Yes! Tren Berlanjut, Saham Teknologi bakal Jadi Katalis Sektor Lain
JAKARTA, investor.id – Tren kenaikan saham-saham teknologi diprediksi berlanjut hingga akhir tahun. Meski sudah menguat ribuan persen sejak awal tahun, saham teknologi masih berpotensi melanjutkan rally. Kenaikan saham-saham teknologi bisa menjadi katalis positif bagi saham-saham sektor lain, seperti sektor kesehatan, industri manufaktur, telekomunikasi, dan otomotif.
Sejumlah saham teknologi juga berpeluang masuk top 10 saham berkapitalisasi besar (big cap) pada kuartal IV-2021. Namun, secara sektoral, saham teknologi masih butuh waktu untuk 'mengudeta' saham-saham konvensional dari puncak market cap. Total market cap saham teknologi (23 emiten) saat ini mencapai Rp 387 triliun atau 5,1% terhadap total market cap bursa senilai Rp 7.644 triliun.
Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan pengamat pasar modal Hendriko Gani, Chief Information Officer (CIO) Bank DBS Wey Fook Hou, Analis Senior CSA Reza Priyambada, Founder Traderindo.com Wahyu Laksono, dan analis RHB Sekuritas Indonesia Michael Wilson Setjoadi. Mereka dihubungi secara terpisah di Jakarta, pekan lalu.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks sektoral saham teknologi tumbuh 736% selama tahun berjalan (year to date/ytd) saat indeks saham sektor lainnya hanya tumbuh beberapa puluh persen, bahkan sebagian masih negatif. Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) hanya naik 4,18% (ytd). Malah, indeks 45 saham paling likuid di bursa (LQ45) minus 5,23%.
Sejumlah saham teknologi melonjak luar biasa. Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) memimpin dengan torehan gain 10.829% (ytd), diikuti saham PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) dengan kenaikan 2.733% dan saham PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX) yang menguat 1.023%. (Lihat tabel)
Saat ini, di jajaran top 10 big cap, saham teknologi nonbank baru diwakili PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dengan market cap Rp 109 triliun per 1 Oktober 2021. Saham DCII berada di peringkat ke-10. Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) telah lebih dulu menjadi wakil saham teknologi di sektor perbankan, dengan market cap Rp 207 triliun di peringkat ke-6.
Sejauh ini top 5 big cap masih dihuni wajah-wajah lama, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di peringkat ke-1 dengan market cap Rp 825 triliun dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) di peringkat ke-2 dengan market cap Rp 586 triliun.
Peringkat selanjutnya berturut-turut adalah PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Astra International Tbk (ASII). Market cap ketiganya masing-masing mencapai Rp 363 triliun, Rp 282 triliun, dan Rp 221 triliun.
Dalam jangka panjang, saham-saham teknologi berpeluang menggusur saham-saham konvensional, seperti terjadi di bursa saham AS. Saat ini, big cap di Wall Street didominasi saham emiten teknologi, seperti Apple US$ 2,3 triliun, Microsoft US$ 2,1 triliun, Google US$ 1,8 triliun, Amzon US$ 1,6 triiun, Facebook US$ 967,1 miliar, Tesla US$ 767,5 miliar, dan Berkshire Hathaway US$ 624,1 miliar.
Katalis Utama
CIO Bank DBS, Wey Fook Hou memperkirakan saham teknologi kembali memimpin perolehan gain pada kuartal IV-2021. Adanya vaksin dan pertumbuhan pendapatan yang prospektif di sektor teknologi seusai pandemi bakal menjadi katalis utama berjayanya saham-saham teknologi.
“Kami percaya saham-saham teknologi siap kembali memimpin. Selain didukung sentimen positif vaksin, saham teknologi akan ditopang oleh pertumbuhan dan prospek pendapatan yang tinggi di ruang teknologi pasca-pandemi,” kata dia.
Wey Fook Hou memperkenalkan sebuah kerangka kerja berlabel innovators, disruptors, enablers, dan adapters (IDEA) untuk memilih jawara teknologi yang mampu melewati disrupsi digital global.
Menurut Wey, terdapat dua karakteristik yang setidaknya perlu diperhatikan. Pertama, jawara teknologi adalah saham-saham yang beroperasi pada segmen pertumbuhan industri dan cukup inovatif untuk mendisrupsi serta mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar.
“Karakteristik selanjutnya yaitu saham yang menampilkan rekam jejak historis dalam melewati beberapa 'kurva S' keuangan melalui operasi bertahun-tahun,” ujar dia.
