BRI (BBRI) Januari 2026: Kredit Loncat, Laba Lompat 85,4%
JAKARTA, investor.id — PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan awal tahun yang impresif dengan perolehan laba bersih individual senilai Rp 3,72 triliun pada Januari 2026. Angka ini melonjak 85,40% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy), didorong oleh pemulihan pendapatan bunga dan efisiensi beban provisi.
Pencapaian laba ini sangat dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect) pada Januari 2025, di mana saat itu laba BRI sempat tertekan akibat pencadangan besar-besaran untuk program hapus buku kredit UMKM. Sebagai gambaran, laba bersih BRI pada Januari 2025 hanya sebesar Rp 2,00 triliun, merosot dalam 58,34% yoy.
Jika mengacu laporan keuangan BRI pada Minggu (1/3/2026), laba bersih pada Januari 2026 sebenarnya juga tercatat menurun 24,87% dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai Rp 4,95 triliun.
Memasuki awal tahun 2026, sisi intermediasi menjadi motor utama pertumbuhan. Kredit BRI melompat 11,95% yoy menjadi Rp 1.354,08 triliun. Ini merupakan level pertumbuhan tertinggi dalam 12 bulan terakhir, melampaui guidance tahunan manajemen secara grup yang dipatok di angka 7-9%.
Baca Juga:
Laba BBRI DisorotPendapatan bunga dibukukan Rp 13,24 triliun atau naik 1,90% yoy, meski tumbuh tipis tetapi juga mencatat pertumbuhan tertinggi sejak 12 bulan terakhir. Sementara tekanan beban bunga mulai mereda, dimana telah terjadi penurunan 15,21% yoy menjadi Rp 3,45 triliun.
Alhasil, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) berhasil dikerek 9,71% yoy menjadi Rp 9,78 triliun.
Kinerja positif itu pada gilirannya ikut mendongkrak margin bunga bersih (net interest margin/NIM) yang naik dari posisi 6,15% pada 1M25 menjadi 6,32% di 1M26. Adapun BRI Grup memasang NIM dapat dijaga dalam di kisaran 7,4% hingga 7,8% untuk tahun 2026.
Baca Juga:
Ada-ada Saja Ulah Investor di Saham BBRISelain itu, perolehan komisi/fee pada Januari 2026 mulai tumbuh positif sebesar 3,33% yoy menjadi sebesar Rp 1,65 triliun. Sebelumnya pada tahun lalu, pos ini mencatatkan penurunan hampir sepanjang tahun, kecuali pada Desember.
Pemulihan kinerja juga tecermin dari biaya kredit (cost of credit/CoC) yang turun signifikan dari 5,57% ke level 3,67%. Hal ini dimungkinkan karena beban provisi yang lebih moderat, yakni Rp 4,12 triliun atau turun 26,63% yoy.
Likuiditas Mengetat, Muncul Penawaran Obligasi
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran
Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan
Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial
Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun
Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.PTPP Perkuat Fundamental Keuangan melalui Langkah Transformasi dan Penyesuaian Berbasis Prudence
PTPP memperkuat langkah transformasi bisnis dan fondasi keuangan Perseroan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan.Tag Terpopuler
Terpopuler






