Minggu, 5 April 2026

Kecelakaan Bus-Truk Sebagian Besar Disebabkan Faktor Manusia

Penulis : Thresa Sandra Desfika
20 Apr 2021 | 16:13 WIB
BAGIKAN
Logo Kemenhub.
Logo Kemenhub.

JAKARTA, investor.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebagian besar kecelakaan bus dan truk diakibatkan faktor manusia, terutama penguasaan terhadap kendaraan dan medan jalan yang belum maksimal.

“Sebagian besar kecelakaan diakibatkan oleh faktor manusia, yaitu karena penguasaan kendaraan dan medan yang belum maksimal. Berdasarkan data dari Korlantas Polri, kecelakaan lalu lintas yang terjadi di Indonesia mengakibatkan setiap 1 jam ada 2-3 orang yang meninggal dunia. Untuk melakukan perbaikan ini semuanya butuh kerja sama semua pihak,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi dalam Webinar Sinergi Pemerintah dan Operator dalam Mewujudkan Angkutan yang Berkeselamatan, Selasa (20/4)

Kecelakaan Bus-Truk Sebagian Besar Disebabkan Faktor Manusia
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Budi Setiyadi. Foto: IST

Dia menambahkan, ada beberapa pihak yang dirasa cukup berpengaruh dalam menciptakan Angkutan yang Berkeselamatan.

Pertama, yaitu pengguna jasa transportasi di mana masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi harus memberikan kontribusi yang maksimal terhadap ketersediaan sarana transportasi.

ADVERTISEMENT

Pihak kedua, yaitu pemilik ataupun pengelola yang diharapkan mampu memberikan pelayanan dan pengadaan sarana transportasi secara optimal.

Sementara pihak terakhir adalah regulator yang mana dalam hal ini pemerintah sebagai pengatur sistem transportasi berperan memberi dan mengeluarkan kebijakan bagi pihak user dan operator dalam sistem transportasi tersebut.

“Kecelakaan truk dan bus adalah yang terbesar ke-3 setelah sepeda motor. Walaupun tidak sebesar kecelakaan sepeda motor yang sampai 72%. Namun kalau kecelakaan melibatkan bus pasti jumlah korbannya cukup banyak misalnya yang terjadi di Sumedang dan Cikidang. Tingkat fatalitas kecelakaan di Indonesia dibandingkan Eropa dan Amerika yang grafiknya menurun, justru Indonesia mengalami peningkatan,” terang Budi.

Berdasarkan data, ada beberapa penyebab kecelakaan secara umum yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu akibat speleng kemudi yang terjadi pada kecelakaan bus Simpati Star Jalan Medan-Aceh (22 Desember 2017), over dimension over loading yang terjadi di Tol Cipali KM 113+200 (1 Desember 2019), akibat pecah ban yang terjadi di Cipali (21 Maret 2014), rem blong di tikungan Emen Subang (10 Februari 2018), dan patah rangka terjadi tabrakan truk di Batam (14 September 2013).

“Meningkatkan aspek keselamatan menjadi tanggung jawab kita bersama. Ini adalah kata kuncinya, jangan kita saling menyalahkan, marilah kita menyampaikan bersama," sebut Budi.

Dia menuturkan, pihaknya sampai saat ini juga masih butuh masukan jika memang belum maksimal dalam menerapkan lima pilar aksi keselamatan jalan, yaitu manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, dan penanganan pra dan pasca kecelakaan.

Untuk mewujudkan angkutan yang berkeselamatan, sebut Budi Setiyadi, Kemenhub telah melakukan pengawasan terhadap keberadaan angkutan ilegal, bus antar kota yang tidak masuk terminal, bus pariwisata yang tidak diwajibkan masuk terminal, dan truk tidak sesuai standar muat dan dimensi.

“Saat ini kami dari pemerintah sudah melakukan sejumlah upaya, tinggal bagaimana operator melaksanakan regulasi ini. Mudah-mudahan ini dapat segera diimplementasikan oleh kita sehingga aspek keselamatan kendaraan barang dan bus semakin baik di Indonesia,” kata Budi.

Sementara itu, Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Ahmad Wildan mengusulkan, dua jenis mitigasi terkait antisipasi kecelakaan bus dan truk, yaitu active safety dan passive safety.

"Untuk active safety dengan me-review regulasi terkait rancang bangun kendaraan bermotor, kemudian harus mengimplementasikan sistem manajemen keselamatan (SMK), mendorong tiap karoseri memiliki training centre, dan agen tunggal pemegang merek (ATPM) wajib mengaudit karoseri. Sementara passive safety dengan program emergency response plan dan program pelatihan keadaan darurat,” jelas dia.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Prabowo dan SBY Lepas Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Presiden Prabowo dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut melepas tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon untuk dimakamkan.
InveStory 2 jam yang lalu

Inspiratif! Rayyan Shahab Diterima 15 Kampus Top Dunia Tanpa Kursus Bahasa Inggris

Siswa MAN IC Pekalongan, Ahmad Ali Rayyan Shahab mencatat prestasi luar biasa. Di usia 17 tahun dia diterima 15 kampus dunia.
Business 2 jam yang lalu

Private AI Bantu Dunia Bisnis Kurangi Risiko 

- Tekanan terhadap perusahaan Indonesia saat ini terasa dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, semua orang bicara soal AI, mulai dari chatbot, analitik prediktif, sampai agen AI yang bisa mengotomatisasi proses bisnis.
Business 2 jam yang lalu

MPMX Raih Laba Bersih Rp 462 Miliar pada 2025

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), perusahaan konsumer  otomotif dan transportasi di Indonesia hari ini melaporkan hasil kinerja keuangan  untuk tahun buku 2025 yang telah diaudit. Perseroan tetap mempertahankan fundamental  bisnis yang solid di tengah dinamika kondisi pasar.  
Market 5 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 6 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia