Mitigasi Serangan Ransomware melalui Sistem Backup Data
JAKARTA,investor.id- Di tengah masifnya serangan siber ransomware yang menyasar data pribadi maupun data organiasi, kehadiran sistem backup data yang memadai dinilai penting untuk memitigasi risiko serangan tersebut.
Sitem backup dinilai menjadi bagian penting dari strategi cyber resilience. Sistem ini dapat menentukan apakah sebuah organisasi mampu pulih dengan cepat setelah insiden, atau justru harus menghadapi gangguan operasional yang berkepanjangan.
Regional Marketing Synology, salah satu perusahaan penyedia manajemen data dan infrastruktur penyimpanan, Joevita Evadne mengatakan, ransomware bekerja dengan cara mengenkripsi data perusahaan dan meminta tebusan agar akses dapat dipulihkan.
“Tanpa backup yang memadai, organisasi sering kali berada dalam posisi yang sulit. Membayar tebusan tidak selalu menjamin data akan kembali. Namun jika menolak membayar, perusahaan juga berisiko kehilangan data penting secara permanen,” kata Joevita dalam keterangan persnya, Rabu (1/4/2026).
Dampak dari serangan ini, kata dia bisa meluas dengan cepat. Operasional bisnis dapat terhenti, layanan pelanggan terganggu, dan karyawan tidak dapat menjalankan pekerjaan mereka. Bahkan gangguan yang berlangsung singkat pun dapat menimbulkan kerugian finansial dan merusak reputasi perusahaan.
“Karena itu, backup kini tidak lagi sekadar alat pemulihan file yang terhapus. Ia menjadi bagian penting dari strategi ketahanan siber atau cyber resilience,” ujar Joevita.
Dia menambahkan, selama ini banyak organisasi fokus pada pencegahan serangan. Namun dengan ancaman siber yang semakin kompleks, pendekatan tersebut saja tidak lagi cukup. Cyber resilience menekankan kemampuan organisasi untuk tetap beroperasi dan pulih dengan cepat setelah insiden terjadi.
“Salah satu pendekatan yang banyak direkomendasikan adalah strategi backup 3-2-1-1-0. Strategi ini menyarankan agar organisasi menyimpan tiga salinan data pada dua jenis media yang berbeda, dengan satu salinan disimpan di lokasi terpisah,” ungkap Joevita.
Selain itu, satu salinan sebaiknya bersifat immutable atau terisolasi dari jaringan utama agar tidak dapat diubah oleh ransomware. Terakhir, backup perlu diverifikasi untuk memastikan proses pemulihan dapat berjalan tanpa kesalahan. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko kegagalan dari satu titik sekaligus meningkatkan peluang pemulihan data setelah serangan.
Joevita menuturkan, solusi yang tersedia untuk memitigasi risiko tersebut, salah satunya, ActiveProtect Appliance dari perusahaan Synology, dirancang dengan pendekatan tersebut.
Dengan menggabungkan manajemen backup dan penyimpanan dalam satu platform, organisasi dapat lebih mudah menerapkan praktik terbaik seperti strategi 3-2-1-1-0 sekaligus memantau seluruh sistem perlindungan data secara terpusat.
“Perusahaan yang memiliki strategi backup yang kuat akan jauh lebih siap menghadapi serangan, memulihkan sistem, dan mempertahankan kepercayaan pelanggan,” ucap Joevita.
Editor: Emanuel
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now



