Perang di Timteng Bisa Ganggu Ekspor Sawit, Harga Pupuk Berpotensi Naik
4 Mar 2026 | 10:30 WIB
JAKARTA, investor.id–Perang di kawasan Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi mengerek harga pupuk yang berperan vital bagi budi daya dan peningkatan produktivitas tanaman sawit di Tanah Air. Eskalasi konflik ketiga negara itu juga bisa mengganggu ekspor minyak sawit dari Indonesia yang berujung pada anjloknya harga tandan buah segar (TBS) para petani. Karena itu, mitigasi atas situasi tersebut harus dilakukan.
Menurut Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Rino Afrino, terdapat dua kekhawatiran dari para petani sawit dengan meletusnya perang di Timteng. Pertama, kenaikan harga pupuk. Saat perang Rusia-Ukraina meletus, harga pupuk melambung tinggi. Data harga pupuk 2021-2025 yang diolah Apkasindo menunjukkan, harga pupuk MOP (KCl) misalnya, di 2021 masih di bawah Rp6.000 per kilogram (kg) dan menjadi Rp18 ribu per kg ketika perang Rusia-Ukraina pecah pada 2022, di Desember 2025 hampir Rp8.000 per kg.

