GOTO Siap Terus Terang, Saham Bisa ke Sini
JAKARTA, investor.id - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berencana buka-bukaan dengan mengumumkan kinerja untuk kuartal keempat dan tahun buku 2025 pada hari ini Rabu (11/3/2026).
Itu dilakukan setelah publikasi dari laporan keuangan konsolidasian perseroan pada tanggal dan untuk periode tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025 yang telah diaudit, yang disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. Yang biasanya disampaikan pada sore hari.
Manajemen GOTO akan menyelenggarakan conference call untuk membahas kinerja kuartal keempat tahun 2025 dan tahun buku 2025 pada tanggal 11 Maret 2026 pukul 19:00 Waktu Indonesia Barat (atau 11 Maret 2026 pukul 08:00 Waktu Amerika Serikat bagian Timur). “Paparan ini akan sepenuhnya dilakukan dalam bahasa Inggris,” sebut manajemen GOTO dalam keterangan resmi.
Sementara itu, saham GOTO diparkir naik 1,82% ke Rp 56 pada akhir sesi I perdagangan Rabu ini. Sejumlah 1,10 miliar saham diperdagangkan, frekuensi 5.359 kali, dan nilai transaksi Rp 61,38 miliar.
Sebelumnya diberitakan, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan menjadikan bisnis fintech sebagai mesin uang baru untuk berdampingan dengan layanan on demand services (ODS). Ini akan menjadi amunisi Goto mencetak laba bersih dan penguatan harga saham yang diganjar target harga tinggi.
Berdasarkan riset Macquarie, dari pembicaraan dengan dengan CEO baru Goto Hans Patuwo, CFO Simon Ho, dan Head of Investor Relations Joel Ellis, raksasa teknologi itu kini fokus pada peningkatan laba bersih.
“Ke depan, Goto menargetkan laba bersih positif, bukan hanya EBITDA. Katalis berikutnya saham Goto adalah laporan keuangan 2025 dan panduan kinerja 2026 pada 11 Maret,” tulis Macquarie dalam riset, dikutip Senin (2/3/2026).
Hans, tulis Macquarie, meyakini fintech akan menjadi mesin pertumbuhan utama Goto. Pertumbuhannya diprediksi lebih kuat dari ODS. Dalam jangka menengah, Goto menargetkan porsi fintech dan ODS mencapai 50% dan 50% dalam 2-3 tahun ke depan.
Alasannya, demikian Macquarie, penetrasi bisnis pembiayaan di Indonesia masih rendah. Artinya, ruang pertumbuhan masih sangat besar.
Laba dan Target Harga
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






