Indonesia Butuh Tempat Karantina Penderita TBC
JAKARTA, Investor.id – Indonesia membutuhkan tempat karantina khusus penderita tuberculosis (TBC) guna mencegah penularan penyakit tersebut. Penderita TBC harus berada dalam karantina selama proses penyembuhan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Presiden Joko Widodo sudah memberikan arahan untuk menyiapkan sebuah tempat karantina khusus penderita TBC selama dua bulan guna mencegah penularan penyakit tersebut.
“Arahan Presiden coba disiapkan tempat karantina khusus. Tempatnya kalau bisa dekat dengan masing-masing lokasi TBC terjadi. Jadi, selama dua bulan dia tidak menulari keluarganya, dimasukkan ke karantina khusus,” kata Budi Gunadi Sadikin usai mengikuti rapat terbatas percepatan eliminasi TBC di Istana Kepresidenan, Jakarta, seperti dilansir Antara, Selasa, 18 Juli 2023.
Karantina, kata Budi Gunadi Sadikin, diperlukan karena obat untuk penderita TBC baru bereaksi dalam dua bulan. Dia mengaku diminta Presiden untuk bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam menyiapkan tempat karantina itu.
“Saya disuruh kerja sama dengan PUPR di bawah koordinasi Menko PMK agar TBC tidak menular dan diberikan obat dipastikan penderita TBC minum obat terus selama dua bulan,” ujar Budi Gunadi Sakin.
Dia juga menyampaikan akan ada vaksinasi bagi masyarakat untuk mencegah TBC. Indonesia, kata dia, sebetulnya sudah memberikan vaksin BCG yang selama ini diberikan kepada anak-anak untuk mencegah TBC, namun efektivitasnya hanya 50%.
“Saat dahulu masih kecil, diberikan vaksin BCG, namun efektivitasnya rendah sekitar 50%. Sekarang Indonesia sudah berpartisipasi aktif dengan organisasi dunia, sudah ada tiga potensi vaksin baru yang akan segera kita coba datangkan,” kata dia.
Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan penyakit TBC merupakan penyakit sejak ribuan tahun yang lalu dan saat ini tersisa di beberapa negara besar. Dia mengatakan negara peringkat pertama dengan jumlah penderita TBC terbanyak adalah India, peringkat kedua Indonesia dan peringkat ketiga Tiongkok.
Menurut dia, kematian akibat TBC per tahun sebanyak 200.000 jiwa lebih, atau lebih tinggi dari kematian akibat Covid-19. "Di Indonesia, estimasi setiap tahun ada 969.000 warga kita yang terkena TBC dan sampai sebelum Covid-19 paling banyak yang bisa teridentifikasi 545.000 jiwa. Jadi, sisanya itu 400.000 jiwa tidak terdeteksi. Padahal, penyakit ini menular bisa ke mana-mana," kata Budi Gunadi Sadikin.
Berdasarkan situs resmi Kementerian Kesehatan, TBC adalah penyakit menular yang berpotensi serius dan umumnya menyerang paru-paru. Seorang pasien TBC, pada saat berbicara, batuk, maupun bersin dapat mengeluarkan percikan dahak yang mengandung infeksi bakteri. Orang-orang di sekeliling pasien TBC tersebut dapat terpapar dengan cara menghisap percikan dahak (droplet).
Pengobatan penyakit TBC biasanya membutuhkan waktu enam bulan dengan aturan minum obat yang ketat, guna mencegah risiko terjadinya resistensi antibiotik. Apabila terjadi resistensi antibiotik, penderita TBC harus meminum antibiotik sesuai aturan selama 20 bulan.
Presiden Jadi Influencer
Dalam kesempatan itu, Budi Gunadi Sadikin juga meminta Presiden bisa menjadi pemengaruh atau influencer agar penderita TBC disiplin meminum obat antibiotik hingga masa pengobatan selesai.
Usai menghadiri rapat terbatas bersama Presiden Jokowi tentang TBC, Budi Gunadi Sadikin menilai peran Jokowi dapat mendorong penderita TBC mau meminum obat setidaknya minimal enam bulan untuk mencegah resistensi antibiotik.
"Penderita TBC susah minum obat. Kalau bisa bapak, ya memberikan endorsement bahwa ayo yang sakit TBC jangan sampai lupa minum obat TBC dan minumnya sampai selesai karena butuh minimal enam bulan," kata Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksinasi Covid-19 tidak akan sukses tanpa adanya pengaruh Jokowi sebagai pionir yang mendapatkan suntik vaksin terlebih dahulu.
Ketika Presiden memakai jaket atau sepatu tertentu, pasti diikuti oleh warga. Begitu juga saat Jokowi mendapatkan suntik vaksinasi Covid-19, semua warga juga terdorong untuk mendapatkan layanan vaksin.
"Kami bilang, 'Pak dulu vaksinasi tidak akan bisa sukses lho itu selesai gara-gara Bapak jadi influencer, untuk endorsement, disuntik dulu," kata Budi Gunadi Sadikin menirukan dirinya berbicara dengan Presiden.
Mendengar permintaan tersebut, Presiden Jokowi, kata Budi Gunadi Sadikin, sempat tertawa dan menyanggupi permintaan itu. Dia mengatakan, Presiden Jokowi bahkan bersedia mendatangi sejumlah daerah untuk memastikan masyarakat penderita TBC mau meminum obat.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


