pada awal tahun. Secara year to date (YTD) dan month to date (MTD), harga emas telah naik sekitar 24%.

Dalam denominasi rupiah, kenaikannya bahkan lebih tinggi, sempat menyentuh Rp 3.021.839 per gram atau tumbuh sekitar 28% YTD/MTD, seiring pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 16.790 per dolar Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

Namun demikian, reli harga tersebut diikuti koreksi tajam lebih dari 10%, dengan harga emas global sempat dibanting ke kisaran US$ 4.400 per ons troi. Koreksi dipicu penguatan dolar AS serta respons pasar terhadap ekspektasi kebijakan moneter AS yang cenderung lebih ketat.

Di pasar domestik, volatilitas juga terasa ketika harga emas batangan sempat anjlok sekitar Rp 183.000 per gram hanya dalam satu hari pada awal Februari 2026. Hal itu mencerminkan sensitivitas pasar terhadap dinamika global. Meski demikian, harga tetap berada jauh di atas level awal tahun, menegaskan bahwa tren jangka menengah emas masih berada dalam fase penguatan.

Direktur Investor Relations Hartadinata Abadi (HTRA) Thendra Crisnanda mengatakan, koreksi jangka pendek ini justru menunjukkan karakter emas sebagai aset yang likuid dan responsif terhadap dinamika global, sekaligus membuka peluang akumulasi bagi konsumen yang ingin menabung untuk jangka panjang.

“Ketidakpastian geopolitik, risiko fiskal, serta arah kebijakan moneter global terus mendorong minat terhadap emas,” ungkapnya dalam keterangan pers, Selasa (10/2/2026).

Menurutnya, kenaikan harga emas pada awal 2026 tidak lepas dari meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari isu geopolitik hingga kekhawatiran fiskal di AS. Kondisi tersebut mendorong emas kembali dilirik sebagai instrumen penyimpan nilai.

Dari sisi makroekonomi, lanjut dia, inflasi AS tercatat stabil di kisaran 2%, dengan The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Bank Indonesia juga menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sementara inflasi domestik pada Desember 2025 berada di level 2,9%, masih dalam target bank sentral. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sekitar 5%.

Tidak hanya itu, Thendra menambahkan, permintaan global juga tetap solid, tercermin dari pembelian emas oleh bank sentral dunia. Data perdagangan Swiss menunjukkan ekspor emas Swiss melonjak 27% secara bulanan pada Desember 2025.

“Sementara itu, World Gold Council mencatat AS masih menjadi pemegang cadangan emas terbesar dunia dengan 8.133 ton, disusul negara-negara Eropa Barat, Eropa Timur dan Tengah, serta China,” tambahnya.

Proyeksi 2026 Tetap Tinggi

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 13 menit yang lalu

Lahan Bersertifikat Masuk Hutan Cagar Alam, Warga Ngadu ke DPR

Sejumlah perwakilan warga Desa Pulau Panci, Kalsel menyampaikan keresahan ke DPR terkait lahan yang kini masuk kawasan Hutan Cagar Alam.
National 29 menit yang lalu

Muktamar NU Momentum Murnikan Organisasi dari Kepentingan Aktor Politik

Tokoh muda NU HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy mendorong agar Mukatamar NU bersih dari aktor politik dan kepentingannya.
Market 51 menit yang lalu

Pefindo Catat Pipeline Obligasi Rp 66,28 Triliun per Maret 2026

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat total mandat penerbitan surat utang korporasi yang berada dalam pipeline capai Rp 66,28 T.
Business 1 jam yang lalu

Kinerja Agen Menguat Seiring Pemulihan Pasar Properti

Di tengah perubahan global, Ray White melihat peluang pertumbuhan sektor properti melalui peningkatan permintaan pasar.
National 1 jam yang lalu

MAKI Tagih Lagi Janji KPK Tahan Satori dan Heri Gunawan

Koordinator MAKI Boyamin Saiman kembali menagih janji Ketua KPK Setyo Budiyanto untuk menahan dua tersangka kasus korupsi CSR BI-OJK.
National 2 jam yang lalu

Terima Putusan Kasus Proyek Fiktif Telkom, Jaksa Ajukan Banding terhadap 4 Terdakwa

Kejati DKI Jakarta terima putusan Pengadilan Tipikor terkait kasus proyek fiktif PT Telkom periode 2016-2028 yang rugikan negara Rp464,9 M.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia