Risalah The Fed: 'Hampir Semua' Pejabat Fed Sepakat Kenaikan Suku Bunga 25 Bps
WASHINGTON, investor.id – Risalah The Fed menyebut, pada pertemuan terakhir mereka mayoritas pejabat sepakat untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS menjadi seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps). Tapi risalah tersebut juga mengatakan risiko inflasi yang tinggi tetap menjadi ‘faktor kunci’ yang membentuk kebijakan moneter dan menjamin berlanjutnya kenaikan biaya pinjaman hingga terkendali.
"Hampir semua peserta setuju bahwa adalah tepat untuk menaikkan kisaran target suku bunga dana federal 25 bps. Dengan banyak dari mereka mengatakan bahwa akan membiarkan Fed lebih baik ‘menentukan sejauh mana’ kenaikan di masa depan,” demikian bunyi risalah The Fed hasil pertemuan mereka pada 31 Januari – 1 Februari 2023 yang dirilis pada Rabu waktu setempat (22/2/2023).
Risalah The Fed tersebut juga menyebutkan, peserta umumnya mencatat bahwa risiko terbalik terhadap prospek inflasi tetap menjadi faktor kunci yang membentuk prospek kebijakan. Serta, menegaskan suku bunga perlu bergerak lebih tinggi dan tetap tinggi ‘sampai inflasi jelas berada di jalur ke 2%’.
Menurut Risalah The Fed tersebut, hanya ‘beberapa’ peserta yang secara langsung menyukai peningkatan setengah poin persentase yang lebih besar pada pertemuan itu, atau mengatakan ‘dapat mendukungnya’.
Baca Juga:
The Fed Diperkirakan Hanya Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Tapi Tetap Jadikan Inflasi sebagai LawanSetelah risalah The Fed keluar, imbal hasil obligasi naik. Tidak hanya itu, dolar AS juga naik terhadap sekeranjang mata uang. Tapi, saham AS memangkas kenaikan.
Imbal hasil US Treasury 2 tahun, jatuh tempo obligasi pemerintah yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan Fed, naik sekitar 4 basis poin dari level sebelum keluarnya risalah tersebut menjadi sekitar 4,69%. Indeks S&P 500 naik sekitar 0,25% sebelum risalah keluar, namun turun kembali mendekati angka semula.
Pedagang berjangka yang terikat dengan tingkat kebijakan Fed menambah taruhan bahwa setidaknya tiga kenaikan suku bunga sebanyak seperempat poin persentase lagi pada pertemuan mendatang. Sehingga menggiring tingkat suku bunga acuan The Fed menjadi di 5,25% -5,50%.
Dalam risalah tersebut juga menunjukkan The Fed menavigasi ke arah titik akhir yang mungkin untuk kenaikan suku bunga saat ini. Sekaligus memperlambat kecepatan untuk lebih hati-hati mendekati titik penghentian yang mungkin. Di satu sisi juga membiarkan terbuka seberapa tinggi suku bunga pada akhirnya akan naik jika inflasi tidak melambat.
‘Beberapa’ pembuat kebijakan pada pertemuan tersebut mencatat masih ada risiko ‘peningkatan’ resesi di Amerika Serikat tahun ini. Oleh karena itu, The Fed terus berjuang untuk meredam tingkat inflasi yang telah melonjak ke level tertinggi 40 tahun pada 2022.
Bank sentral telah menaikkan suku bunga kebijakan selama delapan pertemuan dari titik awal mendekati nol Maret lalu ke kisaran 4,50%-4,75%.
Pernyataan kebijakan yang dikeluarkan pada 1 Februari tersebut juga mengatakan ‘kenaikan berkelanjutan’ masih diperlukan. Tetapi mengalihkan fokus dari laju kenaikan suku bunga yang akan datang ke ‘cakupan’ mereka. Hal itu mengacu pada fakta bahwa para pembuat kebijakan merasa mereka mungkin mendekati tingkat suku bunga yang cukup untuk membuat kemajuan berkelanjutan dalam mengurangi inflasi.
Data sejak pertemuan terakhir menunjukkan ekonomi terus tumbuh dan pertambahan pekerjaan dengan kecepatan yang tidak terduga. Serta, membuat kemajuan yang kurang stabil kembali ke target inflasi The Fed 2%.
Risalah tersebut menunjukkan pejabat Fed masih selaras dengan risiko yang mungkin harus mereka lakukan lebih banyak untuk menjaga penurunan inflasi. Kecenderungan hawkish yang mungkin menjadi pandangan yang lebih tepat ketika pembuat kebijakan mengeluarkan suku bunga baru dan proyeksi ekonomi pada pertemuan empat minggu mendatang.
“Peserta setuju bahwa Komite (Federal Open Market) telah membuat kemajuan yang signifikan selama setahun terakhir dalam bergerak menuju sikap kebijakan moneter yang cukup ketat," kata risalah tersebut, menggambarkan ekonomi yang terus tumbuh di tengah pasar tenaga kerja yang ketat.
“Meski begitu, para peserta sepakat bahwa sementara ada tanda-tanda bahwa efek kumulatif dari pengetatan kebijakan moneter, Komite telah mulai mengurangi tekanan inflasi. Inflasi tetap jauh di atas tujuan jangka panjang Komite sebesar 2% dan pasar tenaga kerja tetap sangat ketat,” sebut risalah tersebut.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






