Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global
JAKARTA, investor.id – Setelah rekor suhu panas yang nyaris memecahkan catatan sejarah global, kondisi bumi diprediksi akan semakin menyengat. Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) mengonfirmasi fenomena El Niño kini telah resmi tiba. Kehadirannya memicu alarm kewaspadaan di seluruh dunia karena berpotensi membawa dampak cuaca ekstrem yang masif.
"Jika kita menghadapi El Niño yang kuat di tengah tren pemanasan global jangka panjang, peluang kita untuk melihat rekor baru rata-rata suhu global tertinggi akan meningkat sangat drastis," ujar Nat Johnson selaku ahli meteorologi dari NOAA sekaligus anggota tim prakiraan El Niño seperti dikutip NPR, Sabtu (20/6/2026).
Otoritas dari Eropa, India, hingga Australia kini mulai mengeluarkan peringatan dini terkait dampak buruk yang mengintai, termasuk ancaman gelombang panas (heat waves) dan kondisi kering yang tidak normal. Meski berakar di kawasan Pasifik tropis, Johnson menjelaskan arus angin global (jet streams) akan membawa pengaruh buruk El Niño ini ke wilayah yang sangat luas.
"Hampir setiap benua akan merasakan dampak dari fenomena El Niño atau La Niña. Salah satu dampak nyatanya adalah sektor ekonomi, akibat terganggunya ekosistem laut dan industri perikanan," tambahnya, dikutip NPR.
ADVERTISEMENT
Dampak Kuat Ancam Wilayah Tropis, Termasuk Indonesia
Efek pemanasan global ini dipastikan akan menghantam wilayah tropis terlebih dahulu sebelum menyebar ke belahan bumi lain. El Niño diproyeksikan membawa kekeringan parah di sepanjang zona tropis, mulai dari Indonesia hingga ke wilayah utara Amazon.
Lebih mengkhawatirkan lagi, El Niño yang terbentuk kali ini diperkirakan masuk dalam kategori kuat.
"Ada peluang sebesar 63% bahwa El Niño yang sangat kuat akan terjadi pada periode November hingga Januari nanti. Ini berpotensi menjadi salah satu peristiwa El Niño terbesar dalam catatan sejarah meteorologi sejak tahun 1950," tulis NOAA dalam laporan resminya.
Daniel Swain, ilmuwan iklim dari Universitas California, juga memperingatkan fenomena ini akan menjadi peristiwa yang sangat signifikan di sepanjang 2026 dan dampaknya masih akan membekas hingga memasuki 2027.
Memprediksi dampak spesifik El Niño yang kuat di daratan Amerika Serikat (AS) dinilai jauh lebih kompleks karena melibatkan interaksi berbagai sistem cuaca lokal. Secara umum, pelepasan panas laut ke atmosfer akan memengaruhi sirkulasi udara dan curah hujan hingga ribuan mil jauhnya.
Selama fase El Niño tipikal, dampak terkuat biasanya terjadi pada garis lintang tengah dan tinggi saat memasuki akhir musim gugur dan musim dingin. Wilayah selatan daratan AS diperkirakan akan mengalami cuaca yang lebih basah (tinggi curah hujan), sementara wilayah paling utara akan merasakan suhu yang lebih hangat, dan wilayah Barat Laut Pasifik cenderung menjadi lebih kering.
Uniknya, di sisi timur AS, El Niño biasanya menghambat pembentukan badai (hurricane) di Samudra Atlantik. Namun, para ilmuwan mengingatkan agar warga tidak lengah. Perubahan iklim telah menyebabkan suhu permukaan laut Atlantik melonjak, yang tetap bisa menjadi bahan bakar mematikan bagi badai apa pun yang berhasil terbentuk. Selain itu, El Niño sama sekali tidak melemahkan badai yang terbentuk di Samudra Pasifik.
El Niño merupakan sebuah fase dalam siklus alamiah yang disebut El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Fenomena ini terjadi ketika angin pasat yang biasanya bertiup kuat dari timur ke barat melintasi Samudra Pasifik mulai melemah. Melemahnya angin ini membuat massa air laut yang hangat di permukaan bergerak berbalik arah dari Pasifik Barat menuju ke Pasifik Timur mendekati wilayah Amerika Selatan.
Fungsi utama dinamika ini dalam sistem bumi adalah melepaskan energi panas dari laut dalam yang sebelumnya tersimpan sementara waktu di sana. Ketika panas tersebut terangkat ke permukaan bumi, suhu rata-rata global otomatis melonjak naik. Siklus ini sempat menciptakan catatan kelam pada periode 2023–2024, di mana pola El Niño yang panjang dan kuat berhasil memecahkan rekor tahun terpanas dalam sejarah bumi secara berturut-turut.
Meskipun El Niño adalah siklus variabilitas iklim yang terjadi secara alami, efek buruknya kini berlipat ganda akibat pemanasan global yang dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil. Bahkan tanpa adanya El Niño sekalipun, tren suhu bumi dalam beberapa tahun terakhir sudah menempati daftar tiga besar tahun terpanas yang pernah tercatat sepanjang sejarah peradaban modern.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


