Minggu, 5 April 2026

Risalah The Fed: 'Hampir Semua' Pejabat Fed Sepakat Kenaikan Suku Bunga 25 Bps

Penulis : Indah Handayani
23 Feb 2023 | 04:40 WIB
BAGIKAN
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles terlihat di Washington, DC pada 4 Mei 2022. (Foto: Jim WATSON / AFP)
Gedung Federal Reserve Marriner S. Eccles terlihat di Washington, DC pada 4 Mei 2022. (Foto: Jim WATSON / AFP)

WASHINGTON, investor.id – Risalah The Fed menyebut, pada pertemuan terakhir mereka mayoritas pejabat sepakat untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS menjadi seperempat poin persentase atau 25 basis poin (bps). Tapi risalah tersebut juga mengatakan risiko inflasi yang tinggi tetap menjadi ‘faktor kunci’ yang membentuk kebijakan moneter dan menjamin berlanjutnya kenaikan biaya pinjaman hingga terkendali.

"Hampir semua peserta setuju bahwa adalah tepat untuk menaikkan kisaran target suku bunga dana federal 25 bps. Dengan banyak dari mereka mengatakan bahwa akan membiarkan Fed lebih baik ‘menentukan sejauh mana’ kenaikan di masa depan,” demikian bunyi risalah The Fed hasil pertemuan mereka pada 31 Januari – 1 Februari 2023 yang dirilis pada Rabu waktu setempat (22/2/2023).

Risalah The Fed tersebut juga menyebutkan, peserta umumnya mencatat bahwa risiko terbalik terhadap prospek inflasi tetap menjadi faktor kunci yang membentuk prospek kebijakan. Serta, menegaskan suku bunga perlu bergerak lebih tinggi dan tetap tinggi ‘sampai inflasi jelas berada di jalur ke 2%’.

Menurut Risalah The Fed tersebut, hanya ‘beberapa’ peserta yang secara langsung menyukai peningkatan setengah poin persentase yang lebih besar pada pertemuan itu, atau mengatakan ‘dapat mendukungnya’.

ADVERTISEMENT

Setelah risalah The Fed keluar, imbal hasil obligasi naik. Tidak hanya itu, dolar AS juga naik terhadap sekeranjang mata uang. Tapi, saham AS memangkas kenaikan.

Imbal hasil US Treasury 2 tahun, jatuh tempo obligasi pemerintah yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan Fed, naik sekitar 4 basis poin dari level sebelum keluarnya risalah tersebut menjadi sekitar 4,69%. Indeks S&P 500 naik sekitar 0,25% sebelum risalah keluar, namun turun kembali mendekati angka semula.

Pedagang berjangka yang terikat dengan tingkat kebijakan Fed menambah taruhan bahwa setidaknya tiga kenaikan suku bunga sebanyak seperempat poin persentase lagi pada pertemuan mendatang. Sehingga menggiring tingkat suku bunga acuan The Fed menjadi di 5,25% -5,50%.

Dalam risalah tersebut juga menunjukkan The Fed menavigasi ke arah titik akhir yang mungkin untuk kenaikan suku bunga saat ini. Sekaligus memperlambat kecepatan untuk lebih hati-hati mendekati titik penghentian yang mungkin. Di satu sisi juga membiarkan terbuka seberapa tinggi suku bunga pada akhirnya akan naik jika inflasi tidak melambat.

‘Beberapa’ pembuat kebijakan pada pertemuan tersebut mencatat masih ada risiko ‘peningkatan’ resesi di Amerika Serikat tahun ini. Oleh karena itu, The Fed terus berjuang untuk meredam tingkat inflasi yang telah melonjak ke level tertinggi 40 tahun pada 2022.

Bank sentral telah menaikkan suku bunga kebijakan selama delapan pertemuan dari titik awal mendekati nol Maret lalu ke kisaran 4,50%-4,75%.

Pernyataan kebijakan yang dikeluarkan pada 1 Februari tersebut juga mengatakan ‘kenaikan berkelanjutan’ masih diperlukan. Tetapi mengalihkan fokus dari laju kenaikan suku bunga yang akan datang ke ‘cakupan’ mereka. Hal itu mengacu pada fakta bahwa para pembuat kebijakan merasa mereka mungkin mendekati tingkat suku bunga yang cukup untuk membuat kemajuan berkelanjutan dalam mengurangi inflasi.

Data sejak pertemuan terakhir menunjukkan ekonomi terus tumbuh dan pertambahan pekerjaan dengan kecepatan yang tidak terduga. Serta, membuat kemajuan yang kurang stabil kembali ke target inflasi The Fed 2%.

Risalah tersebut menunjukkan pejabat Fed masih selaras dengan risiko yang mungkin harus mereka lakukan lebih banyak untuk menjaga penurunan inflasi. Kecenderungan hawkish yang mungkin menjadi pandangan yang lebih tepat ketika pembuat kebijakan mengeluarkan suku bunga baru dan proyeksi ekonomi pada pertemuan empat minggu mendatang.

“Peserta setuju bahwa Komite (Federal Open Market) telah membuat kemajuan yang signifikan selama setahun terakhir dalam bergerak menuju sikap kebijakan moneter yang cukup ketat," kata risalah tersebut, menggambarkan ekonomi yang terus tumbuh di tengah pasar tenaga kerja yang ketat.

“Meski begitu, para peserta sepakat bahwa sementara ada tanda-tanda bahwa efek kumulatif dari pengetatan kebijakan moneter, Komite telah mulai mengurangi tekanan inflasi. Inflasi tetap jauh di atas tujuan jangka panjang Komite sebesar 2% dan pasar tenaga kerja tetap sangat ketat,” sebut risalah tersebut.  

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Prabowo dan SBY Lepas Jenazah 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon

Presiden Prabowo dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut melepas tiga prajurit TNI yang gugur di Lebanon untuk dimakamkan.
InveStory 3 jam yang lalu

Inspiratif! Rayyan Shahab Diterima 15 Kampus Top Dunia Tanpa Kursus Bahasa Inggris

Siswa MAN IC Pekalongan, Ahmad Ali Rayyan Shahab mencatat prestasi luar biasa. Di usia 17 tahun dia diterima 15 kampus dunia.
Business 3 jam yang lalu

Private AI Bantu Dunia Bisnis Kurangi Risiko 

- Tekanan terhadap perusahaan Indonesia saat ini terasa dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, semua orang bicara soal AI, mulai dari chatbot, analitik prediktif, sampai agen AI yang bisa mengotomatisasi proses bisnis.
Business 4 jam yang lalu

MPMX Raih Laba Bersih Rp 462 Miliar pada 2025

PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk (MPMX), perusahaan konsumer  otomotif dan transportasi di Indonesia hari ini melaporkan hasil kinerja keuangan  untuk tahun buku 2025 yang telah diaudit. Perseroan tetap mempertahankan fundamental  bisnis yang solid di tengah dinamika kondisi pasar.  
Market 6 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 7 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia