Penerapan AI Sudah Masuk ke Inti Bisnis
JAKARTA, investor.id - Beberapa tahun lalu, banyak organisasi di Asia Pasifik melihat AI sebagai sesuatu yang menjanjikan. Sesuatu yang menarik, tapi belum sepenuhnya jelas dampaknya.
Sekarang situasinya berbeda. Organisasi di Asia Pasifik, terutama di Indonesia, sudah tak punya waktu lagi buat sekadar coba-coba. Sekarang para pemimpin bisnis berfokus bagaimana mengintegrasikan AI ke dalam inti platform digital mereka, dalam skala besar dan dengan hasil yang terukur.
Red Hat memprediksi, era AI kini bergerak menuju spesialisasi dan organisasi-organisasi menginginkan sistem yang disesuaikan dengan industri, data, dan realitas operasional mereka. Mereka juga menginginkan kebebasan untuk menjalankan beban kerja AI di lingkungan yang paling masuk akal baik di lingkungan on-premise, di cloud, maupun di edge.
“Saya yakin, kombinasi antara kecerdasan yang dibuat khusus dan fleksibilitas arsitektur inilah yang akan membentuk tren-tren yang menentukan pada tahun 2026,” kata Vony Tjiu, Red Hat Country Manager for Indonesia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Di Indonesia, AI sudah mulai masuk ke inti bisnis retail, keuangan, telekomunikasi, dan manufaktur. Yang menarik adalah studi IDC terbaru yang menemukan 70% organisasi di Asia Pasifik memperkirakan agentic AI akan mendisrupsi model bisnis mereka dalam 18 bulan mendatang. Perusahaan mulai menyadari bahwa masa depan AI itu ada di sistem yang dirancang khusus buat alur kerja tertentu.
Bahkan, saking seriusnya kebutuhan akan performa ini, dipredksi pada tahun 2027, sebanyak 40% organisasi akan menggunakan custom silicon, termasuk prosesor ARM atau chip khusus AI/ML. Tujuannya jelas, supaya biaya lebih efisien tapi komputasinya tetap kencang.
Di sektor jasa keuangan, AI yang tepat guna dapat membantu mengotomatiskan proses yang kompleks dan berskala besar seperti onboarding klien baru, pemantauan transaksi, dan analisis penipuan, area-area yang hingga kini masih dilakukan secara manual.
Bagi institusi yang menghadapi tekanan regulasi dan operasional yang semakin besar, sistem AI yang dirancang khusus menawarkan cara yang lebih jelas untuk meningkatkan akurasi, menekan biaya, dan memperkuat manajemen risiko.
Vony melihat para pemimpin bisnis akan meninjau kembali strategi infrastruktur mereka untuk mendukung beban kerja AI yang semakin beragam dan menuntut. “Kita akan melihat makin meningkatnya ketertarikan terhadap layer inferensi terpadu yang bisa mendukung berbagai model AI tanpa mengorbankan performa dan penghematan biaya,” katanya.
Pada saat yang sama, terdapat momentum yang kuat untuk menghubungkan platform aplikasi enterprise dengan akselerator AI berbasis cloud, sehingga organisasi dapat mengoperasionalkan AI dalam skala besar dengan lebih mulus. Dengan memadukan platform yang fleksibel dan komputasi yang dirancang khusus, perusahaan dapat mempercepat transisi dari proyek percontohan menuju dampak bisnis yang terukur.
Seiring AI menjadi lebih kompleks, banyak organisasi mulai menyadari bahwa fondasi teknologi lama tidak dirancang untuk kebutuhan ini. Sistem virtualisasi tradisional, yang dulu cukup untuk menjalankan aplikasi enterprise, kini menghadapi keterbatasan.
