Harga Emas Melonjak 3% Lebih, tapi Catat Bulanan Terburuk sejak 2008
NEW YORK, investor.id – Harga emas dunia melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Namun, di balik penguatan tersebut, emas mencatatkan penurunan bulanan terburuk sejak Oktober 2008.
Dikutip dari Reuters, kenaikan harga emas terjadi seiring munculnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah. Meski demikian, tekanan dari kekhawatiran inflasi yang terus tinggi dan ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi masih membayangi pergerakan emas.
Harga emas spot melonjak 3,46% menjadi US$ 4.667,38 per ons troi, level tertinggi sejak 20 Maret. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS melesat 2,7% ke US$ 4.678,60 per ons troi.
Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan dolar AS, meskipun mata uang tersebut masih berada di jalur penguatan bulanan. Dolar yang lebih kuat umumnya membuat emas, yang diperdagangkan dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain.
Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, reli emas saat ini didorong oleh meningkatnya optimisme terhadap deeskalasi konflik di Timur Tengah. “Reli ini cukup menggembirakan, tetapi perlu ada penguatan lanjutan untuk memastikan tren naik yang berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, Grant menilai tren emas tetap bullish. Faktor fundamental seperti upaya dedolarisasi global dan pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi penopang utama harga.
Di sisi lain, dinamika geopolitik masih menjadi perhatian pasar. Laporan The Wall Street Journal menyebutkan Presiden AS Donald Trump membuka peluang untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran, meskipun Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan, beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah konflik, dan ketegangan bisa meningkat jika Iran tidak mencapai kesepakatan.
Penurunan Terparah
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






