Sabtu, 4 April 2026

Jejaring, Kunci Eksis dan Kesuksesan

Penulis : ah
3 Aug 2015 | 16:03 WIB
BAGIKAN

Bangku pendidikan saja tak akan cukup untuk membuat seseorang mampu bertahan hidup dan meraih kesuksesan. Agar eksis dan sukses, ia harus memperbanyak dan mempererat tali silaturahmi. Dengan kata lain, ia mesti bersosialisasi dengan banyak orang dan membangun jejaring (network).


Advertisement

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri termasuk yang percaya betul terhadap kehebatan jejaring. Bagi Hanif, jejaring yang kuat tak hanya bisa menjadikan seseorang tetap eksis, tapi juga dapat mengantarkannya ke puncak kesuksesan.


“Saya percaya, bangku kuliah saja tak akan membuat seseorang bisa survive. Dia akan survive kalau berkuliah dan berjejaring,” tutur Hanif kepada wartawan Investor Daily Nasori, Kunradus Aliandu, dan Margye J Waisapy di Jakarta, baru-baru ini.


Memperkuat jejaring, terutama yang menyangkut aktivitas sosial, memang sudah menjadi etos pria asal Semarang ini. Etos itu pula yang kemudian mengantarkannya ke panggung politik praktis, sampai akhirnya ia dipercaya Presiden Jokowi mengemban tugas sebagai Menaker di Kabinet Kerja.


Bagaimana pandangan pria kelahiran 6 Juni 1972 ini tentang pentingnya eksistensi seseorang? Siapa orang-orang yang menjadi panutannya? Obsesi apa lagi yang ingin diraihnya? Berikut petikan lengkap wawancara tersebut.


Sebelum dipercaya menjadi Menaker, aktivitas apa saja yang Anda lakukan?

Latar belakang saya aktivis. Sejak mahasiswa, saya menghabiskan hampir seluruh hidup untuk aktivitas sosial. Di gerakan mahasiswa, saya aktif di jurnalistik, teater, pecinta alam, dan mengorganisasi rakyat. Dulu, ada tiga sektor yang menjadi perhatian utama kami di Salatiga, yaitu buruh, petani, dan kaum miskin kota. Kami juga membantu daerah lain, seperti Wonosobo dan Yogyakarta.


Saya menggeluti dunia aktivis sejak hari pertama masuk kuliah. Saya bahkan berani meninggalkan kelas pertama kuliah saya di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo, Salatiga, Jawa Tengah. Saya memilih ikut pelatihan bersama para intelektual dan pentolan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di pesantren KH Mahfudz Ridwan, sahabat almarhum Gus Dur saat kuliah di Baghdad.


Sejak itu, saya menancapkan bendera di mana-mana. Saat orang lain bertemu pacar di malam Minggu atau bertemu keluarga, saya malah sibuk dengan kegiatan sosial. Dulu, kalau ada seminar, biasanya saya menjadi salah satu pembicaranya. Di komunitas teater, saya bikin pelatihan di Jombang, Semarang, Yogyakarta, Solo, dan daerah lainnya.


Kenalan kami menjadi banyak, ini kaitannya dengan networking. Kalau bendera kami berkibar di mana-mana, network pun menjadi luas. Kami turun ke bawah, mengorganisasi petani, pedagang kaki lima, anak jalanan, buruh, dan korban limbah pabrik. Kami sudah terbiasa turun ke kampung, perkebunan, dan komunitaskomunitas petani di desa. Kami pernah berbulan-bulan tinggal di sebuah desa di Boyolali (Jawa Tengah), mengadvokasi masyarakat setempat. Kami bertarung dengan kepala desa untuk melindungi warga di sana.


Apakah latar belakang Anda sebagai aktivis ‘nyambung’ dengan platform pembangunan pemerintah saat ini, khususnya di bidang ketenagakerjaan?

