Kurangnya Kepemimpinan Berbasis Data Bisa Menghambat Transformasi Digital
JAKARTA, investor.id — Di tengah gejolak ketidakpastian ekonomi global, perusahaan dituntut untuk berlari kencang: menekan biaya operasional sekaligus mampu beradaptasi cepat saat peluang dan tantangan muncul.
Efisiensi operasional, pengambilan keputusan berbasis data, serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor krusial dalam menjaga kelangsungan bisnis.
Sherlie Karnidta, Country Manager Cloudera Indonesia, mengatakan, Akan tetapi, membangun organisasi yang punya budaya “digerakkan oleh data” masih menghadapi tantangan besar. Fragmentasi data, literasi yang rendah, serta kurangnya kepemimpinan berbasis data menghambat transformasi digital.
“Organisasi harus berinvestasi pada platform hybrid multi-cloud tepercaya, yang menjamin kualitas data, tata kelola dan keamanan data di semua lingkungan. Perusahaan juga harus mendesain ekosistem data yang intuitif dan dilengkapi dengan tool modern, memberdayakan karyawan di tiap level untuk mengakses dan menganalisis data yang mereka butuhkan dengan mudah,” kata Sherlie di Jakarta, baru-baru ini.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Sherlie memberi tips sederhana. “Mulailah dengan fondasi data yang tepercaya. Pastikan data Anda bersih, terstruktur, dan mudah diakses. Setelah itu, berikan tim Anda alat self-service untuk menggali insight,” ujarnya.
Ini juga berlaku untuk mereka yang masih mengandalkan infrastruktur on-premise. Untuk itulah Cloudera memperkenalkan Cloudera Data Visualization, yang memberikan pelanggan on-prem kemampuan berkolaborasi dan melakukan visualisasi data secara mandiri yang signifikan tanpa mengorbankan keamanan dan kendali atas data mereka.
Langkah berikutnya adalah tata kelola yang solid. Untuk makin memperkuat platform yang ada, pada 2024 lalu, Cloudera mengakuisisi Octopai supaya perusahaan ini dapat memberdayakan organisasi dengan visibilitas yang lebih baik di berbagai solusi data dan dapat mendukung AI, analitik prediktif, dan tool untuk membuat keputusan lainnya dengan data tepercaya.
“Dengan 50 konektor sumber data berpadu dengan Shared Data Experience (SDX) untuk keamanan dan tata kelola terintegrasi, penawaran baru ini memungkinkan perusahaan untuk mengidentifikasi, menata dan memanfaatkan data yang andal, dan pada saat yang sama menjaga standar keamanan yang ketat,” ujarnya.
Kini, investasi pada infrastruktur data tak lagi soal berapa besar modal yang dicairkan, melainkan seberapa pintar dan skalabel solusi yang dipilih. Terbukti, bank-bank besar seperti DBS dan OCBC mulai alihkan anggaran mereka ke platform modern, demi menopang inisiatif AI jangka panjang.
Tak heran, di saat banyak bisnis masih bertanya-tanya bagaimana beradaptasi dengan realita digital baru, Cloudera justru tumbuh pesat. Perusahaan baru-baru ini mencetak pendapatan tahunan di atas US$1 miliar, menegaskan posisinya di antara 1% penyedia perangkat lunak enterprise terbesar di dunia.
“Semakin banyak perusahaan berinvestasi di AI dan kemampuan data, semakin penting peran Cloudera sebagai mitra teknologi,” kata Sherlie.
Akses ke Data Bersih
Cloudera memahami situasi ini sehingga ingin memberi organisasi satu ‘rumah data’ terpadu. Bayangkan hanya dengan satu platform, Anda bisa menggabungkan data engineering, warehouse, machine learning, hingga analitik real-time, baik di on-premise, private cloud, maupun public cloud. Tidak perlu lagi lompat-lompat antar sistem atau beli lisensi berlapis.
“Cloudera memastikan akses ke data yang ‘bersih’, tepercaya, dan real-time, yang sangat penting bagi pemimpin bisnis yang harus membuat keputusan berdasarkan informasi yang relevan dan akurat. Dengan data fabric yang mencakup edge hingga AI dan menggabungkan sumber data dari batch data maupun streaming data, Cloudera menyediakan kelincahan yang dibutuhkan untuk bertindak berdasarkan insight secara instan,” ujar Sherlie.
Tak hanya itu, kata dia, Cloudera juga menghadirkan AI Inference Service dan Agent Studio. Dari laporan Future of Enterprise AI Agents diketahui 94% organisasi global yakin agen AI akan jadi alat penting mereka. Dengan fitur ini, perusahaan bisa otomatisasi alur kerja, mulai dari analitik sederhana hingga skenario kompleks, tanpa menunggu campur tangan tim IT, untuk mempercepat penciptaan nilai bisnis.
Manfaat ini sudah dirasakan sendiri oleh dua perusahaan nasional Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan PT iForte Solusi Infotek (iForte), salah satu pemain besar di industri telekomunikasi dan layanan Internet.
BRI berhasil memangkas waktu pembuatan insight dari hitungan hari menjadi jam, sekaligus menurunkan biaya permintaan data ad hoc hingga 75%. Ini terjadi sejak BRI mampu menghancurkan silo pada data dan memberikan kemerdekaan kepada lebih dari 7.000 karyawan bank itu untuk mengakses dan menganalisis data secara mandiri. Itu terjadi sejak BRI memanfaatkan layanan Cloudera. Adapun iForte mampu mempercepat pemrosesan data dari dua hari menjadi satu jam saja.
Bukan hanya perbankan dan telekomunikasi. Sektor manufaktur, ritel, hingga kesehatan pun mulai bergerak. Sekitar 67% manufaktur sekarang memprioritaskan analitik rantai pasok, e-commerce memantau harga dan logistik secara real time, sementara di rumah sakit, AI dapat membantu dokter mengambil keputusan klinis lebih cepat.
Editor: Imam Suhartadi
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






