DPR Angkat Bicara Soal Kenaikan Free Float 15%
JAKARTA, investor.id – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menegaskan bahwa kebijakan peningkatan porsi saham beredar di publik (free float) hingga minimal 15% merupakan salah satu isu penting yang perlu segera diperkuat dalam pengembangan pasar modal nasional.
Misbakhun mengatakan, pasar modal diisi oleh perusahaan yang mencari pendanaan murah dari publik, sehingga kewajiban free float harus memastikan adanya fairness bagi investor ritel.
Dia menyoroti praktik sejumlah emiten yang hanya melepas saham dalam porsi kecil saat IPO, sementara kepemilikan mayoritas terkunci pada satu pihak.
Baca Juga:
Imbas Free Float IPO 15%Kondisi ini, menurutnya, dapat menciptakan pembentukan harga yang tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan pasar, sekaligus membuka ruang manuver yang tidak sehat di pasar sekunder.
“Jangan sampai emiten hanya menjual 5% atau 7,5% lalu membentuk harga yang kuat di bursa. Sementara 90% saham berada di satu korporasi dan dipakai sebagai dasar profiling untuk mengontrol harga,” ujarnya dalam Market Outlook 2026 di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Dia menilai, praktik tersebut bisa diikuti dengan langkah repo (repurchase agreement) untuk memperoleh pendanaan lebih besar, sehingga publik hanya menikmati porsi kecil meskipun kinerja emiten meningkat.
Misbakhun menekankan bahwa peningkatan free float perlu dibangun atas prinsip fairness dan tata kelola yang baik. Dia merujuk pada praktik negara-negara dengan literasi pasar modal tinggi, di mana masyarakat dan institusi keuangan berperan aktif menjaga dinamika perdagangan.
“Ini yang mendasari pemikiran saya, jangan sampai pembentukan harga yang dinikmati pasar modal hanya menguntungkan pemegang saham mayoritas. Masyarakat harus menikmati manfaatnya,” tegasnya.
Menurut Misbakhun, industri pasar modal memegang peranan strategis bagi perekonomian nasional karena menjadi sumber pembiayaan usaha dan cerminan kepercayaan investor global. Namun, edukasi publik menjadi tantangan tersendiri.
“Memahamkan ini kepada masyarakat tidak mudah. Banyak yang hanya melihat saham gorengan, padahal pembentukan harga terjadi setiap hari berdasarkan mekanisme pasar,” katanya.
Dia menambahkan, pasar modal merupakan wajah ekonomi Indonesia, tempat perusahaan BUMN hingga sektor swasta berkontribusi dalam menggerakkan roda perekonomian.
Oleh sebab itu, peningkatan free float dan distribusi kepemilikan yang lebih sehat menjadi bagian penting untuk memperkuat kredibilitas pasar modal dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
Editor: Erta Darwati
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