Ini soal perspektif. Kalau bertolak dari komunitas rakyat, kemudian bergeser ke pemerintah, saya sedikit-banyak tahu cara pandang rakyat. Kalau biasa bergaul dengan teman-teman buruh, petani, dan aktivis, kan kita tahu bagaimana cara mereka memandang pemerintah. Dengan begitu, saya bisa mencari solusi terbaik.


Misalnya isu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Uang yang dikelola dan dikembangkannya harus memberikan manfaat lebih besar bagi buruh di satu sisi. Di sisi lain, juga harus memberikan manfaat besar bagi kepentingan negara secara nasional. Jadi, bukan buruh untuk buruh saja, tapi buruh untuk republik, bisa begitu.


Cerita Anda sebagai politisi?

Politik dan dunia mahasiswa seperti rangkaian saja. Saya dari dunia mahasiswa ke LSM, kemudian ke partai. Kalau ke partai, ada faktor kebetulannya. Yang membawa saya ke Jakarta adalah politisi. Namanya, Pak Matori Abdul Djalil (almarhum, mantan menteri pertahanan era Presiden Megawati, red).


Begitu lulus kuliah, saya ditantang beliau. Tantangannya menarik, saya disuruh jatuhin Soeharto. Dia ajak saya ke Jakarta. Saya hanya bermodalkan ransel dan beberapa potong baju. Saya tinggal di sebuah kantor, tidur di atas meja rapat, bantalannya buku Yellow Pages. Saya tidur di atas meja karena ada kipasnya. Jakarta kan panas.


Saya ke Jakarta pada awal 1997. Nah, tak lama kemudian terjadilah perubahan politik di negeri ini. Reformasi, itu juga bagian dari investasi kalau saya boleh klaim. Saya dan teman-teman aktivis 90-an banyak investasi di situ. Setelah itu, kesempatan mendirikan partai terbuka lebar. Komunitas Nahdlatul Ulama (NU) kan banyak menyampaikan aspirasi kepada PBNU untuk mendirikan partai. Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) menugaskan kepada Pak Matori Abdul Djalil untuk memimpin partai yang akan didirikan NU.


Saya termasuk mendapatkan tugas dari Pak Matori untuk menyiapkan draf pendirian partai baru, logo, naskah deklarasi, hingga anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (ADART). Ada dua draf Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yaitu dari Jakarta dan Surabaya. Yang dari Jakarta berasal dari Pak Matori, itu dari saya.


Kenapa Anda bersedia menerima tugas sebagai Menaker?

Saya ini kader. Saya harus siap ditempatkan di mana saja. Sebagai politisi, pasti punya imajinasi untuk duduk di eksekutif dan legislatif. Keduanya pasti nggak masalah, hanya tergantung peluang dan sejauh mana kompetensi bisa match dengan penugasan yang diberikan. Kalau kedua itu ada, penugasan di manapun bisa.


Apa yang Anda kejar sebagai Menaker?

Karena pemerintah berkaitan dengan kebijakan, saya bisa melahirkan kebijakan yang bisa memperbaiki bidang ketenagakerjaan. Masalah ketenagkerjaan di negeri ini masih kompleks walaupun bukan masalah yang berdiri sendiri dan bukan area Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) saja.


Kalau Anda lihat di kantor ini ada tagline ‘saatnya memanusiakan manusia’. Flosofinya, ada dua hal penting yang membedakan manusia dengan binatang, yaitu berpikir dan bekerja. Jadi, manusia harus dikasih pekerjaan supaya manusiawi. Tetapi bukan Kemenaker yang memberikan pekerjaan. Tugas utama kami adalah menyiapkan tenaga kerja, sehingga mereka punya kapasitas yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan.


Pekerjaan kan di-drive oleh pertumbuhan ekonomi. Kedua, bagi mereka yang sudah

bekerja pun belum tentu dalam situasi yang manusiawi. Ada juga yang bekerja tapi mereka terjebak dalam situasi yang inhuman, yaitu manakala pekerjaannya tidak layak atau upahnya tidak layak. Maka kualitas pekerjaan dan upah menjadi sesuatu yang penting untuk mendorong agar pekerja dapat hidup layak.