AI membutuhkan performa lebih tinggi, latensi lebih rendah, dan fleksibilitas yang jauh lebih besar. Karena itu, organisasi mulai menggabungkan berbagai pendekatan seperti virtual machine, container, dan komputasi khusus, dalam satu model operasional. Tujuannya sederhana: memastikan aplikasi lama dan sistem AI baru bisa berjalan berdampingan tanpa konflik. Ini bukan sekadar upgrade teknologi. Ini adalah redefinisi infrastruktur.
Dan jika ada satu arsitektur yang muncul sebagai pemenang, itu adalah hybrid cloud. Bukan karena hype, tapi karena kebutuhan praktis. Tahun 2026, menurut Vony, hybrid cloud akan mengukuhkan posisinya sebagai model operasional standar bagi sistem enterprise cerdas.
AI membutuhkan akses ke data dalam jumlah besar. Beberapa data harus tetap berada di lingkungan on-premise karena regulasi atau sensitivitasnya. Sementara itu, model AI sering membutuhkan elastisitas komputasi yang hanya bisa diberikan public cloud. “Keseimbangan kini menjadi fondasi dalam modernisasi sistem risiko, kepatuhan, dan layanan nasabah di sektor jasa keuangan,” kata Vony.
Hybrid cloud memungkinkan keduanya. Organisasi dapat menjaga kontrol atas data sensitif, sekaligus memanfaatkan skala dan fleksibilitas cloud. Dan satu hal semakin jelas: tidak ada satu tempat tunggal untuk menjalankan AI.
Tata Kelola
Seiring AI semakin banyak digunakan, perhatian terhadap tata kelola meningkat tajam. Organisasi tidak hanya memikirkan performa model. Mereka juga memikirkan transparansi, auditabilitas, dan kepatuhan. Pada tahun 2026, perusahaan akan semakin memprioritaskan sistem AI yang dapat diaudit, dimonitor dan dikelola di lingkungan hybrid, sehingga setiap keputusan tetap dapat ditelusuri dan perilaku model dapat dikendalikan.
Di Indonesia, arah ini juga terlihat jelas. Indonesia sudah punya Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial 2020 – 2045 dan di awal 2026 ini bakal ada regulasi Etika AI yang baru. OJK juga sudah gerak cepat dengan Panduan Kode Etik untuk AI yang bertanggung jawab di industri teknologi keuangan.
Bagi banyak organisasi, tata kelola bukan lagi penghambat inovasi. Justru sebaliknya, ini adalah syarat untuk memungkinkan inovasi dalam skala besar. Tanpa tata kelola yang jelas, perusahaan tak akan berani jalan skala besar. Jadi, sistem AI yang bisa diaudit dan transparan itu sudah harga mati, apalagi buat sektor sensitif seperti jasa keuangan.
Teknologi, pada akhirnya, hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilannya adalah manusia yang menggunakannya. Permintaan akan talenta AI, cloud, dan keamanan siber terus meningkat. Namun, ketersediaannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan.
Karena itu, organisasi mulai berinvestasi pada pengembangan keahlian dan ekosistem kolaborasi. “Komunitas open source memainkan peran penting di sini, memungkinkan organisasi untuk berbagi pengetahuan dan mempercepat inovasi,” ucap Vony.
Seiring semakin banyak perusahaan berkontribusi kembali ke komunitas ini, dengan mengembangkan ide secara cepat dan bertanggung jawab, Asia Pasifik akan memperkuat posisinya dalam inovasi digital, tidak hanya sebagai konsumen namun juga sebagai kreator.
Sekitar 42% organisasi di Asia Tenggara (40% di Indonesia) telah mengimplementasikan agentic AI, baik sebagai solusi mandiri maupun terintegrasi dalam aplikasi SaaS mereka yang sudah ada, dengan fokus pada pengembangan kapasitas talenta dan menumbuhkan kemitraan publik-swasta.
Survei lain menemukan bahwa 92% knowledge worker sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan mereka. Tingginya adopsi ini didukung oleh para pemimpin bisnis, di mana 92% menyadari bahwa AI merupakan faktor penting agar mereka tetap kompetitif.
Editor: Imam Suhartadi
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