Di samping itu, kata Wey, belanja modal teknologi global akan menjadi awal dari meningkatnya tren saham-saham teknologi. Itu tercermin pada pandemi Covid-19 yang tidak menggagalkan tren kenaikan belanja modal di antara para produsen peralatan semikonduktor terkemuka di dunia.
“Kami justru melihat lonjakan ketika dunia merangsek ke digitalisasi. Sebab, ini akan menopang permintaan tinggi untuk chip IC (integrated circuit) semikonduktor serta aliran pendapatan baru untuk ekosistem perangkat keras dan perangkat lunak,” ujar Wey.
Belanja Teknologi
Wey Fook Hou yakin tren kenaikan belanja modal teknologi global dan kinerja sektor terkait akan berlanjut, utamanya karena digerakkan oleh belanja pemerintah, sektor kesehatan, otomatisasi industri, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), operator telekomunikasi, dan sektor otomotif yang mengejar perluasan kapasitas.
Dari sisi belanja pemerintah, menurut Wey, pemerintah telah menyadari bahwa mereka kurang berinvestasi di dunia yang cepat berubah menjadi ekonomi digital. Karena itu, pemerintah dan perusahaan akan gencar meningkatkan belanja modal untuk pengembangan infrastruktur teknologi informasi (TI) baru dan migrasi teknologi.
“Tak mengherankan jika pemerintah merencanakan belanja modal dalam jumlah besar untuk sektor teknologi dalam negeri agar negara menjadi lebih mandiri,” tutur dia.
Dia menjelaskan, sektor kesehatan juga bakal menjadi pembelanja besar, sekaligus katalis bagi teknologi hulu (upstream) untuk berkembang ke sektor lain, seperti bioteknologi, diagnostik, peralatan kesehatan, dan ilmu pengetahuan.
“Berdasarkan sampel dari 24 perusahaan kesehatan terkemuka di AS, Uni Eropa, dan Jepang, research and development (RnD) mereka terus meningkat,” ucap Wey.
Dia mengungkapkan, dari sisi otomatisasi industri, pandemi Covid-19 telah mempercepat tren menuju otomatisasi industri manufaktur. Sebab, kini banyak perusahaan yang ingin menggunakan robot otonom untuk mengerjakan operasional perusahaan, baik di gudang maupun di fasilitas-fasilitas logistik.
Wey mengatakan, meningkatnya kebutuhan dan penerapan AI di berbagai bisnis vertikal, seperti otomatisasi, pembelajaran mesin, perawatan kesehatan, manufacturing intelligence, kendaraan otonom, dan keamanan informasi akan semakin menambah permintaan chip yang mendukung AI.
“Tak terhitung, berapa banyak AI yang akan diterapkan di perangkat dan program saat ini, mulai lembaga pemerintah, entitas publik, manajemen lalu lintas, pelacakan, hingga digitalisasi berbasis data,” papar dia.
Belum lagi dari sektor operator telekomunikasi yang baru-baru ini meluncurkan layanan 5G. “Setelah bertahun-tahun irit berinvestasi dan menahan memperluas kapasitas, para operator telekomunikasi akan gencar meningkatkan belanja modal mereka guna peluncuran 5G,” tandas dia.
Mayoritas belanja modal, menurut Wey Fook Hou, bakal dihabiskan untuk membeli peralatan jaringan 5G, chip komunikasi baru, prosesor pita dasar, perangkat frekuensi radio nirkabel, stasiun transmisi basis yang mendukung 5G, komputasi kinerja tinggi, dan transmisi data.
Wey mengemukakan, sektor lainnya yang akan mendorong tren belanja teknologi global adalah sektor otomotif yang mengejar perluasan kapasitas. Ini tergambar pada penjualan unit kendaraan global yang meningkat tajam sebanyak 20 juta unit, khususnya pada kuartal III-2021, setara dengan sebelum pandemi Covid-19. “Ditambah lagi, secara keseluruhan, para produsen mobil tidak memiliki cukup stok,” ujar dia.
Pada saat yang sama, kata dia, proses rantai pasok pengadaan juga diperketat. Para produsen pun tidak cukup memiliki ketersediaan chip dan chipset semikonduktor. Padahal, kedua peralatan tersebut banyak diminati sebagai bagian integral dari mobil.