Upah layak sangat relatif, tergantung perkembangan ekonomi juga. Hari ini misalnya orang dikasih Rp 10 juta atau Rp 5 juta per bulan cukup layak. Tapi ke depan belum tentu. Saat inflasi tinggi, lain lagi. Belum lagi kalau berbicara tentang selisih uang keluar dan masuk. Kalau upahnya cuma Rp 1 juta, tapi pendidikan dan kesehatannya gratis atau ongkos transportasinya murah sehingga mereka bisa menabung, ya bagus.


Strategi yang Anda terapkan?

Kami mendorong percepatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan meningkatkan sertifikasi profesi. Kami punya program 3 in 1, yaitu pelatihan, sertifikasi, dan penempatan sekaligus. Pelatihan harus diiringi sertifikasi supaya tenaga kerja bisa berkompetisi dengan yang lain. Makanya Balai Latihan Kerja (BLK) dan kelompok masyarakat bisa didorong.


Obsesi hidup Anda?

Menulis novel. Saya baru menulis puisi, cerpen, dan novelet (novel pendek). Saya juga sudah menulis naskah teater dan buku, serta membuat album lagu. Yang belum itu novel. Saya ingin menulis novel bernuansa politik tapi romantis.


Siapa tokoh panutan Anda?

Yang cukup memengaruhi saya adalah guru-guru politik atau mentor politik saya. Dari Pak Matori hingga Gus Dur. Pak Matori, misalnya, mengajarkan bagaimana menjadi politisi yang tangguh, kuat, dan profesional. Kalau Gus Dur berbeda dengan tokoh bangsa lainnya, bahkan dengan Bung Karno. Bung Karno tokoh yang hebat dan luar biasa. Gus Dur dan Bung Karno berbeda soal referensi. Referensi Bung Karno selain Indonesia adalah Barat.


Sedangkan Gus Dur ada khazanah pesantrennya. Itulah yang membuat pikiran dan tindakan Gus Dur lebih kaya. Di satu sisi, ia menempatkan tradisi atau kebudayaan Indonesia dalam dunia yang modern. Ideologi dan garis politik Gus Dur tidak pernah bergeser, tapi taktiknya bisa berubah-ubah. Makanya banyak orang salah membaca Gus Dur kalau dari manuver atau langkahnya saja. Tapi ada prinsip politik yang tidak berubah, yaitu soal keberpihakan kepada umat, pluralisme, dan kepentingan orang banyak. (*)


Baca selanjutnya di

http://id.beritasatu.com/profil/buku-film-dan-lagu/123727

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


International 2 menit yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.
International 26 menit yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.
National 41 menit yang lalu

Banjir Setinggi 30-80 cm Rendam Sejumlah Wilayah di Tangerang Selatan

Hujan deras yang mengguyur sejak pagi membuat sejumlah wilayah di Tangerang Selatan terendam banjir dengan ketinggian 30-80 cm.
International 1 jam yang lalu

Kejutkan Dunia, Pemimpin Militer Burkina Faso Lontarkan Pernyataan Kontroversial

Pemimpin militer Burkina Faso Ibrahim Traore lontarkan pernyataan kontroversial, sebut demokrasi membunuh dan minta rakyat lupakan pemilu.
Business 1 jam yang lalu

KLH dan Pemprov Sulsel Bangun PSEL dengan Investasi Rp 3 Triliun

Kementerian LH bersama Pemprov Sulsel memulai pembangunan Pengolah Sampah Energi Listrik (PSEL) dengan nilai investasi Rp 3 triliun.
Business 2 jam yang lalu

PTPP Perkuat Fundamental Keuangan melalui Langkah Transformasi dan Penyesuaian Berbasis Prudence

PTPP memperkuat langkah transformasi bisnis dan fondasi keuangan Perseroan sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia