Kesejahteraan Petani Meningkat, NTP Februari 2026 Melonjak ke Level 125,45
JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan kesejahteraan petani di Indonesia pada awal tahun 2026. Hal ini tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Februari 2026 yang menembus angka 125,45, atau mengalami kenaikan sebesar 1,50% dibandingkan bulan sebelumnya (month to month/mtm).
Kenaikan NTP ini mengindikasikan bahwa harga hasil panen yang diterima petani tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa yang harus mereka bayar untuk kebutuhan konsumsi maupun produksi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan ini dipicu oleh selisih pertumbuhan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 2,17% dengan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya naik 0,65%.
“NTP nasional Februari 2026 sebesar 125,45 atau naik 1,50% dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani naik 2,17%, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani sebesar 0,65%,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Berdasarkan subsektor, hortikultura mencatatkan lonjakan paling tajam sebesar 16,68% ke posisi 139,57. Kenaikan juga diikuti oleh subsektor peternakan yang naik 1,68% (103,62), perikanan meningkat 0,72% (107,50), serta tanaman perkebunan rakyat yang tumbuh tipis 0,24% (158,34).
Namun, tren positif ini tidak terjadi pada subsektor tanaman pangan yang justru terkontraksi 0,88%. Komoditas jagung menjadi faktor utama yang menekan angka tersebut.
“Subsektor tanaman pangan mengalami penurunan NTP sebesar 0,88%. Penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima turun 0,08%, sementara indeks harga yang dibayar naik 0,81%. Komoditas yang dominan memengaruhi penurunan ini terutama jagung,” jelas Ateng.
Selain sektor pertanian secara umum, kesejahteraan nelayan juga mengalami perbaikan. Nilai Tukar Nelayan (NTN) tercatat naik 0,35% pada periode yang sama.
“Nilai tukar nelayan naik 0,35% karena indeks harga yang diterima naik 0,71%, lebih tinggi dari yang dibayar sebesar 0,35%,” tambah Ateng.
Di sisi lain, BPS mencatat anomali pada pergerakan harga beras. Meski harga rata-rata di tingkat penggilingan turun 0,33% secara bulanan, harga di tingkat grosir dan eceran justru merangkak naik masing-masing sebesar 0,46% dan 0,43%.
Secara kewilayahan, Jawa Timur menjadi provinsi dengan kenaikan NTP tertinggi nasional mencapai 5,46%. Sebaliknya, penurunan terdalam terjadi di Sulawesi Barat sebesar 3,75%. Adapun Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional tercatat menguat 2,02% ke level 130,74.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