“Atas pertimbangan tersebut dan tren struktural yang bergerak menuju elektrifikasi kendaraan, kami memperkirakan belanja modal di antara produsen mobil Amerika, Uni Eropa, Jepang, dan Tiongkok akan melonjak lebih dari 50% secara berurutan pada 2021, dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya,” papar dia.
Masuk Big Caps
Pengamat pasar modal, Hendriko Gani mengungkapkan, tren saham teknologi akan cenderung menguat (bullish) menuju big cap pada kuartal IV-2021. “Di pasar modal domestik, beberapa saham teknologi, seperti BUKA dan ARTO telah masuk big cap,” kata dia.
Namun, secara keseluruhan, Hendriko memperkiraan saham-saham teknologi belum akan kembali memimpin top gainers pada kuartal IV-2021 seperti sebelumnya. Soalnya, saat ini tengah terjadi rotasi sektor (sector rotation) dari sebelumnya mengarah ke teknologi, kini menuju saham-saham energi, sejalan dengan melonjaknya harga komoditas energi, seperti batu bara, mineral, dan migas.
Terkait harga saham teknologi yang relatif tinggi dan tidak mencerminkan fundamentalnya, Hendriko menilai persoalan harga cukup relatif. Apalagi jika berkaca pada harga saham emiten teknologi di luar negeri, valuasinya juga hampir sama. Bahkan, di luar negeri masih ada emiten teknologi yang harganya lebih tinggi dari pasar modal domestik.
“Tetapi mengingat emiten teknologi di Indonesia masih tergolong baru dan persaingannya winner takes all, bisa dikatakan bahwa harga saham teknologi di pasar modal domestik menjadi lebih tinggi, begitupun risiko investasi di saham-saham teknologi,” tutur dia.
Memvaluasi saham teknologi, menurut Hendriko, berbeda dengan saham konvensional. Contohnya saham PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) yang menggunakan metode enterprise valuation (EV) atau total processing value (TPV). “Jadi, kalau berkaca pada market global, harga saham-saham emiten teknologi saat ini sudah sesuai,” tandas dia.
Hal senada diungkapkan Analis Senior CSA, Reza Priyambada. Dia menilai keberlanjutan tren bullish saham-saham teknologi, khususnya pada semester IV-2021, akan sangat dipengaruhi oleh sentimen dibanding faktor fundamental. Apalagi saham-saham teknologi bakal cenderung mengedepankan prospek growth.
“Kalau kita lihat, viralnya saham-saham teknologi juga belum lama karena ramai digitalisasi, ditambah adanya pandemi. Padahal, digitalisasi merupakan bagian dari pengembangan sistem yang ada,” tegas dia.
Reza Priyambada mengakui, saham teknologi akan menguasai market cap bursa domestik di masa depan karena aktivitas kehidupan banyak berbasis teknologi. Namun, belum tentu saham teknologi akan kembali memimpin petumbuhan gain, khususnya pada kuartal IV-2021.
Soalnya, pergerakan saham teknologi sangat dipengaruhi risiko persaingan dan seberapa mampu emiten-emiten teknologi mempertahankan pangsa pasar. “Untuk itu perlu dilihat prospek bisnisnya, terutama potensi pertumbuhannya ke depan. Juga lingkungan industri, seperti yang berkaitan dengan kompetisi dan kebijakan di industri tersebut,” papar dia.
Sentimen Global
Di pihak lain, Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengungkapkan, lonjakan harga sebagian besar saham teknologi dipengaruhi oleh menguatnya sentimen global. Hal itu tercermin pada nilai saham perusahaan-perusahaan teknologi multinasional, di antaranya Tesla yang mencapai 15,02%, Amazon 12,98%, dan Apple 12,24%. “Semua sentimen wangi ini memicu fear of missing out (FOMO) para investor,” tandas Wahyu.
Selain itu, menurut Wahyu, kondisi pandemi Covid-19 telah mempercepat adaptasi teknologi digital dan komputasi awan (cloud). Bahkan, para pakar percaya, tren terbangnya saham-saham teknologi akan berlanjut hingga lima tahun ke depan, mengingat efek pandemi betul-betul telah menjadi tatanan normal baru (new normal).
Wahyu Laksono mencontohkan, jatuhnya pasar saham pada 2020 tidak turut dirasakan bursa saham teknologi AS, Nasdaq. Perdagangan saham di Nasdaq justru melonjak 43,6% dan semakin cemerlang pada 2021.
“Jadi, tidak bisa dimungkiri, pada masa-masa yang serba tidak pasti seperti sekarang ini, kinerja saham-saham teknologi, dengan pertumbuhan dua digit, telah membuat invesor terkesan,” ujar dia.
Wahyu Laksono menjelaskan, metode termudah untuk menghitung valuasi saham-saham teknologi adalah melihat pembanding atau benchmark, termasuk nilai saham (value stock), seperti menghitung investasi, pengguna atau user, nilai teknologi, market place, merchant, subscriber, dan lain-lain.
Pendekatan nilai, kata Wahyu, dilakukan dengan membandingkan nilai saham perusahaan dengan nilai saham perusahaan lain sejenis (peer sama). Bisa pula melalui pendekatan pertumbuhan. Caranya yaitu membandingkan nilai pertumbuhan perusahaan dengan pertumbuhan perusahaan lain sejenis. Pendekatan-pendekatan tersebut merupakan cara yang ideal untuk mengukur murah atau mahalnya harga saham teknologi.
Setelah mengetahui valuasi saham teknologi, investor bisa membandingkan pertumbuhan (growth)-nya. Lebih mudah lagi jika perusahaan terkait sudah melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. “Misal valuasinya Rp 100 triliun, terus nilai saham saat IPO Rp 70, berarti masih murah,” ucap dia.
Lebih Efisien
Hal berbeda, menurut Wahyu Laksono, terjadi ketika mengukur valuasi perusahaan konvensional, di mana portofolio investasi, seperti proyeksi laba, market cap, dan utang harus dipertimbangkan. Valuasi perusahan startup cukup memperhitungkan besaran transaksi dan user. “Artinya, perusahaan teknologi lebih minim aset,” tandas dia.
Wahyu mengingatkan, teknologi bersifat disinflasi (disinflationary) yang memungkinkannya menjadi lebih efisien, baik dalam kapital, sumber daya, produksi, maupun distribusi. Efisiensi dalam market itulah yang akhirnya akan berpengaruh pada harga saham-saham teknologi yang cenderung murah dan kompetitif.
Dia menambahkan, hal menarik lain dari perusahaan-perusahaan teknologi adalah arus kas. Arus kas sangat penting karena nilai perusahaan tidak hanya dipandang dari berapa banyak aset, tetapi juga dari seberapa besar potensi perusahaan mendulang laba di masa mendatang.
Dia mengemukakan, perusahaan seperti Bukalapak, Gojek, Bank Jago, dan GoTo merupakan perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat bernilai karena arus kas mereka mengalir deras, didukung digital yang bersifat disinflasi, yang tidak dimiliki perusahaan konvensional.
“Jujur saja, cashflow, value investing, dan sales, semua ada di perusahaan-perusahaan startup. Roh mereka software atau aplikasi yang pastinya bernilai sebanding dengan jumlah user-nya. Tidak apple to apple jika dibandingkan dengan perusahaan konvensional,” tegas dia.
Dengan demikian, harga-harga saham teknologi saat ini sudah cukup wajar. Ditambah lagi, jumlah penduduk Indonesia yang besar merupakan aset bagi perusahaan-perusahaan teknologi nasional. “Kita sudah banyak potential user-nya, nggak perlu global,” ujar dia.
Masih Wajar
Analis RHB Sekuritas Indonesia, Michael Wilson Setjoadi mengatakan, saat ini likuiditas pasar sedang beralih ke saham teknologi. Dia pun menilai kenaikan harga saham teknologi belakangan ini masih dalam kategori wajar.
”Wajar untuk beberapa pilihan saham karena ada fundamental growth story yang menarik. Ada beberapa saham yang ikut naik di sektor teknologi, tetapi tidak didukung fundamental, ini yang bisa menjadi risiko,” tutur dia.
Menurut Michael, memvaluasi saham teknologi tergantung sektornya. Sebagian besar analis menggunakan metode enterprise value (EV)/subscriber atau user, bisa juga dengan EV/revenue. Itu karena jumlah aktif pengguna dan pendapatan merupakan hal utama.
“Adapun sentimen yang bisa memengaruhi pergerakan saham teknologi berasal dari dari bottom up growth. Sektor teknologi sangat luas, masing-masing sektor atau perusahaan memiliki driver atau katalis pertumbuhan yang berbeda-beda,” ucap dia.
Michael Wilson merekomendasikan beberapa saham digital dan yang terkait dengan ekosistem digital, di antaranya PT Bank Arto Tbk (ARTO), PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), PT Multipolar Tbk (MLPL), dan PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI). (lov/az)
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

