Sabtu, 4 April 2026

Ancaman Berlapis di Ruang Digital Anak

Penulis : Muhammad Aulia Rahman / Maria Gabrielle Putrinda / Chandra Adi
18 Nov 2025 | 18:02 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi. Seorang karyawan menguji gim Call of Duty. (Foto: AP Photo/Allison Dinner)
Foto ilustrasi. Seorang karyawan menguji gim Call of Duty. (Foto: AP Photo/Allison Dinner)

Peringatan lebih mengkhawatirkan datang dari pihak penegak hukum. Detasemen Khusus atau Densus 88 Antiteror Polri mengidentifikasi 110 anak yang berusia antara 10 hingga 18 tahun, tersebar di 23 provinsi, yang diduga telah terekrut oleh jaringan terorisme. Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, mengungkapkan rekrutmen ini memanfaatkan ruang digital, termasuk media sosial dan gim daring.

“Merekrut dan mempengaruhi anak-anak tersebut supaya menjadi radikal, bergabung dengan kelompok terorisme dan melakukan aksi teror,” ujar Brigjen Truno saat jumpa pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Polri menduga media sosial dan gim daring turut dimanfaatkan untuk merekrut anak-anak dan pelajar ke jaringan terorisme. Rekrutmen secara daring ini pun berhasil diungkap oleh Densus 88 Antiteror Polri.

Truno menyebut, setelah menemukan target potensial, anak tersebut akan dihubungi oleh pelaku perekrut secara pribadi melalui WhatsApp maupun Telegram. Dalam praktiknya, pelaku turut menggunakan konten berupa video pendek, animasi, meme, hingga musik demi membangun kedekatan emosional sekaligus memancing keterkaitan ideologis.

Advertisement

Pendekatan itu menjadi semakin rentan bagi anak maupun remaja karena pengaruh sejumlah faktor sosial. Berdasarkan asesmen Polri, sejumlah faktor yang dimaksud meliputi perundungan, keluarga broken home, kurang perhatian keluarga, pencarian jati diri, marginalisasi sosial, hingga minim literasi digital dan pemahaman agama.

Ancaman Berlapis di Ruang Digital Anak
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menyampaikan keterangan terkait penanganan rekrutmen secara online terhadap anak-anak oleh kelompok terorisme dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2025). (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)

Polri merekomendasikan adanya kajian regulasi terkait pembatasan dan pengawasan pemanfaatan media sosial bagi anak di bawah umur, serta pembentukan tim terpadu lintas kementerian/lembaga untuk deteksi dini dan pencegahan rekrutmen daring ini.

“Polri menegaskan komitmen untuk melindungi anak-anak Indonesia, beserta seluruh kementerian dan lembaga, BNPT, KPAI, LPSK, serta seluruh kementerian stakeholder terkait, terhadap dari ancaman radikalisasi eksploitasi ideologi maupun kekerasan digital untuk melindungi anak-anak Indonesia,” ujar Truno.

Jurang Implementasi dan Kelalaian Orang Tua

Di tengah ancaman yang meluas tersebut, akar masalah kembali meruncing pada dua titik: kegagalan implementasi teknis dan kelalaian pengawasan. Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Sani Budiantini Hermawan, menjelaskan bahwa anak rentan meniru perilaku agresif yang mereka lihat di gim, apalagi bila tanpa pendampingan.

Ia juga menyoroti tanda-tanda anak terpapar risiko buruk dari gim, seperti sulit fokus di pelajaran, sulit memahami sesuatu dalam komunikasi, hingga perilaku agresif spontan.

“Anak kan akan belajar dari apa yang dilihat, apa yang dimainkan. Jadi, bisa saja dari dunia maya kemudian dipraktikkan ke dunia nyata, misalnya, penusukan, dorong-dorongan,” ujar Sani saat dihubungi, Minggu (16/11/2025) malam.

Ancaman Berlapis di Ruang Digital Anak
Gim populer. (Sumber: DataSatu)

Ia menuturkan, ada sejumlah tanda-tanda lain pada anak ketika mulai terpengaruh buruk gim daring yang patut diwaspadai oleh orang tua. Misalnya, sulit fokus dan meniru perilaku agresif.

“Misalnya sudah ganggu ke pelajaran, sudah tidak fokus, kalau ngomong juga ngegas. Kemudian juga mengimitasi behavior yang dia lihat, spontan omongannya mungkin jadi kasar gitu. Terus tidak mau dibilangin sama orang tua, karena dia merasa yang dia mainkan itu yang menjadi kebiasaannya, gitu,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, Sani menekankan pentingnya pengawasan dan komunikasi antara orang tua dengan anak. Orang tua dapat membuat prioritas bagi buah hatinya, misalnya dengan pembatasan durasi bermain sehingga tidak mengganggu kewajiban anak.

“Makanya biasanya orang tua wajib buat prioritas, anak boleh main misalnya 1,5 jam setelah buat PR atau boleh tiga jam tapi harus dijeda gitu, misalnya ya siang sejam, sore sejam atau malam sejam. Itu pun kalau udah kelar semuanya misalnya,” jelas Sani.

Di sisi lain, regulator masih berhadapan dengan kegagalan sistematis. KemenPPPA telah berulang kali menyoroti bahwa banyak game 18+ masih mudah diakses anak hanya dengan "klik ‘ya’ atau mengisi tanggal lahir sembarangan".

Masalah ini diperparah oleh peran orang tua. Hasil analisis KPAI menyebut bahwa peran orang tua dalam pengawasan dan pendampingan terhadap aktivitas digital anak sangat penting. Tapi kenyataannya, perkembangan cepat media sosial membuat orang tua terlambat dan bahkan gagal dalam literasi digital, sementara anak hanya belajar sendiri tanpa ada pendampingan.

“Maka KPAI berharap pemerintah melakukan edukasi literasi digital dengan sangat masif sampai di pelosok desa, agar orang tua paham mendampingi anak di dalam dunia digital,” ujar Komisioner KPAI, Diyah.

Kunci Holistik

Dibutuhkan solusi dan pendekatan holistik yang melampaui pelarangan, mulai dari aspek kontrol, komunikasi, dan komunitas. Dalam hal kontrol dan komunikasi keluarga, orang tua wajib membuat prioritas dan batasan durasi bermain yang jelas, misalnya 1,5 jam atau 3 jam secara berjenjang setelah semua PR atau aktivitas lain anak selesai. Konten gim daring juga perlu diperhatikan agar tetap relevan dalam rangka memberi hiburan kepada anak.

Selain itu, edukasi dan literasi digital perlu digencarkan agar orang tua paham cara mendampingi anak. Aspek alternatif non-teknologi juga penting seperti memperbanyak Ruang Terbuka Ramah Anak (RPTRA) sebagai substitusi kegiatan fisik dan sosial yang sehat untuk menyeimbangkan screen time.

Isu perlindungan anak dari konten digital telah berevolusi menjadi perang multi-lini, menuntut kolaborasi antara hukum, teknologi, dan sosial. Pemerintah ditantang untuk tidak hanya membuat PP TUNAS dan mengimplementasikannya, tetapi memastikan kepatuhan teknis platform dan menutup celah verifikasi usia yang rapuh.

Di saat yang sama, ancaman kini bukan hanya sebatas kenakalan remaja, tetapi potensi radikalisasi ideologis. Perlindungan anak pada akhirnya terletak pada kemampuan orang tua untuk tidak abai, dan bagi negara untuk memastikan setiap ruang digital dan fisik anak adalah tempat yang aman dari ancaman, baik yang bersifat agresif, eksploitatif, maupun terorisme.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 jam yang lalu

Pizza Hut (PZZA) Balikkan Rugi Jadi Laba

PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencetak laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 24,75 miliar.
National 2 jam yang lalu

Jenazah Prajurit TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL Tiba di Indonesia

Tiga jenazah prajurit TNI yang gugur jalankan tugas di Lebanon tiba di tanah air dan dijadwalkan akan diterima Presiden Prabowo Subianto.
National 2 jam yang lalu

Gelar Munas, Hipmi Perkuat Peran Pengusaha Muda Hadapi Tekanan Global

Hipmi gelar Munas 2026 untuk memperkuat kontribusi pengusaha muda dalam perekonomian nasional di tengah tantangan ekonomi global.
International 3 jam yang lalu

Israel Gempur Beirut: Markas Hizbullah dan Jembatan Sungai Litani Hancur

Israel gempur Beirut dan hancurkan jembatan strategis di Sungai Litani. 1.300 orang tewas dalam sebulan, pasukan UNIFIL kembali jadi korban.
International 3 jam yang lalu

Gedung Big Tech AS Oracle Rusak Akibat Rudal Iran

Gedung Big Tech AS Oracle Dubai rusak akibat serpihan rudal Iran. 4 warga Bahrain terluka saat serangan udara kian meluas di kawasan Teluk.
International 4 jam yang lalu

Astronot Artemis II Bingkai Keindahan Bumi yang Menakjubkan

Astronot Artemis II bagikan foto Bumi yang menakjubkan dari angkasa. Perjalanan manusia pertama menuju Bulan setelah lebih dari 50 tahun.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia