Menuju IPO, DANA Fokus Matangkan Produk
JAKARTA, investor.id - PT Espay Debit Indonesia Koe atau Dana Indonesia, perusahaan financial technology (fintech) penyelenggara dompet digital DANA, terus menyiapkan diri untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Terkait itu, DANA belajar dari pengalaman perusahaan-perusahaan platform digital lain yang sudah terlebih dulu melantai di bursa seperti PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) dan PT Goo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), sehingga tidak mengulang kesalahan serupa.
Chief Executive Officer (CEO) dan Co-founder DANA Indonesia, Vince Iswara menyatakan, DANA akan melakukan IPO bila produk-produk yang dimiliki telah mencapai kematangan (mature) yang dinilai cukup. “Terus terang, kami siap-siap. Tapi, belum ada waktu yang kami targetin. Karena gini... Kalau mau IPO, maturity dari produk-produk kami itu harus sudah siap,” ujar Vince saat melakukan gathering dengan peminpin redaksi sejumlah media Ibu Kota di Jakarta, pekan lalu.
Menurut dia, IPO yang dilakukan saat produk-produk yang dimiliki perusahaan belum matang dan siap akan sangat berisiko terhadap fluktuasi harga saham di pasar modal. Pasalnya, dalam kondisi seperti itu, investasi yang dibutuhkan untuk membangun produk masih tinggi, sehingga bisa menggerus keuntungan. “Kenapa? (Kalau) produk customer-nya masih belum gede, kita harus spend money. Terus, profitnya turun. Itu stock market (bisa) hancur. Jadi, kami belum ready untuk itu,” tandas Vince.
Terkait pengalaman IPO perusahaan platform digital tersebut, ia mengaku banyak belajar dari Achmad Zaky, pendiri dan mantan CEO situs e-commerce Bukalapak, serta Andre Soelistyo, co-founder GOTO. “Saya belajar dari temen-temen ya. Saya belajar dari Zaky, saya belajar dari Andre, dan saya belajar dari yang lain-lainnya yang sudah IPO semua,” ungkap Vince yang telah memiliki minat (passion) di bidang teknologi sejak di bangku sekolah dasar (SD).
Bukalapak melakukan IPO pada 6 Agustus 2021 dengan perolehan dana sangat besar hingga Rp21,9 triliun. Sedangkan IPO GOTO digelar pada 11 April 2022 dengan total perolehan dana mencapai Rp13,73 triliun. Bahkan, tak hanya tercatat sebagai salah satu perusahaan teknologi (unicorn) pertama yang melantai di BEI, Bukalapak hingga saat ini masih menjadi pemegang rekor emiten dengan nilai emisi IPO terbesar dalam sejarah pasar modal di Tanah Air.
Namun, selepas IPO, kinerja harga saham kedua emiten tersebut justru terus berada dalam tren merosot. Harga saham BUKA yang ditawarkan di harga Rp850 per saham saat IPO, pada akhir perdagangan pekan lalu ditutup di harga Rp149 per saham. Sedangkan harga saham GOTO yang dilepas di harga Rp338 per saham saat IPO, pada akhir perdagangan pekan lalu ditutup di harga Rp59 per saham.
Saat kembali ditanyakan ancar-ancar waktu IPO DANA hendak dilakukan, lagi-lagi Vince tak bersedia memberikan waktu pasti. Namun, ia berharap, itu bisa dilakukan tidak dalam waktu yang terlalu lama. “Not long. Tapi, I will tell you when we're ready,” ucap dia.
Koreksi IHSG
Yang pasti, Vince justru mengaku gembira dengan koreksi besar-besaran terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI belakangan ini, menyusul peringatan dari komunitas keuangan global seperti MSCI, Moody’s Ratings, dan S&P Global Ratings. “Terus terang, saya lumayan happy dengan koreksi yang terjadi dengan saham ini, karena healthy. Kalau mereka (komunitas keuangan global) melihat Indonesia serius, mau increase investasinya, lebih sehat, lebih baik lagi, rating kita bisa diperbaiki juga,” papar dia.
Merespons peringatan lembaga-lembaga tersebut, terutama MSCI, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (28/1/2026) ambrol hingga 7,3% ke level 8.320. Bahkan, indeks sempat merosot hingga 8,8% ke level 8.187, sehingga BEI membekukan sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit. Bahkan, kondisi serupa terulang di hari berikutnya di mana IHSG jatuh 8% ke level 7.654 dan peluit trading halt kembali ditiup.
Baca Juga:
IHSG Menguat, 5 Saham Tancap GasPada kesempatan yang sama, Vince mengungkapkan bahwa rata-rata volume transaksi yang dilakukan konsumen melalui aplikasi DANA mencapai 39 juta per hari. Angka itu melonjak menjadi lebih dari empat kali dibanding awal 2022 yang baru sekitar 9 juta transaksi per hari.
“Volume transaksi DANA saat ini mencapai 39 juta transaksi per hari yang kebanyakan adalah nasabah tier 2 (menengah) dan tier 3 (menengah-bawah) yang memang menjadi fokus kami. Jadi, fokus layanan bisnis DANA adalah kelompok masyarakat underserved dan unserved,” papar dia.
Sedangkan layanan dan fitur utama yang disediakan DANA di antaranya meliputi pembayaran QRIS, transfer dana, top-up saldo, pembayaran tagihan, fitur keamanan (DANA Protection), dan investasi seperti jual-beli emas digital.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






