Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik Indocement. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pabrik Indocement. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Indocement Hadapi Kenaikan Harga Batu Bara

Kamis, 2 Desember 2021 | 09:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) kembali menghadapi tantangan berat menjelang akhir tahun ini akibat peningkatan beban produksi. Kenaikan terbesar beban produksi datang dari kenaikan harga batu bara. Sedangkan besarnya kas internal dan posisi tanpa utang tetap menjadi katalis positif bagi perseroan.

Peningkatan biaya produksi di tengah lambatnya pemulihan penjualan semen mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi turun target pertumbuhan kinerja keuangan Indocement sepanjang 2021- 2022. Revisi turun tersebut mempertimbangkan peningkatan beban produksi yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan rata-rata harga jual semen perseroan tahun ini.

Target laba bersih perseroan tahun ini dipangkas dari Rp 1,97 triliun menjadi Rp 1,62 triliun. Pemangkasan tersebut sejalan dengan penurunan target pendapatan dari Rp 15,33 triliun menjadi Rp 14,83 triliun.

Kompleks Pabrik Tarjun milik Indocement
Kompleks Pabrik Tarjun milik Indocement

Volume penjualan perseroan diperkirakan mencapai 17,7 juta ton dengan kenaikan rata-rata harga jual semen kemungkinan hanya 1,2% dibandingkan estimasi semula 2% pada 2021.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, Indocement telah menaikkan harga jual semen sebesar 5% pada Oktober, sehingga kenaikan rata-rata harga jual semen perseroan tahun ini berkisar 1,2%.

Rendahnya kenaikan dipengaruhi oleh tingginya tingkat persaingan, khususnya dari pabrikan semen kelas bawah.

“Kenaikan harga jual tersebut tidak sebanding dengaan kenaikan harga pembelian batu bara yang telah mencapai 77% hingga September 2021, sehingga berimplikasi terhadap kenaikan biaya batu bara sebesar 8% per ton,” tulis Maria dalam risetnya.

Menurut dia, biaya manufaktur semen perseroan telah meningkat sebanyak 7,4% sepanjang Januari-September 2021, seiring dengan kenaikan biaya bahan bakar dan listrik setelah terjadi lonjakan harga batu bara.

Harga saham INTP dalam satu dekade terakhir
Harga saham INTP dalam satu dekade terakhir

Sedangkan biaya bahan bakar dan energi merefleksikan 45,4% dari total beban manufaktur. Dengan asumsi harga batu bara yang melanjutkan peningkatan, biaya pengadaan batu bara perseroan tahun ini akan berada di kisaran US$ 66 per ton.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan biaya pengadaan hingga 19,7% tahun ini.

“Berdasarkan perhitungan kami, setiap penurunan biaya pembelian batu bara sebesar 10%, laba bersih perseroan bakal naik 19,1% dan sebaliknya,” terangnya.

Sementara itu, analis CLSA Sekuritas Yusuf Ade Winoto dan Wirandi Ng mengungkapkan, peningkatan biaya produksi masih dapat dikendalikan oleh Indocement Kenaikan biaya produksi, khususnya bahan bakar, memang telah menekan margin keuntungan perseroan pada kuartal III-2021.

Sedangkan program efisiensi biaya yang terus digulirkan diperkirakan baru mulai membuahkan hasil terhadap kinerja perseroan pada 2022.

Indocement mencatatkan peningkatan biaya produksi sebesar 4,5% hingga September 2021, yang didorong oleh peningkatan volume penjualan dan kenaikan harga pembelian batu bara. Kenaikan beban tersebut tergolong masih terkendali karena didukung oleh upaya perseroan menerapkan efisiensi biaya melalui penggunaan bahan bakar alternatif, seperti batu bara rendah kalori dan memangkas beban overhead.

Selain faktor tersebut, Indocement didukung oleh posisi neraca keuangan yang kuat dengan kas mencapai Rp 6,8 triliun dan tanpa utang.

Ringkasan kinerja keuangan Indocement
Ringkasan kinerja keuangan Indocement

Sedangkan belanja modal diperkirakan mencapai Rp 1,1 triliun tahun ini dengan realisasi hingga kini baru mencapai Rp 317 miliar.

“Manajemen Indocement menargetkan penggunaan bahan bakar alternatif setidaknya 25% dari total kebutuhan bahan bakar hingga tahun 2025 dibandingkan posisi saat ini yang baru mencapai 11,8%. Perseroan telah membelanjakan dana senilai Rp 1 triliun untuk mendukung program tersebut. Hal ini bisa menjadi faktor positif bagi perseroan,” tulis Yusuf dan Wirandi dalam risetnya.

Perseroan juga melanjutkan program pengurangan emisi karbon, dimana menunjukkan progres yang baik. Perseroan memperkirakan pengurangan emisi berlanjut dengan target hanya 580 kg CO2 per ton semen pada 2025 dibandingkan akhir September 2021 606 kg CO2 per ton. Perseroan juga berkomitmen untuk menekan emisi debu dengan memasang kantong filter.

Berbagai faktor tersebut mendorong CLSA Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INTP dengan target harga Rp 13.800. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun 2022 sekitar 21 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan peluang peningkatan kinerja keuangan perseroan ke depan.

CLSA Sekuritas memperkirakan pendapatan Indocement tahun ini naik dari Rp 14,18 triliun menjadi Rp 15,62 triliun. Sedangkan laba bersih diproyeksikan turun menjadi Rp 1,69 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 1,8 triliun.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN