Skenario Terburuk: Produksi Pangan Global Bisa Runtuh Imbas Perang di Timur Tengah
CANBERRA/JAKARTA, investor.id – Konflik yang meluas antara AS-Israel dan Iran kini mengancam ketahanan pangan dunia melalui lonjakan harga pupuk. Penutupan akses di Teluk Persia dan Selat Hormuz telah melumpuhkan rute transportasi utama bagi sepertiga ekspor urea global, memicu kekhawatiran akan krisis pasokan yang lebih parah dibandingkan masa awal perang Rusia-Ukraina.
Josh Linville, ahli komoditas dari StoneX, menyebut situasi ini sebagai "skenario terburuk" karena terjadi saat belahan bumi utara memasuki musim semi—periode puncak kebutuhan pupuk. Di pasar New Orleans, harga urea melonjak tajam hingga $520–$550 per short ton hanya dalam hitungan hari.
“Ini tidak bisa terjadi pada waktu yang lebih buruk dalam setahun. Tidak pernah ada waktu yang baik. Tapi ini mungkin seburuk-buruknya,” ujar Linville, melansir Nikkei Asia pada Rabu (4/3/2026) malam.
Sementara itu, Ekonom pertanian Commonwealth Bank, Dennis Voznesenski, memperingatkan bahwa dampak kali ini bisa "lebih menyakitkan" bagi petani dibandingkan krisis 2022. Berbeda dengan perang Rusia-Ukraina yang mengerek harga gandum, konflik Iran tidak mempengaruhi aliran perdagangan biji-bijian secara langsung.
“Anda memiliki margin yang tertekan karena pendapatan Anda tidak meningkat, tetapi biaya Anda naik,” jelas Voznesenski. Kondisi ini memaksa petani menghadapi dilema: membeli pupuk mahal yang menekan laba, atau mengurangi dosis pupuk yang berisiko menurunkan hasil panen secara drastis.
Australia dan Indonesia menjadi dua negara yang sangat terdampak akibat ketergantungan tinggi pada impor dari kawasan Teluk. Australia mengimpor 64% kebutuhan ureanya dari negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan UEA. Direktur Eksekutif Fertilizer Australia, Stephen Annells, menyebut ini sebagai pengingat akan kerentanan strategis akibat menyusutnya basis manufaktur lokal.
Di Indonesia, para petani sawit mulai bersiap menghadapi "tsunami" harga. Sekjen Apkasindo, Rino Afrino dalam laporan Investor Daily hari ini, mencatat bahwa pupuk menyerap hingga 60% total biaya produksi sawit. Berkaca pada pengalaman 2022, harga pupuk KCL pernah melambung dari Rp 6.000 menjadi Rp 18.000 per kg.
“Yang paling menakutkan bagi kami para petani adalah kenaikan harga pupuk. Karena pupuk itu kita full impor kan. Kapan naik harga pupuk, tentu kita lihat korelasinya dengan minyak bumi yang sulit keluar dari Selat Hormuz,” ungkap Rino.
Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut dalam beberapa minggu ke depan, krisis ini diprediksi akan memaksa petani beralih ke tanaman yang kurang membutuhkan nitrogen atau menghadapi penurunan produksi pangan secara masal pada akhir tahun 2026.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba
PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia
Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.Gelar Munas, Hipmi Perkuat Peran Pengusaha Muda Hadapi Tekanan Global
Hipmi gelar Munas 2026 untuk memperkuat kontribusi pengusaha muda dalam perekonomian nasional di tengah tantangan ekonomi global.Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur
Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran
Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan
Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.Tag Terpopuler
Terpopuler






