Ancaman Berlapis di Ruang Digital Anak
18 Nov 2025 | 18:02 WIB
JAKARTA, investor.id - Wacana pembatasan gim daring (game online), seperti PUBG, kembali mencuat di tingkat eksekutif usai terungkapnya kasus peledakan bom rakitan oleh seorang siswa SMAN 72 Jakarta. Respons pemerintah cenderung cepat, menilai langkah tersebut sebagai upaya meredam potensi agresivitas anak dan remaja.
Namun, para pakar memperingatkan bahwa kebijakan tergesa-gesa berisiko mengabaikan akar masalah yang jauh lebih kompleks. Permasalahan bukan cuma soal kenakalan remaja, tetapi juga potensi radikalisasi ideologis.
Kritik tajam datang dari Pakar Psikologi Pendidikan Islam UMY, Prof. Suciati. Ia menegaskan, tindakan merakit bom tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan pengaruh permainan digital tanpa kajian mendalam. Pembatasan akses gim, khususnya yang memuat aksi kekerasan, tentu menjadi bagian dari upaya meredam agresivitas anak.
Suci menilai tindakan merakit bom tidak bisa serta-merta dikaitkan dengan pengaruh permainan video. Ia menyebut diperlukan penyelidikan komprehensif untuk melihat kemungkinan adanya faktor sosial, psikologis, dan lingkungan yang turut memengaruhi perilaku pelaku.
“Yang perlu ditanyakan adalah, apakah benar tindakan itu terjadi akibat PUBG? Apa hubungannya bom dengan PUBG? Apakah penyebabnya sesederhana itu?” tegas Prof. Suci pada Senin (17/11/2025).
Sisi Positif Gim
Ia juga mengingatkan bahwa gim daring seperti PUBG tidak selalu membawa dampak negatif. Menurutnya, banyak manfaat dari permainan digital yang sering terabaikan ketika masyarakat hanya menyoroti sisi buruknya. Sejumlah penelitian menunjukkan gim dapat meningkatkan konsentrasi, kemampuan visual-spasial, koordinasi mata–tangan, hingga membantu mengurangi stres.
“Gim itu plus minus. Kalau tidak kecanduan, justru banyak manfaatnya: ada kompetisi internasional, ada pengembangan fokus dan keterampilan motorik, bahkan bisa membantu menghilangkan kejenuhan. Sisi negatif muncul ketika seseorang kecanduan: prestasi turun, tidak fokus di kelas, demotivasi, agresif, dan bisa berdampak ke fisik maupun mental,” jelasnya.
Oleh karena itu, kemampuan mengontrol penggunaan gim daring dianggap jauh lebih penting daripada sekadar melarang atau membatasi tanpa dasar kuat. Suci menekankan perlunya literasi digital dan pendampingan keluarga, khususnya peran orang tua dalam mencegah kecanduan.
“Orang tua adalah aktor paling penting dalam mencegah kecanduan, karena waktu interaksi terbesar anak ada di lingkungan rumah. Yang penting itu bagaimana mengendalikan agar tidak kecanduan,” ujarnya.
Meski demikian, Suci tidak menutup rapat-rapat usulan untuk menerapkan pembatasan gim daring jika memang terbukti membawa dampak negatif serius atau memicu masalah sosial yang signifikan. Regulasi hingga pemblokiran bisa dilakukan, namun tetap harus berdasarkan kajian ilmiah yang kuat.
“Jangan sampai ada kebijakan yang terburu-buru dan justru mengabaikan akar masalah sebenarnya,” tandas Prof. Suci.
Efek Negatif
Meskipun kausalitas langsung terhadap satu insiden dipertanyakan, data dari lembaga negara menunjukkan bahwa risiko yang ditimbulkan ruang digital bagi anak telah meluas hingga ke tindakan merusak diri dan ekstremisme ideologi.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, dampak buruk gim daring yang mengandung unsur kekerasan tidak hanya terbatas pada perundungan (bullying), tetapi juga mencakup kasus menyakiti diri sendiri (self-harm) dan bahkan potensi bunuh diri (suicide) pada anak.
“Ada kasus tawuran antar pelajar juga terjadi karena komunikasi lewat game online,” ujar Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini saat dihubungi, Senin (17/11/2025) malam.
Diyah, menegaskan bahwa gejala-gejala ini terus meningkat, sehingga KPAI mendukung penuh implementasi PP 17/2025 (PP TUNAS) untuk perlindungan anak di ranah daring. Sejak tahun 2023, KPAI sendiri sudah menyampaikan kepada kementerian terkait untuk memblokir beberapa gim daring yang mengandung unsur kekerasan seperti PUBG, Free Fire dan Roblox.
“KPAI sangat setuju dan ini bentuk komitmen kami sejak dari awal untuk konsisten menyampaikan pemblokiran game online. Selain itu keterlibatan KPAI pada penyusunan PP Tunas juga menjadi bentuk upaya perlindungan pada anak di ranah daring," jelasnya.
Jaringan Teror
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




