Nikmatnya Masakan Sunda di Dapur Coet, Pepes Ikan hingga Sate Jengkol
JAKARTA, investor.id – Masakan Sunda memang nikmat. Apalagi makan sambil ngariung seperti di Dapur Coet. Menu Sundanya, seperti pepes ikan, ayam goreng kampung, hingga sate jengkol dicolek dengan sambal dadak memberikan sensasi nikmat yang luar biasa.
“Salah satu kuliner yang menjadi bagian sehari-hari masyarakat Indonesia adalah masakan Sunda karena rasanya yang merakyat dan menghadirkan suasana rumah. Karena itu Dapur Coet menyajikan beragam masakan Sunda,” kata pendiri dan pemilik Dapur Coet, Siti Nurlaila, di Dapur Coet Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pekan ini.
Begitu masuk Dapur Coet, restoran berkonsep setengah terbuka ini menyajikan interior yang bikin pengunjung kangen rumah. Lesehan dibuat di kiri dan kanan bagunan. Jendela besar dengan kisi-kisi sebagai aksen membuat pengunjung serasa sedang berada di rumah.
Apalagi ketika menyantap pepes ikan, ayam goreng kampung, dan sambal dadaknya yang menggigit. Wuah, nikmat, pedas. Coba juga sate jengkolnya yang legit, karedoknya yang medok dan harum. Di sini juga ada ayam cabe ijo dan telur cabe ijo, ikan asam manis, perkedel jadul, dan sop daging sapi.
Untuk penutup, coba es selendang mayang atau es sekoteng yang nikmat dengan campuran potongan alpulat. Segarkan pula tenggorokan dengan es kelapa gula arena tau beragam jus buah.
Fokus dan Pantang Menyerah
Siti Nurlaila bercerita, Dapur Coet ia bangun sejak Mei 2011 di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. “Mulanya saya bangun kecil dengan modal Rp100 juta dari pinjaman ayah saya. Waktu itu saya memilih membuka warung makan Sunda karena Cikarang adalah daerah industri dan banyak yang membutuhkan makanan,” ungkap Nurlaila yang lahir dari keluarga pengusaha.
Nama Dapur Coet dipilih karena mencerminkan masakan Sunda. “Nama Dapur Coet bermakna dapur, yaitu ruang tempat mengolah makanan, sedangkan coet berasal dari Bahasa Sunda, yaitu tempat mengolah sambal,” terang Nurlaila.
Untuk konsep, Dapur Coet memilih siap saji masakan Sunda. “Meskipun siap saji, namun selalu disajikan hangat dan mengutamakan kualitas bahan baku yang segar,” ujar Nurlaila yang dalam sehari menghabiskan 500 ekor ayam untuk 2 restorannya.
Dari satu warung, selanjutnya Dapur Coet berkembang menjadi 2 dengan restoran yang lebih besar. “Kunci sukses berbisnis saya adalah learning by doing dan fokus,” ungkap Nurlaila.
Untuk Dapur Coet kedua, mengusung konsep open kitchen. “Konsepnya dapur terbuka, sehingga pengunjung dapat melihat masakan diolah. Contohnya sambal dadak, pengunjung bisa melihat langsung sambal diulek dan disajikan,” kata Nurlaila.
Tahun 2024 ini, Laila optimistis dapat membuka satu lagi Dapur Coet. “Insya Allah,habis Lebaran ini, Dapur Coet akan buka satu lagi di Jakarta Selatan,” tandas Nurlaila.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

