India Turunkan Pajak Perusahaan
MUMBAI, investor.id – Pemerintah India mengatakan akan memangkas pajak perusahaan hingga ke kisaran paling rendah di antara negara di Asia, sebagai bagian dari upayanya untuk menggerakkan perekonomian negara yang tersendat. Pernyataan yang disampaikan pada Jumat (20/9) membuat pasar saham negara menguat karena para analis memperkirakan ada kepentingan terbaru di dalam wilayah itu.
Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Nirmala Sitharaman, suku bunga acuan untuk perusahaan-perusahaan dalam negeri akan diturunkan dari 30% menjadi 22%. India memiliki keinginan untuk menarik perusahaan-perusahaan yang dilanda ketakutan perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat (AS), yang telah memukul rantai pasokan global.
Sitharaman mengatakan, “untuk menarik investasi baru di bidang manufaktur dan meningkatkan program “Make In India” maka tarif pajak perusahaan baru akan diturunkan dari 25% menjadi 15%”. Demikian dilaporkan kantor berita Press Trust of India (PTI).
“Pajak baru akan sebanding dengan tarif pajak terendah di kawasan Asia Selatan dan di Asia Tenggara,” ujarnya kepada wartawan.
Langkah-langkah tersebut bertujuan memberikan dorongan kepada perdana menteri yang terus menerus dihadapkan pada tekanan untuk membangkitkan perekonomian negara kembali, setelah selama lima kuartal berturu-turut mengalami perlambatan pertumbuhan sehingga membuat India kehilangan statusnya pada tahun ini sebagai negara dengan perkembangan ekonomi tercepat dibandingkan Tiongkok.
Lewat media sosial Twitter Modi mencuit, pengumuman jelas menunjukkan pemerintah tidak meninggalkan kebutuhan bisnis. “Tidak melewatkan kebutuhan bisnis untuk membuat India tempat yang lebih baik untuk melakukan bisnis, meningkatkan peluang bagi semua bagian masyarakat dan meningkatkan kemakmuran untuk membuat ekonomi India US$ 5 triliun,” unggahnya pada Jumat.
Pengumuman penurunan pajak itu pun langsung mendorong penguatan saham lebih dari 5% di Mumbai – dan merupakan lompatan terbesar dalam 10 tahun. Sementara itu, mata uang rupee India menguat terhadap dolar AS.
“Pasar saham India telah berada di jalur eksodus kuartalan terbesar sejak setidaknya 1999, di mana dana asing telah melepaskan sahamnya senilai US$ 4,9 miliar sejak Juni,” demikian dilaporkan Bloomberg News.
Sedangkan, Jeffrey Halley dari OANDA menyampaikan, pemangkasan pajak memungkinkan bangkitnya kembali minat para investor di negara sub-benua, setelah dua setengan tahun mengalami perlambatan pertumbuhan dan kecewa dengan kemajuan reformasi yang digalakkan oleh Perdana Menteri Modi.
Beberapa pekan terakhir, pihak berwenang telah meluncurkan serangkaian langkah-langkah untuk meningkatkan ekonomi dan mengentaskan pengangguran, yang tercatat berada di tingkat tertinggi sejak 1970-an.
Tertunda Lama
Di antara langkah-langkah terbaru adalah pencabutan larangan departemen pemerintah untuk membeli mobil-mobil baru, karena terlihat mendukung sektor otomotif – yang pada bulan lalu memperlihatkan penurunan angka penjualan sebanyak 41%.
Reserve Bank of India (RBI) – yang dilaporkan berada di bawah tekanan pemerintah – pun telah menurunkan suku bunganya sebanyak empat kali pada tahun ini ke level terendah, selama sembilan tahun. India juga mengumumkan penggabungan 10 bank negara dengan tujuan mencoba mengurangi tekanan pada para kreditur.
Disamping itu, pemerintah telah mengurangi pembatasan investasi asing di empat sektor utama, termasuk penambangan batu bara, sebagai upaya menarik lebih banyak modal dari luar negeri.
Menurut ekonom independen Ashutosh Datar kepada AFP, lang-langkah penurunan pajak mengalami penundaan sejak lama karena India merupakan negara dengan tarif pajak tertinggi di dunia.
Sementara itu, Rajiv Singh dari Karvy Stock Broking menambahkan setelah dikeluarkan sejumlah perubahan kecil, pemerintah akhirnya mengumumkan “langkah berani dan besar untuk menghidupkan semangat kembali.
Menurut PTI, termasuk biaya tambahan, tarif pajak efektif akan menjadi 25,17% atau turun hampir 10 poin persentase dibandingkan catatan sebelumnya sebesar 34,94%. (afp)
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

