Cegah Stunting, Balita Harus Diberi Dua Lauk Setiap Makan
JAKARTA, investor.id - Anak-anak yang memiliki berat badan (BB) rendah dibandingkan usianya harus diberi dua jenis lauk (sumber protein) setiap makan utama. Pemberian dua lauk ini bertujuan untuk mengejar pertumbuhan dan mencegah stunting.
“Anak-anak balita kalau underweight, pemberian lauk hewaninya harus dua, misal telor dan ikan. Ini untuk mengejar pertumbuhan dan mencegah stunting. Gak cukup kalau lauknya hanya satu,” tegas Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan pada acara Program Pendampingan Gizi dalam Mendukung Upaya Pencegahan Stunting di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Prof Ali mengatakan, ada banyak sumber protein hewani selain telur. “Untuk daerah timur, pangan lokal seperti ikan bisa menjadi alternatif sumber protein hewani,” terang Prof Ali.
Prof Ali memaparkan, dalam program intervensi gizi berbasis protein hewani yang dilakukan Nestle Indonesia, pemberian dua jenis sumber protein berdampak pada kesehatan anak balita, khususnya balita dengan berat badan rendah yang tak sesuai usianya. Hasilnya, berat badan meningkat, anak menjadi riang, dan risiko mengalami stunting berkurang.
Dampak nyata ini terlihat dalam program Program Pendampingan Gizi 2025 yang dilaksanakan Nestlé Indonesia bersama mitra lintas sektor, yaitu Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), TP PKK Kabupaten Batang, Guru Besar Pangan dan Gizi IPB Prof. Ali Khomsan, serta Edu Farmers selaku mitra field officer.
“Di program pendampingan gizi ini kami memberikan protein hewani berupa segelas susu atau 180 cc dan telur satu butir setiap hari selama enam bulan,” kata Prof Ali Khomsan.
Mengapa telur dan susu? “Telur kalau ornag dulu bilang adalah kapsul kehidupan yang mengandung protein hewani dan vitamin A yang sangat baik. Anak-anak pun suka telur, baik direbus atau digoreng. Sedangkan susu dari lahir anak nak-anak minum susu sehingga ini menjawab kekhawatiran kekurangan protein hewani pada anak,” ujar Prof Ali Khomsan.
Selama 6 Bulan
Program dilaksanakan selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Program menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting melalui pendampingan 147 kader, serta pembekalan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang, Batang, dan Pasuruan.
“Berdasarkan pemantauan bersama mitra akademisi, program menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5%, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta peningkatan pemahaman keluarga terkait pemenuhan energi dan gizi harian,” kata Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja.
Selain perbaikan indikator pertumbuhan, program ini juga meningkatkan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin. Konsistensi pendampingan kader memastikan intervensi tidak berhenti pada pemberian asupan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan makan yang lebih baik di tingkat rumah tangga sebagai bagian dari upaya pencegahan masalah gizi anak.
Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan bahwa keberhasilan program tidak hanya tercermin dari capaian angka, tetapi dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. “Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor. Bagi kami, dampak terpenting tidak hanya terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan perilaku berkelanjutan yang terjadi di tingkat keluarga dan komunitas. Melalui kombinasi pemenuhan energi dan protein yang mudah diakses, edukasi keluarga, serta pemberdayaan kader, kami melihat perubahan positif pada pertumbuhan anak sekaligus praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga.”
Program Pendampingan Gizi 2025 berfokus pada upaya pencegahan melalui deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik. Intervensi dilakukan dengan mengombinasikan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi esensial berupa pemberian satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga dan pemantauan rutin pertumbuhan anak. Pendekatan pendampingan keluarga ini memungkinkan intervensi dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan sesuai kebutuhan di lapangan.
Berdampak Signifikan
Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof. Ali Khomsan, menjelaskan bahwa pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten mampu memberikan dampak signifikan. “Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak, serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5%. Ini menegaskan bahwa intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga, jika dilakukan secara konsisten dan terpantau, dapat memberikan dampak nyata. Berat badan stagnan merupakan indikator awal risiko gangguan pertumbuhan, sehingga pendekatan preventif menjadi sangat penting.”
Himmatul Ulya, salah satu dari orang tua balita peserta pendampingan gizi dari Pasuruan, bercerita bahwa putrinya kini semakin sehat. “Awalnya anak kurus, sekarang anak sudah bertambah berat dan tinggi badannya. Anak juga jadi riang,” ungkap Aul.
Pendekatan Edukasi
Gambaran pelaksanaan program pendampingan gizi juga turut dipaparkan langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Faelasufa, S.IP., M.PP. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pendekatan pendampingan dan edukasi dalam intervensi di tingkat desa merupakan kunci penting dalam keberhasilan program.
“Pada program GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) TP PKK tahun kemarin, kami menjadi orang tua asuh bagi 272 anak (di Kabupaten Batang). Kami ukur berat badan mereka sebelum program mulai, kemudian setiap bulan kita juga kerjasama dengan posyandu untuk menarik data berat badan mereka. Alhamdulillah, 98 persen dari anak-anak tersebut berat badannya naik selama kita memberikan intervensi GENTING,” kata Faelasufa.
Satu hal yang saya sangat suka dari program pendampingan gizinya Nestlé adalah Nestlé memberi tahu caranya ke ibu-ibu di desa-desa di Batang. Jadi knowledge gap di desa itu nyata dan yang saya suka adalah Nestlé itu ngajarin, gak cuma ngasih makan, tapi juga ada program pendampingannya untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu di desa bahwa makanan yang bergizi itu gak perlu mahal. Sebelumnya ibu-ibu berpikir bahwa nuget lebih baik dari telur. Padahal telur lebih baik dari nuget,” ungkap Faelasufa.
Editor: Mardiana Makmun
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





