HMSP Rights Issue Senilai Rp 20,76 Triliun
10 Okt 2015 | 07:36 WIB
Sementara itu, Presiden Direktur PT HM Sampoerna Tbk Paul Norman Janelle mengatakan, penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue HM Sampoerna (HMSP) senilai Rp 20,76 triliun menarik minat investor asing. Hal ini seiring kondisi pasar saham yang mulai menguat. “Harga pelaksanaannya sebesar Rp 77.000 per saham, mencerminkan price to earning ratio (PER) hingga 29 kali,” paparnya.
Paul Norman Janelle mengatakan, perseroan mendapatkan respons yang cukup bagus dari para investor, setelah melakukan roadshow ke sejumlah negara. Pihaknya sempat menyambangi Singapura, Hong Kong, dan Amerika Serikat. Di AS, perseroan menyasar investor-investor yang berbasis di Boston, New York, dan San Francisco.
“Investor yang ingin menyerap saham baru kami campuran dari asing dan domestik. Yang bisa saya bilang adalah ada minat yang kuat investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, termasuk di HM Sampoerna,” ujar Paul usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di Jakarta, Jumat (9/10).
Paul mengaku belum mengetahui secara spesifik apakah terdapat investor besar yang berminat menyerap saham baru perseroan. Transaksi itu akan menjadi salah satu penawaran saham terbesar di Asia Tenggara sepanjang tahun ini.
Dia menjelaskan, aksi penerbitan saham baru sebanyak 269 juta unit ini merupakan upaya emiten memenuhi peraturan batas minimal saham yang beredar di publik (free float) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 7,5%.
Perseroan sebenarnya tidak memiliki kebutuhan dana mendesak untuk membangun pabrik baru. Dengan demikian, penggunaan dana sepenuhnya dimasukkan untuk modal kerja beberapa tahun mendatang.
“Seperti bisnis lainnya, kami juga memiliki periode naik dan turun. Ketika kami harus membeli tembakau dan cengkih sebagai bahan baku, dengan rights issue, kami punya sumber pendanaan yang cukup. Karena sudah mengantongi dana yang besar, perseroan tidak memerlukan aksi korporasi lain.,” imbuh Paul.
Setelah rights issue ini, kepemilikan saham Philip Morris Indonesia akan berkurang menjadi 92,5% dari 98,18%. Sedangkan kepemilikan saham public akan bertambah menjadi 7,5% dari 1,86%. HM Sampoerna menunjuk Citigroup Global Markets, Credit Suisse, dan Mandiri Sekuritas sebagai joint book runners dan joint lead underwriter. (ant/pya)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






