Sosok Ali Larijani, Pemegang Kendali Keamanan Iran Pasca-Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei
TEHERAN, investor.id – Peta kekuatan politik di Iran mengalami pergeseran drastis. Pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara, politisi veteran Ali Larijani muncul sebagai tokoh kunci dalam hierarki keamanan Iran. Pada Minggu (1/3/2026), Larijani mengumumkan pembentukan dewan kepemimpinan sementara untuk mengisi kekosongan kekuasaan.
Seperti dikutip Reuters pada Kamis (5/3/2026), Larijani sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) sejak Agustus 2025 kini memegang kendali atas portofolio krusial. Mulai dari negosiasi nuklir, hubungan regional Tehran, hingga penanganan gejolak domestik.
Larijani berasal dari keluarga ulama terkemuka dan dikenal sebagai loyalis setia Khamenei. Reputasinya sebagai sosok pragmatis membuatnya mampu menjembatani faksi-faksi yang sering bersaing di dalam sistem pemerintahan Iran.
Sebelum serangan terjadi, statusnya sebagai pengatur strategi kepercayaan Khamenei terlihat jelas saat ia melawat ke Oman pada Februari 2026.
Kunjungan tersebut merupakan upaya mempersiapkan pembicaraan nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat (AS), di saat pemerintah AS tengah meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah. Selain itu, Larijani tercatat beberapa kali mengunjungi Moskow untuk memperkuat hubungan keamanan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Antara Diplomasi Nuklir dan Sanksi AS
Dalam urusan nuklir, Larijani menunjukkan sikap yang lebih terbuka dibandingkan tokoh garis keras lainnya. "Menurut pandangan saya, masalah ini bisa diselesaikan," ujarnya kepada televisi pemerintah Oman. Ia menyatakan, kekhawatiran AS mengenai pengembangan senjata nuklir Iran dapat diatasi melalui jalur diplomasi.
Namun, rekam jejaknya tidak lepas dari kontroversi internasional. Pada Januari 2026, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepadanya atas tuduhan memimpin tindakan keras yang mematikan terhadap protes anti-pemerintah.
Departemen Keuangan AS menyebut Larijani bertindak atas perintah langsung Khamenei untuk menumpas demonstrasi yang disebut-sebut sebagai kerusuhan domestik terburuk sejak Revolusi Islam 1979.
Larijani bukanlah orang baru di dunia nuklir. Saat menjabat sebagai kepala negosiator nuklir pada 2005-2007, ia pernah menyindir tawaran Eropa untuk menghentikan produksi bahan bakar nuklir dengan perumpamaan terkenal. "Seperti menukar permata dengan sebatang permen," kata dia.
Kini, di tengah gempuran serangan udara dan tewasnya tokoh militer penting seperti Panglima Angkatan Bersenjata Abdolrahim Mousavi, beban berat berada di pundak Larijani. Ia telah memperingatkan kelompok-kelompok "separatis" akan adanya respon keras jika mereka mencoba memanfaatkan situasi ini untuk memecah belah Iran.
Dinamika Politik Keluarga Larijani
Ali Larijani lahir di Najaf, Irak, pada 1958 dari keluarga ulama besar yang memiliki pengaruh luas di Iran. Menyelesaikan gelar PhD di bidang filsafat, Ali bukanlah satu-satunya anggota keluarga Larijani yang menduduki posisi puncak.
Saudara-saudaranya juga memegang jabatan strategis di peradilan dan kementerian luar negeri, menjadikan klan Larijani sebagai salah satu pilar utama stabilitas rezim selama puluhan tahun.
Meski sempat dilarang mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilu 2021 dan 2024 oleh Dewan Garda karena alasan gaya hidup dan hubungan keluarga di luar negeri, Ali tetap menjadi orang kepercayaan di balik layar bagi Ayatollah Khamenei.
Kembalinya Larijani ke jantung pertahanan nasional di tengah krisis suksesi ini menunjukkan ia dianggap sebagai "tangan dingin" yang mampu menjaga keutuhan sistem pemerintahan Iran di tengah tekanan militer luar negeri dan ancaman disintegrasi domestik.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






